Laporkan Masalah

Perbedaan hasil akhir penanganan fraktur tungkai bawah distalis dengan imobilisasi GIP dibandingkan dengan Orif (Plate and Screw)

PINEM, Sersanta Bakti, Prof.dr. H. Armis, SpB,SpOT.,FICS

2006 | Tesis | PPDS I Ilmu Bedah

Pendahuluan: Penerangan fraktur tungkai bawah biasanya dilakukan dengan imobilisasi gip atau ORIF. Imobilisasi bertujuan untuk mencegah pergeseran susunan tulang. Penanganan fraktur tungkai bawah dengan ORIF menurut penelitian Hooper et.al.(1991) menunjukan hasil yang lebih baik, yaitu penyambungan dapat lebih cepat, sedikit terjadi malunion dan dapat kembali bekerja lebih cepat dibandingkan dengan penanganan tanpa ORIF. Bone et.al.(1997) menyebutkan bahwa penanganan fraktur tungkai bawah tertutup dengan ORIF memberikan hasil fungsional yang lebih baik daripada pemakaian gip. McComack (2000) menyebutkan bahwa sebagian besar fraktur tungkai bawah distalis disertasi dengan pergeseran persendian, sehingga rekonstruksi tungkai bawah distalis paling baik dilakukan dengan operasi. Namun sebelumnya perlu juga dipertimbangkan kondisi jaringan lunak serta kondisi penderita untuk menentukan pilihan tindakan yang akan dilakukan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observational dengan pendekatan cross sectional study, berdasarkanpada data sekunder dari status pasien untuk mengetahui perbedaan hasil akhir penanganan pasien fraktur tungkai bawah distalis dengan menggunakan gip danORIF. Hasil: Tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada hasil akhir tindakan gip antara kelompok umur20-35 tahun dan 36-50 tahun, dan diperoleh nilai p = 0,476 dan p = 0,358. Terdapat perbedaan yang bermakna pada hasil akhir tindakan gip antara laki-laki dan perempuan, dan diperoleh nilai p = 0,029. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada hasil akhir tindakan gip antara laki-laki dan perempuan, dan , dan diperoleh nilai p = 0,282 . Terdapat perbedaan yang bermakna pada hasil akhir gip dengan ORIF, dan diperoleh nilai p = 0,020. Terdapat perbedaan yang bermakna pad ahasil akhir tindakan gip dan ORIF pada pasien fraktur tungkai bawah distalis terbuka, dansetelah diuji dengan uji X2 diperoleh nilai p = 0,030. Dan tidak terdapat perbedaan yang bermakna hasil akhir tindakan gip dan ORIF pada pasien fraktur tungkai bawah distalis tertutup, dan setelah uji dengan uji X2 diperoleh nilai p = 0,455. Simpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna pada hasil akhir tindakan gip dengan ORIF, dan diperoleh nilai p =0,020. Hal ini menunjukkan terjadinya malunion pada tingkat penanganan dengan imobilisasi gip lebih besar dibandingkan dengan ORIF.

Available in Fulltext

Kata Kunci : Imobilisasi GIP, Fraktur Tungkai Bawah Distalis, Lower distal extremity facture, cast immobilisation and ORIF, Final result.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.