Laporkan Masalah

Faktor yang mempengaruhi perilaku pengemudi sepeda motor terhadap pelanggaran lalulintas dan dampaknya terhadap kinerja sistem simpang ber-apill di Yogyakarta

UDAIDILLAH, Dr.Ir. Siti Malkhamah, M.Sc

2006 | Tesis | Magister Sistem dan Teknik Transportasi

Pelanggaran lalulintas di Yogyakarta terus meningkat tiap tahunnya, posisi tahun 2004 mencapai 64.984 kasus, 59.100 kasus diantaranya divonis pengadilan dengan denda mencapai Rp.611.646.000,-. Pelanggaran tersebut 39,74% disumbangkan oleh pengemudi yang memiliki SIM C, 7,12% disumbangkan oleh pengengemudi yang memiliki SIM lainnya dan 53,14% disumbangkan oleh pengemudi yang tidak memiliki SIM (Satlantas Polda D.I.Y, 2005). Perilaku pengemudi terutama pengemudi sepada motor sudah sangat parah seperti menambah kecepatan saat lampu kuning dan bahkan menerobos lampu merah, antri lampu merah dilajur yang salah, zig-zak dalam antrian, keluar dari antrian saat lampu hijau serta kurang beretika dalam berlalulintas seperti lebih mementingkan diri sendiri dan bahkan merampas hak sesama pengguna jalan lainnya, percaya diri yang berlebihan dan nekat, perilaku yang demikian sangat bertolak belakang dengan icon Yogyakarta sebagai kota pendidikan, budaya yang santun, religius dan toleran. Penelitian ini dilakukan pada kaki utara simpang MM-UGM Yogyakarta dengan teknik wawancara terpimpin terhadap 91 responden acak dari populasi pengemudi sepeda motor yang melanggar lalulintas saat lampu merah dan teknik survey terhadap kinerja simpang. Tahapan analisa adalah pengujian alat ukur variabel, pengujian persyaratan analisa regresi dan uji hipotesa dengan software SPSS V.11,5. Analisa kebutuhan waktu siklus, panjang antrian, hambatan dan dampak pelanggaran terhadap kinerja simpang dengan software Microsoft Excel dan KAJI. Tujuannya untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi perilaku pengemudi sepeda motor terhadap pelanggaran lalulintas dan dampaknya terhadap kinerja simpang ber- APILL (Alat Pemberi Isyarat Lalulintas). Hasil analisa hubungan kausalitas antara faktor mudahnya prosedur perolehan surat izin mengemudi (X1), rendahnya kemampuan pengemudi (X2), rendahnya kepribadian pengemudi (X3), lemahnya penegakan hukum (X4) dan buruknya kinerja kaki simpang (X5) secara simultan 75,34% mempengaruhi pengemudi sepeda motor untuk melakukan pelanggaran lalulintas (Y1) di simpang ber-APILL. Nilai pelanggaran (Y1) sebesar 5,955 dapat diperkecil dengan pendekatan sosiologis dan teknis, yaitu dengan memperbaiki nilai dari item-item variabel tersebut sebesar (-0,173X1), (-0,133X2), (-0,185X3), (-0,237X4), dan (-0,261X5). Manajemen simpang ber-APILL dengan sistim pemotongan dini (early cut-off) dan pembatasan belok kiri langsung (N-Ltor) pada kaki utara, pelepasan lambat (late start) dan larangan belok kanan (N-Rtor) pada kaki selatan dengan demikian dapat menurunkan waktu siklus dari 150 detik menjadi 117 detik dengan panjang antrian 443 smp/jam, angka henti 0,90 smp/fase dan hambatan 48 detik/smp.

Traffic violation in Yogyakarta increases each year. In 2004, there was 64,984 cases where 59,100 cases has been punished by courts with a fee sanction of Rp. 611,646,000,-. Yogyakarta Provincial Police Office noted that those disobediences was 39.74% done by motorcycle riders with driving license C, 7.12% done by drivers with other licenses and 53.14% done by unlicensed riders/drivers. That rider behavior, particularly motorcycle riders, has been dreadfully terrible such as speeding during amber light and even penetrating red light, queuing during green light in wrong lane, crisscrossing in queue, leaving queue during green light and behaving impolitely during ride such as being egocentric even grabbing other road users’ privilege, becoming overconfident and fearless. Those behaviors were contrary to Yogyakarta’s icon as educational city with courteous culture, religious and tolerant. This research was done in northern junction arm of MM-UGM Yogyakarta by using guided interview technique to 91 random respondents from motorcycle rider population violating red light and survey technique on junction performance. Analysis step was variable measurement tool test, regression analysis requirement test and hypothesis test by using SPSS version 11.5. Analysis on cycle time need, queue length, delay and violation effect on junction performance was done by Microsoft Excel and KAJI (Indonesian Highway Capacity) software. It was aimed to know the factors affecting motorcycle riders behavior on traffic violation and the effects to signalized junction performance. The result of causality relation analysis between the easiness in obtaining driving license (X1), poor driving skill of motorcycle riders (X2), poor behavior (X3), weak law enforcement (X4) and poor performance of arm junction (X5) simultaneously 75.34% affect motorcycle to perform traffic violation (Y1) in signalized junction. Violation value (Y1), which was 5.955, can be reduced by sociological and technical approach by improving the values of those variables’ items which were (-0,173X1), (-0,133X2), (-0,185X3), (-0,237X4), and (-0,261X5). Signalized junction management with early cut-off and direct left turn restriction (NLTOR) on north junction arm, late start and direct right turn restriction (N-RTOR) on south junction arm can decrease cycle time from 150 seconds to 117 seconds with queue length was 443 pcu/hour, stopping value was 0.90 pcu/phase and delay was 48 seconds/pcu.

Kata Kunci : Pelanggaran Lalu Lintas,Perilaku Pengemudi,Kinerja Sistem Ber,Apill, Driving behavior, traffic violation, junction performance


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.