Analisis tarif dan pengelolaan bus ber-AC untuk trayek Prambanan-Kota
PRASETYO, Agus, Dr.Ir. Siti Malkhamah, M.Sc
2005 | Tesis | Magister Sistem dan Teknik TransportasiPemerintah DIY berencana untuk mereformasi sistem transportasi yang ada pada saat ini yang antara lain diwujudkan melalui perubahan manajemen pengelolaan dan penyediaan sarana angkutan massal yang sesuai keinginan masyarakat, yaitu aman, nyaman dan tepat waktu. Program peningkatan kualitas layanan untuk memenuhi keinginan masyarakat tersebut akan diwujudkan dengan dioperasikannya layanan Bus Ber-AC dan juga melalui penataan serta peningkatan pelayanan bus regular yang sudah ada. Keseimbangan antara tingkat pelayanan dan tarif pada Bus Ber-AC perkotaan akan mewujudkan perkembangan angkutan umum yang lebih baik . Berdasarkan hal tersebut, peningkatan pelayanan Bus Ber-AC memerlukan analisis kelayakan secara finansial dari besaran nilai tarif yang akan diberlakukan untuk melihat kelangsungan usaha namun masih terjangkau oleh daya beli masyakarat dengan tetap mengutamakan kualitas layanan. Penelitian ini mengunakan data-data sekunder yang diperoleh dari instansiinstansi terkait dan hasil penelitian terdahulu (untuk tarif willingness to pay) yang kemudian diolah untuk melihat kinerja finansial dari tarif WTP sebagai fungsi pendapatan angkutan umum Bus Ber-AC. Studi banding ke Badan Pengelola Transjakarta juga dilakukan untuk melihat kemungkinan pengelolaan angkutan umum di Jakarta jika diterapkan di Yogyakarta. Parameter yang digunakan untuk menganalisis kelayakan secara finansial dari tarif yang akan dikenakan adalah kriteria investasi NPV, BCR dan IRR serta menggunakan berbagai skenario yang terkait dengan biaya dan pendapatan. Skenario yang terkait dengan biaya yaitu pembagian resiko dalam hal penyediaan sarana dan prasarana dikombinasikan dengan skema kenaikan harga BBM . Skenario yang terkait dengan penghitungan pendapatan digunakan load factor 30% dan 70% . Berbagai skenario tersebut akan diperhitungkan dalam umur ekonomis 5 tahun dan 10 tahun. Metode yang digunakan untuk penghitungan BOK sebagai fungsi biaya adalah metode yang dikembangkan departemen perhubungan yaitu SK. 687/AJ.206/DRJD/2002. Penelitian ini dilakukan pada rencana rute Bus Ber-AC Trayek Prambanan - Kota, yang akan dioperasikan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta . Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada tingkat load factor 70%, operasional Bus Ber-AC Yogyakarta layak operasi dengan semua investasi dan biaya operasional ditanggung oleh swasta diberbagai tingkatan tarif WTP sesuai dengan skenario I, sedangkan pada load factor dinamis 30% tidak akan layak . Tarif (Rp.2.000,-) dan Rp. 2.500,-, pada semua skenario pengoperasian bus Ber- AC akan layak jika kondisi load factor 70% . Kelayakan finansial akan terjadi pada load faktor 30% jika swasta berperan sebagai operator saja meskipun kenaikan BBM mencapai Rp. 5.350,- seperti pada skenario IIIA dan IIIB. Apabila melihat berbagai permasalahan angkutan umum di Yogyakarta maka system pengelolaan angkutan umum di dijakarta ada kemungkinan cocok untuk diterapkan di Yogyakarta.
The local government of Yogyakarta Province planned to reform the existing transport system and one of them is to revolutionize operational management and to provide mass transport facility based on consumer expectations which are safe, comfortable and on-time. That service quality improvement program in satisfying consumer will be performed by operating Air- Conditioned Bus besides improving and managing the existing regular bus service. The balance between service quality level and tariff of air-condistioned bus service will encourage a better public transport development. Based on that fact, service quality improvement on executive class bus service requires a financial properness test on tariff amount which will be applied to prevent bankruptcy and to consider consumer’s ability to pay where the service quality is still excellent. This research used secondary data obtained from related institutions and from previous researches (on willingness to pay tariff). Those data were analyzed to know financial performance and WTP tariff as a function of public transport income for Air-Conditioned bus service. Comparative study to Trans Jakarta Management Board was also done to notice the possibility of the typical public transport service in Jakarta to be applied in Yogyakarta. The used parameters to analyzed tariff financial performance, which will be applied were investment criteria namely NPV, IRR, BCR and also some scenarios related to cost and revenue. The scenario related to revenue calculation used load factor of 30% and 70%. Those various scenarios would be calculated in economy age of 5 years and 10 years. The used method to calculate vehicle operational cost as a cost function was a method developed by Department of Transportation namely SK. 687/AJ.206/DRJD/2002. This research proceeded on planned route of Prambanan – Kota for Air-Conditioned Bus which would be operated on Yogyakarta Province. The research shown that on load factor of 70%, the operational of that Air- Conditioned bus service is liable and proper to be operated where any investment and operational cost would be paid by private company at any WTP tariff level according to Scenario I, while on dynamic load factor of 30% it would be not proper anymore. Tariff amount of Rp. 2.000,- and Rp. 3.000,- at any operational scenario would be proper if load factor were 70%. Financial properness would happen on load factor of 30% if private company only acted as operator although fuel increase would reach Rp. 5.350,- as on Scenario IIIA and IIIB. From the various public transport problem in Yogyakarta, it was assumed that operational transport management in Jakarta would be appropriate to be applied in Yogyakarta.
Kata Kunci : Angkutan Umum,Layanan,Tarif dan Pengelolaan, Air-Conditioned Bus, Tariff, Operational Management