Simulasi Area Licensing di daerah perkotaan :: Kasus Kota Yogyakarta
SIMANJUNTAK, Intan Julianti, Dr.Techn.Ir. Danang Parikesit, M.Sc.
2005 | Tesis | Magister Sistem dan Teknik TransportasiFenomena kemacetan di wilayah perkotaan sering tidak disadari oleh pengguna jalan bahwa kemacetan tersebut adalah suatu kerugian atas biaya (travel cost) dimana selanjutnya akan menimbulkan dampak kerusakan lingkungan dan dampak psikologis. Upaya penanganan kemacetan dengan menggunakan pendekatan supply cenderung dirasa kurang efektif karena mendorong keinginan untuk melakukan perjalanan sehingga hanya menambah luasan dan lokasi kemacetan. Pendekatan yang dapat dilakukan melalui penerapan Transport Demand Management berupa pembatasan lalulintas di suatu area tertentu untuk merasionalisasi penggunaan kendaraan pribadi yang masuk ke kawasan pusat kota. Penerapan biaya kemacetan akan mengurangi lalulintas menerus dan terjadi peralihan lintasan perjalanan ke rute lainnya dengan kepadatan rendah. Fokus penelitian adalah congestion charging dimana tidak memasukkan pertimbangan bentuk demand management yang lain. Metoda yang digunakan dengan mengestimasi biaya dan manfaat berdasarkan perbandingan antara kondisi dengan dan tanpa penerapan biaya kemacetan. Simulasi penerapan biaya kemacetan dengan pengembangan skenario area licensing di kawasan kota Yogyakarta menggunakan bantuan piranti lunak Tranplan (Transportation Planning) versi 7.2. Untuk keperluan simulasi, dibutuhkan data pembangunan jaringan jalan dan pembabanan lalulintas dengan memasukkan analisis biaya operasi kendaraan, biaya waktu perjalanan dan biaya polusi. Penerapan biaya kemacetan pada berbagai skenario menunjukkan bahwa terdapat penurunan demand yang masuk ke kawasan area licensing. Hasil penelitian ini diharapkan akan diperoleh lokasi dan besaran biaya kemacetan yang optimal (manfaat terbesar) dari tiap skenario yang dibuat sehingga penerapan biaya kemacetan ini dapat mereduksi jumlah kendaraan pribadi dan memperbaiki kualitas lingkungan. Skenario terbaik dengan manfaat ekonomi terbesar dicapai pada area licensing IV dengan besaran biaya Rp 1.000,00 (batas kordon di Jl. Sudirman, HOS Cokroaminoto, MT. Haryono, Letjen Suprapto) sebesar 12.179.935,00 per jam, demand berkurang 11,46% dan kecepatan meningkat 20,35%. Secara total jaringan akan menghasilkan manfaat ekonomi terbesar pada skenario Rp 2.000,00 pada kawasan area licensing IV dengan manfaat sebesar Rp 22.011.220.303,00 per tahun, penghematan konsumsi bahan bakar pada jam analisis sebesar 1.847.400 liter atau setara dengan Rp 4.433.759.950,00. Penelitian dapat dikembangkan dengan mengestimasi dampak dari analisis perpindahan moda dengan melakukan perbaikan angkutan umum sehingga dapat menjadi alternatif moda bagi kelompok yang dirugikan. Metoda ini dapat menjadi pilihan strategi kebijakan pembangunan transportasi perkotaan untuk mengurangi kemacetan, mengembangkan alternatif moda transport dan meningkatkan kapasitas jaringan.
Congestion phenomenon in urban area is often not realized as a loss of travel cost user, causes environmental damage and has psychological impacts. To overcome the problem using supply approach tends to be less effective because it generates desire to travel and thus creates a widespread traffic jam. The acceptable approach is by developing Transport Demand Management in the form of traffic restraint at the certain area to rationalize peak-period private car demand into city centre. Applying congestion charging will reduce through traffic and diverts it to less congested routes. The focus of research was to investigate the impact of congestion charging through area licensing, it excludes consideration of alternative means of demand management and other approaches to reducing congestion. The method estimates economic benefit and cost based on comparison between do-nothing and do-something scenario. It develops area licensing simulation at city centre of Yogyakarta by using Tranplan (Transportation Planning) software version 7.2. It requires network and traffic assignment exercise incorporating vehicle operating cost, time cost and pollution cost. Applying area licensing schemes using on various scenario at the city centre indicate a reduction of private car demand and divert on of existing traffic to use the loop system around area based charging. The best scenario with the highest economic benefit is reached at scenario IV with level of charge of Rp 1.000,00 (cordon boundary in Sudirman, HOS Cokroaminoto, MT. Haryono and Letjen Suprapto street) equal to Rp 12.179.935,- per hour. With the proposed scenario, the demand decreases by 11,46% and speed increases by 20,35%. Analysis of total network yield the highest economic benefit at scenario IV at congestion charge level of Rp 2.000,- with a total of Rp 22 billion per year benefit, annual fuel consumption savings is 1.847.400 litre of gasoline or equivalent to Rp 4,4 billion with the current fuel price. Future research is suggested to measure impacts of mode choice which involve public transport improvements instead of to offset the overall disbenefits to travellers of congestion charging. The method can be considered as a strategy of urban transport development to reduce congestion, promote alternative transportation modes, and to increase network capacity.
Kata Kunci : Kemacetan Lalu Lintas,Transport Demand Management,Pembatasan Kendaraan, transport demand management, congestion pricing, area licensing, Tranplan