Laporkan Masalah

Perbandingan pengekleman tali pusat segera dan lambat dengan terjadinya polisitemia pada neonatus

WAHYANA, Eka Budi, Prof.Dr. HM. Sulchan Sofoewan, PhD.,SpOG(K)

2006 | Tesis | PPDS I Obstetri dan Ginekologi

Latar belakang: Waktu melakukan pengekleman tali pusat masih merupakan kontroversi terhadap terjadinya polisitemia. Asuhan persalinan normal merekomendasikan dilakukan pengekleman tali pusat segera. Pada kenyataannya masih ada yang melakukan pengekleman tali pusat lambat, meskipun pengekleman tali pusat lambat menghasilkan peningkatan hematokrit, hiperviskositas dan vasodilatasi untuk mengakomodasi volume darah yang besar (hipervolemia). Tujuan: Membandingkan efek pengekleman tali pusat segera (kurang dari 15 detik) dan lambat (setelah bayi menangis atau setelah 3 menit) terhadap kejadian polisitemia dan membandingkan nilai Apgar. Rancangan penelitian: Uji klinis secara random. Tempat dan waktu: Penelitian dilakukan di RS. Dr. Sardjito dan rumah sakit mitra pendidikan Obstetri dan Ginekologi FK-UGM, sejak tanggal 1 Agustus 2005 sampai dengan 30 Desember 2005. Bahan dan cara: Subjek penelitian adalah 210 bayi yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Subjek tersebut dikelompokkan dalam kelompok pengekleman tali pusat lambat dan segera masing-masing 105. Dilakukan pengambilan sampel darah vena pada bayi berumur 3 jam dan diperiksa hemoglobin dan hematokrit. Hasil yang diperoleh dilakukan uji komparabilitas, analisis bivariat dan analisis multivariat dengan alat bantu program spss. Hasil: Hasil uji komparabilitas memperlihatkan bahwa data terdistribusi secara merata di kedua kelompok atau homogen. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna pada kedua kelompok terhadap kejadian polisitemia (p = 0,33). Hasil perhitungan statistik menunjukkan peningkatan kejadian polisitemia pada kelompok pengekleman tali pusat lambat sebesar 1,6 kali lipat dibandingkan pengekleman tali pusat segera. Penelitian ini menemukan polisitemia sebanyak 8 (7,62%) bayi pada pengekleman tali pusat lambat dan 5 (4,76%) pada pengekleman tali pusat segera. Kejadian polisitemia secara keseluruhan adalah 13 (12,38%) bayi. Hasil penelitian ini menemukan kejadian asfiksia pada menit kelima sebanyak 2 (1,9%) bayi pada pengekleman tali pusat lambat dan 12 (11,4%) pada pengekleman tali pusat segera. Asfiksia neonatus menit kelima pada pengekleman tali pusat lambat sebesar 0,17 kali (p = 0,006). Kasus anemia neonatus pada penelitian ini sebanyak 17 (16,2). Pengekleman tali pusat lambat menyebabkan anemia neonatus sebesar 0,13 kali (p = 0,01; 95%CL = 0,04-0,49) dibanding pengekleman segera. Simpulan: Pengekleman tali pusat lambat akan menyebabkan terjadi polisitemia sebesar 1,6 kali dibandingkan dengan pengekleman tali pusat segera, walaupun secara statistik tidak bermakna. Pengekleman tali pusat lambat secara bermakna menurunkan kejadian asfiksia pada menit ke lima sebesar 6 kali.

Background: Time to clamp the umbilical cord is still a debate to the development of polycythemia. The normal delivery care recommended to clamp the umbilical cord immediately. Late cord clamping may increase hematocrit, hyperviscosity and vasodilatation to accommodate a large amount of blood volume (hypervolumia). In fact, there are still many attendant deliveries clamp the umbilical cord lately. Objectives: To compare early (less than 15 seconds) and late (after baby cries at the first time or after 3 minutes) umbilical cord clamping to the occurrence of polycythemia and Apgar score value. Material and method: Single blind randomized controlled trial was used in this study. Two hundred and ten respondents joined this study and divided in 2 groups. Late umbilical cord clamping consisted of 105 respondents and early cord clamping 105 respondents. After the baby was delivered at first 3 hours, the blood from baby cubiti vein was taken and sent to laboratory (haemoglobin and hematocrit levels). Chi-square, t test and multivariate logistic regression were statistical analysis used in this study. Results: Both groups in this study were comparable. The incidens of polisitemia in the late group was 8 (7.62%) cases compared to 5 (4.76%) cases in the early group (RR = 1.60; 95% CL = 0.32-7.99) which was not statistically different. Late umbilical cord clamping decreased the number of neonate the asphyxia fifth minutes 6 times compared to early cord clamping (11.4% vs 1.9%). Late umbilical cord clamping decreased the number of neonate anemias 7.69 times compared to early cord clamping (14.3% vs 1.9%). Conclusion: Late umbilical cord clamping increased the occurrence of polycythemia 1.6 times compared to early cord clamp, but it was not statistically different. Late umbilical cord clamping decreased the number of fifth minutes asphyxia 6 times compared to early cord clamp

Kata Kunci : Polisitemia,Pengekleman Tali Pusat, Cord clamping, polycythemia, neonate. xii


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.