Laporkan Masalah

Pengaruh preeklamsia berat pada kehamilan preterm (28-34 minggu) terhadap penyakit membran hialin

KUSUMANINGRUM, Ida, dr. H. Zain Alkaff, SpOG(K)

2006 | Tesis | PPDS I Obstetri dan Ginekologi

Latar belakang: Angka kematian bayi merupakan salah satu indikator derajat kesehatan masyarakat. Angka kematian bayi di Indonesia adalah 35 per1000 kelahiran hidup tahun 2005, masih tinggi di antara negara Asia Tenggara. Penyakit membran hialin merupakan penyebab kematian neonatus kedua, yang sering dihubungkan dengan maturitas paru janin. Kematian neonatus akibat penyakit membran hialin adalah 1% dari seluruh persalinan. Maturitas paru janin berhubungan dengan surfaktan, yang kadarnya dipengaruhi oleh kadar glukokortikoid dan hipoksia yang terjadi pada preeklamsia berat terhadap kejadian penyakit membran hilain. Tujuan: Mengetahui pengaruh preeklamsia berat pada kehamilan preterm (28-34 minggu) terhadap penyakit membran hialin. Rancangan penelitian: Kajian hystorical cohort Bahan dan cara: Subyek penelitian adalah ibu hamil preterm 28-34 minggu yang melahirkan di RS.Sardjito Jogjakarta dari tahun 1999 sampai dengan 2005 yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu preeklamsia berat dan tanpa preeklamsia berat. Luaran yang diukur adalah terjadinya penyakit membran hialin yang ditegakkan berdasarkan gejala klinis, tes kocok dan foto dada. Data diproses dengan komputer dan analisis statistik yang digunakan ialah Chi square dan Logistic regression. Hasil: Komparabilitas antar kedua kelompok penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok preeklamsia berat dan bukan preeklamsia berat dalam umur kehamilan dan cara persalinan (p>0,05). Terdapat perbedaan yang bermakna pada kedua kelompok dalam janin tumbuh lambat, ketuban pecah dini dan pemberian deksametason prenatal (p<0,05). Risiko kejadian penyakit membran hialin lebih rendah pada kelompok preeklamsia berat, umur kehamilan >32minggu, pemberian deksametason prenatal, adanya ketuban pecah dini (p<0,05). Pada kelompok tanpa preeklamsia berat kejadian penyakit membran hialin 1,78 kali dibandingkan dengan yang preeklamsia berat (95%CI0,39-0,77). Pengaruh umur kehamilan <32minggu adalah 2,19 kali terhadap kejadian penyakit membran hialin (95%CI1,47-3,057). Bila tanpa pemberian deksametason prenatal risiko terjadinya penyakit membran hialin 1,80 kali dibandingkan dengan pemberian deksametason (95%CI0,22-0,69). Pengaruh tidak adanya ketuban pecah dini terhadap kejadian penyakit membran hialin 0,67 kali dibandingkan dengan adanya ketuban pecah dini (95%CI0,50-0,89). Janin tumbuh lambat dan cara persalinan (seksiosesarea dan persalinan vaginal) tidak mempengaruhi kejadian penyakit membran hialin (p>0,05). Setelah mengendalikan faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit membran hialin terbukti bahwa secara statistik preeklamsia berat, umur kehamilan, janin tumbuh lambat, pemberian deksametason prenatal dan ketuban pecah dini berpengaruh terhadap kejadian penyakit membran hialin (p<0,05) Simpulan: Preeklamsia berat menurunkan kejadian penyakit membran hialin. Faktor risiko lain seperti pemberian deksametason prenatal, umur kehamilan >32 minggu, adanya ketuban pecah dini, tidak adanya janin tumbuh lambat menurunkan kejadian penyakit membran hialin.

Background: Infant mortality rate is one of the indicators degree of the population health. In 2005 infant mortality rate in Indonesian 35 per1000 live births, still higher rates in Southeast Asian. Hyaline membrane disease (HMD) is the second causes of neonatal death, which is corelation with fetal lung maturity. Neonatal death is caused by HMD about 1% in the all of delivery. Fetal lung maturity is associated with surfactan, which is influenced by glucocorticoid level and hipoksia due to severe preeclampsia. Objectives: To study influence of the severe preeclampsia in the pretrem pregnancy (28-34 weeks of gestational age) to hyaline membrane disease (HMD). Study design: Hystorical cohort Materials and methods: Subjecs of study are preterm pregnant women (28-34 weeks of gestational age) who were born in Dr. Sardjito hospital from 1999 to 2005, which is divided two groups, with severe preeclamptic and nonpreeclamptic control subjects. The outcomes are hyaline membrane disease (HMD), where is based on the clinical symptoms, shake test and chest x-ray. The data was procesed by Chi square dan Logistic regression. Results: The comparability both of the groups severe preeclamptic and nonpreeclamptic, there was not statically significant in gestational age and type of delivery (p>0,05). In other hand intrauterine growth retardation (IUGR), premature rupture of the membrane (PROM), dexametason prenatal were statistically significant (p<0,05). Severe preeclampsia, beyond 32 weeks of gestation, dexametason prenatal and premature rupture of the membrane (PROM) were associated with an decrease risk of hyaline membrane disease (HMD). The incidence of HMD was decreased in the severe preeclamptic group (RR1,78;95%CI1,29-2,51). The baby was delivered <32minggu increased risk of HMD (RR2,19;95%CI1,47-3,057). The incidenced of HMD was increased in baby was delivered without dexametason prenatal (RR1,80; 95%CI0,22-0,69).The influence of non-PROM was decreased for HMD (RR0,67; 95%CI0,50-0,89). IUGR and type of delivery was not statistically significant for HMD. When being controlled for confounding factors and analyzed by multivariate severe preeclampsia, week of gestation, IUGR, dexametason prenatal and PROM were influenced for HMD. Conclusion: The influence of severe preeclampsia was decreased for HMD. The risk factor dexametason prenatal, beyond 32 weeks of gestation, premature rupture of the membrane and no IUGR was decreased for HMD.

Kata Kunci : Preeklamsia Berat, Membran Hialin, severe preeclampsia, preterm, hyaline membrane disease (HMD).


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.