Laporkan Masalah

Pengaruh penggunaan limbah karbon sebagai bahan tambah pada campuran HRS-WC

HERUPRIAWAN, Aldino, Dr.Ir. Latif udi Suparma, M.Sc

2006 | Tesis | Magister Sistem dan Teknik Transportasi

Dalam beberapa kasus yang terjadi, banyak konstruksi jalan yang mengalami masa kerusakan dalam masa pelayanan tertentu, padahal tujuan akhir adalah tersedianya jalan dengan standar baik sesuai dengan fungsinya.Untuk mencapai tujuan ini, salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan umur pelayanan adalah dengan meningkatkan fungsi aspal sebagai bahan pengikat dengan menggunakan bahan tambah/additive. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh penggunaan limbah karbon sebagai bahan tambah pada campuran HRS-WC, disamping limbah karbon yang berasal dari baterai kering belum termanfaatkan dengan baik. Penelitian ini dilakukan dengan %, 0,3% dan 0,4% dengan agregat kasar (CA) 39%, halus (FA) 52%, dan 9% filler, karbon ditambahkan setelah agregat dan aspal dicampur hal ini dilakukan berdasarkan penelitian memberikan limbah karbon yang berasal dari baterai kering sebagai bahan tambah pada campuran HRS-WC yang sesuai dengan spesifikasi Depkimpraswil 2002. Penelitian dilakukan dengan membuat 105 benda uji dengan variasi limbah karbon 0%, 0,1%, 0,2pendahuluan. Dengan Metode Marshall ditentukan kadar aspal optimum pada masing-masing variasi limbah karbon. Benda uji pada kadar aspal optimum selanjutnya direndam selama 1/2 jam dan 24 jam. Setelah perendaman dilakukan pengujian Marshall untuk mengetahui nilai stabilitas dan nilai Marshall Quotient (MQ) serta Indeks Kekuatan Sisa (IKS). Hasil penelitian menunjukkan kadar aspal optimum benda uji variasi limbah karbon 0%, 0,1%, 0,2%, 0,3% dan 0,4% berturut-turut adalah 6,5%, 6,4%, 6,3%, 6,2% dan 6,3%. Pada perendaman standar (1/2 jam), benda uji variasi limbah karbon 0%, 0,1%, 0,2%, 0,3% dan 0,4% berturut-turut memiliki nilai stabilitas 1833 kg, 1945 kg, 1837 kg, 1730 kg dan 1753 kg, pada perendaman 24 jam nilai stabilitas berturut-turut adalah 1609 kg, 1716 kg, 1634 kg, 1567 kg dan 1796 kg. Penambahan limbah karbon didalam campuran dapat mengurangi nilai flow (kelelahan) sebesar 17% sehingga Marshall Quotient (MQ) lebih optimal. Indeks Kekuatan Sisa (IKS) yang paling tinggi pada benda uji kadar additive limbah karbon 0,4% dengan kadar aspal optimum 6,3% yaitu 102,5%, dimana benda uji variasi limbah karbon 0%, 0,1%, 0,2% dan 0,3% berturut-turut memiliki nilai IKS sebesar 87,8%, 88,2%, 88,9% dan 90,6%. Hal ini menunjukkan bahwa kadar additive limbah karbon yang paling optimal pada 0,4% dengan kadar aspal optimum 6,3% karena campuran tidak mudah mengalami cracking dan deformasi oleh pembebanan lalu lintas, serta memiliki durabilitas yang tinggi, selain itu penambahan limbah karbon didalam campuran dapat mengurangi kadar aspal optimum yang dibutuhkan.

In some cases, there are many road constructions which are damaged in certain service life, though the goal is to provide roads in a good standard along with their functions. To achieve this objective, one of the efforts to increase the service life is by increasing the function of the asphalt as the binding material by utilizing an additive materials. This research was conducted to explore the effects of utilizing carbonate waste as an additive material to HRS-WC mixture, despite the carbonate waste of the dried batteries is not used well yet. This research was conducted by introduction carbonate waste of the dried batteries as the additive material to HRS-WC mix, according to the 2002 Depkimpraswil specification. This research was performed by manufacturing 105 specimens with 0%, 0.1%, 0.2%, 0.3%, and 0.4% of carbonate waste contents variation within 39% of Coarse Aggregate (CA), 52% of Fine Aggregate (FA), and 9% of filler, The carbonate was added after the aggregate and asphalt were mixed, referring to the former researches. Using the Marshall Method, the optimum asphalt content of each carbonate waste variation was determined. Further tests was generated based on the optimum asphalt contents of each variation in accordance to the Marshall Immersion test for a half hour and 24 hours at 60º C. Subsequently the Marshall stability, flow, MQ value and Retained Marshall Stability was obtained with this test. The research result shows the optimum asphalt content within 0%, 0.1%, 0.2%, 0.3%, and 0.4% of carbonate waste variation specimens were 6.5%, 6.4%, 6.3%, 6.2%, and 6.3% respectively. At the standard immersion (30 minutes, 60º C), carbonate waste of variation 0%, 0.1%, 0.2%, 0.3%, and 0.4% specimens had the stability value of 1,833 kgs, 1,945 kgs, 1,837 kgs, 1,730 kgs, and 1,753 kgs respectively, further more in the 24-hours-immersion the stability value were 1,609 kgs, 1,716 kgs, 1,634 kgs, 1,567 kgs, and 1,796 kgs respectively. The addition of carbonate waste into the mix decreased 17% of the flow value, affected to the increasing the MQ value. The highest Retained Marshall Stability within 0,4% carbonate waste additive content specimen and 6.3% of optimum asphalt content was 102,5%, of which the carbonate waste variation of 0%, 0.1%, 0.2%, and 0.3% specimens were 87,8%, 88,2%, 88,9%, and 90,6% respectively. It shows that the optimum additive content of the carbonate waste was 0.4% within 6.3% of the optimum asphalt content, since the mix did not get any crackings and deformation due to the traffic load easily, and had a high durability, in spite of the adding the carbonate waste into the mix could decreased the optimum asphalt content.

Kata Kunci : Beton Aspal,Limbah Karbon,HRS,WC, HRS-WC, carbonate waste, dried batteries, Marshall, RMS


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.