Laporkan Masalah

Sistem permukiman kawasan Kars Gunungsewu :: Studi kasus Desa Tepus Kecamatan Tepus Kabupaten Gunungkidul

HERMAWAN, Wisnu, Dr. Suratman Woro, M.Sc

2005 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan Daerah

Gugusan perbukitan pada kawasan kars Gunungsewu menyimpan kekayaan yang unik dan khas, baik fisik maupun non fisik, serta tidak ditemui padanannya pada daerah lainnya. Potensi fisik yang dimiliki itu menjadi suatu dinamika yang memerlukan perhatian tersendiri ketika pengelolaan didalamnya harus memperhatikan sifat alami dan keberlanjutan dari kawasan itu sendiri. Keberlanjutan tersebut tidak bisa terlepas dari upaya dan peran manusia yang saat ini mendiami kawasan itu. Interaksi antara manusia dan lingkungan sumberdaya alam yang direfleksikan menjadi sistem permukiman yang khas dalam kawasan yang terkenal sebagai daerah kering, tandus, miskin, dan rentan bahaya kelaparan itu, menjadi menarik untuk dilakukan penelitian. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan sistem permukiman yang ada di Desa Tepus. Pemilihan Desa Tepus sebagai lokasi penelitian didasarkan pada posisi daerah tersebut yang berada pada zona inti kars. Penelitian ini menggunakan metode berpikir induktif kualitatif dengan pendekatan phenomenologi. Peneliti menjadi instrumen utama penelitian untuk mengumpulkan data yang dilakukan dengan teknik observasi partisipasi. Analisis data dilakukan dengan pengkodean, kategorisasi, dan pemeriksahan keabsahan data, sehingga akan menghasilkan sejumlah temuan studi dan hasil konseptualisasinya. Hasil penelitian diawali dengan temuan konstruksi sejarah permukiman masa lalu kehidupan di Desa Tepus yang terkait dengan sejumlah peninggalan yang saat ini masih dikeramatkan, seperti resan, makam kuno, atau batu keramat (watu dukun). Penghargaan atas konstruksi masa lalu itu direfleksikan dalam karakter masyarakat yang masih kental dengan nilai keselarasan hidup dengan lingkungan dan semangat kebersamaan. Semangat kebersamaan itu masih bisa dijumpai dalam keseharian mereka baik di wono atau di kampung. Tradisi-tradisi lokal, seperti : sambatan, sadranan, grebuhan, arisan, bersik tlogo, memukul kentongan di wono dan perilaku bercocok tanam yang masih mendasarkan pada dinamika alam (pranoto mongso dan tanda-tanda alam lainnya) masih berlaku dan bisa ditemui di pelosok pedusunan. Kebiasaan itu bisa ditemui dalam perespektif tempat tinggal yang secara spasial terbagi menjadi kampung dan wono. Perbedaan letak antara wono dan kampung menyebabkan perbedaan perilaku dalam melakukan aktifitas bercocok tanam. Hal itu mengakibatkan adanya istilah wono jauh dan wono dekat. Hal lain yang juga berpengaruh adalah beragamnya bentuk dan sebaran gubug, seperti ditunjukkan adanya gubug sederhana, gubug semipermanen, dan rumah gubug. Perspektif tempat tinggal yang ada tersebut pada dasarnya menunjukkan kesatuam makna. Perkembangan permukiman juga menunjukkan adanya transformasi sosial berkaitan dengan semakin memadainya aksesibilitas yang memudahkan masyarakat dalam memperoleh informasi dan komunikasi dari luar. Fenomena mboro yang timbul semakin menegaskan adanya ancaman terhadap dominasi eksistensi nilai- nilai lokal. Bentuk penyesuaian diri muncul sebagai respon terhadap gejala transformasi itu yang mulai memasuki kehidupan masyarakat di Desa Tepus.

The range of hills in the karst area of Gunungsewu, contains unique and typical natural physical and non-physical resources that are not comparable to those in other areas. The physical potential represents the dynamics that deserves distinct attention and hence it is necessary in the management of the resources to consider their natural characteristics and the preservation of the area. Such preservation is inseparable of the effort of and the role played by human being who lives in the area. The interaction between human being and the environment of natural resources is reflected in the typical settlement system in the area that is well-known as dry and non arable area, which is in poverty and prone to starvation. Thus, it is interesting to conduct a study of the area. The study aims at describing the existing settlement system in Tepus village. The selection of the village as the location of the study is based on its position, which is in the core zone of the karst area. It uses inductive qualitative thinking method with phenomenological approach. Participative observation becomes the main instrument to collect the data. The data is analyzed using coding, categorization, and the evaluation of the validity of the data that it gives findings and the results of its conceptualization. The result of the study is the finding of the historical construction of the past settlement in Tepus village related to the number of the sacred relics such as ancient grave and sacred stone (watudukun). The appreciation of the past construction is reflected in the character of the people with the value of harmonious life with nature and the spirit of togetherness. The spirit of togetherness is still found in the daily life of the people both in the wono and in the village. The local traditions such as sadranan, grebuhan, arisan, bersik tlogo, striking bamboo drum in the wono and cultivating behavior are still based on the dynamics of nature (pranoto mongso and other natural cues) in the remote village. The tradition may be seen in the spatial perspective of the division of the area into village and wono that results in the difference in the cultivating behavior. Subsequently, it results in the terms of far forest and near forest. Other factors also give impact to the various form of shacks and their spread as clearly observed in the presence of simple ones, semi-permanent ones, and shack houses. The perspective of the shelter essentially indicates the unity of their meaning. The development of the settlement also indicates the social transformation resulting from the increasingly sufficient accessibility of the people to the information and communication with the world outside. The phenomena of migration for job (mboro) further confirm the existence of the threat to the domination of the local values. The form of the self-adaptation becomes the response to the phenomena of transformation of the life of the villagers of Tepus village.

Kata Kunci : sistem permukiman, kars Gunungsewu, konstruksi masa lalu, tempat tinggal, tradisi lokal, transformasi sosial, settlement system, Tepus village, Gunungsewu karst, past construction, shelter, local tradition, social transformation


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.