Laporkan Masalah

Interaksi kota Tanah Grogot terhadap kota kota Kecamatan di sekitarnya

JULIANSYAH, Ir. Bambang Hari Wibisono, MUP.,MSc.,Ph.D

2005 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan Daerah

Fungsi dan peranan kota pada hakekatnya ditentukan oleh keadaan geografis dan potensi daerah sekelilingnya. Dengan adanya potensi tertentu yang berkembang secara lebih menonjol, maka terbentuk kota dengan ciri atau fungsi tertentu. Dengan demikian fungsi dan peranan setiap kota akan berbeda baik dalam proses maupun perkembangannya. Peranan kota menjadi semakin besar, maka fungsi dan peranan tersebut cenderung berkembang sejalan dengan perkembangan fisik kota serta wilayah belakangnya (hinterland). Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui dan mengkaji interaksi Kota Tanah Grogot dengan kota-kota kecamatan di sekitarnya, (2) identifikasi faktor-faktor apa yang menyebabkan bervariasinya perkembangan kota-kota kecamatan di sekitar kota Tanah Grogot. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Pasir Propinsi Kalimantan Timur dengan mengamati interaksi yang terjadi di kota kecamatan yang beradius kurang lebih 60 Km dari Kota Tanah Grogot. Kota-kota Kecamatan tersebut adalah Kota Kecamatan Pasir Belengkong, Kerang, Kuaro, dan Batu Sopang. Dalam penelitian ini analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif yang didukung analisis keruangan, kuantitatif, analisis hirarki dan tingkat kekotaan. Berdasarkan hasil analisis ditemukan (1) Kota Tanah Grogot merupakan pusat pelayanan utama bagi kota-kota disekitarnya meliputi Kota Pasir Belengkong, Kerang, Kuaro, dan Batu Sopang. Hal ini dibuktikan berdasarkan pengukuran interaksi keruangan, ekonomi, sosial, pelayanan dan fisik yang menunjukkan dominasi peran Kota Tanah Grogot yang dipengaruhi oleh komplementaritas atau saling melengkapi, transferabilitas dan tidak terdapat alternatif lain (intervening opportunity). Selain berdasarkan variabel interaksi antar kota juga dibuktikan dengan ukuran tingkat kekotaan Kota Tanah Grogot atas dasar aspek fisik dan non fisik yang menempatkan Kota Tanah Grogot sebagai kota yang mempunyai tingkat kekotaan tertinggi pada parameter fisik bangunan dan pendapatan daerah. Ketergantungan yang tinggi terhadap Kota Tanah Grogot menyebabkan timbulnya ketidakseimbangan perkembangan karena pemusatan perkembangan hanya terjadi pada Kota Tanah Grogot dan sekitarnya. (2) Ketergantungan kota-kota sekitarnya terhadap Kota Tanah Grogot disebabkan oleh beberapa faktor yang menjadikan pesatnya perkembangan Kota Tanah Grogot yaitu faktor ekonomi dipengaruhi oleh pemenuhan kebutuhan sekunder dan tersier, sektor pertanian dan pemanfaatan modal; faktor sosial dipengaruhi oleh jumlah kunjungan dan lama berkunjung ke Kota Tanah Grogot yang menunjukkan frekuensi terbesar kunjungan dilakukan oleh kota yang jaraknya terdekat; faktor interaksi pelayanan seperti pelayanan pendidikan dan kesehatan pada jenjang yang lebih tinggi masih tertuju pada kota Tanah Grogot; faktor fisik dipengaruhi oleh aksesibilitas yang didukung oleh ketersediaan infrastruktur transportasi yang memudahkan interaksi antar kota. Pengembangan infrastruktur transportasi dalam skala regional dan lokal perlu diperhatikan untuk meningkatkan akses Kota Tanah Grogot sebagai pusat layanan regional dan meningkatkan aksesibilitas antara Kota Tanah Grogot dengan kota-kota sekitarnya yang selama ini masih terbatas interaksinya. Alokasi pusat layanan ke kota sekitarnya perlu dipertimbangkan untuk mengurangi beban Kota Tanah Grogot sebagai pusat pelayanan. Hal ini dapat dilakukan dengan menyediakan fasilitas yang memadai sesuai dengan peran kota-kota sekitar.

The function and role of a city is basically determined by geographical state and the potentials of surrounding areas. The presence of special potential that develops outstandingly creates a city with special characteristic and function. Consequently, the function and role of a city will be different both in the process and the development matters. As the role of a city becomes bigger, the function and the role tend to develop hand in hand with physical development of the city and the hinterlands. The goal of this research was to (1) review and reveal the interaction of Tanah Grogot City with surrounding sub-district towns, (2) identify the factors causing the development variations of sub-district towns surrounding Tanah Grogot city. This research was done in Pasir Regency of East Kalimantan Province by observing the interaction that took place in sub-district towns at the radius of 60 kilometers from Tanah Grogot city. Those sub-district towns were the towns of Pasir Belekong, Kerang, Kuaro, and Batu Sopang. The analysis in this research was descriptive analysis that was supported by the analyses of space, quantitative, hierarchical and city level. Based on the result of the analysis, it was found that (1) Tanah Grogot city was the center of the main service for surrounding towns including the towns of Pasir Belengkong, Kerang, Kuaro, and Batu Sopang. The proof of this finding was based on the measurement of finance, economy, social, service and physical interactions that showed the dominant role of Tanah Grogot city that was influenced by complementarities or complement one to each other, transferability and the absence of other alternatives (intervening opportunity). Other than being based on inter-city interaction variables, it was also proven by the measurement of the urbanity level of Tanah Grogot city based on physical and non-physical aspects that positioned Tanah Grogot city as a city with the highest urbanity on building physical parameter and local revenue. High dependency on Tanah Grogot city resulted in development unbalance because of the development centralization that only occurred in Tanah Grogot city and the vicinities. (2) The dependency of the surrounding towns on Tanah Grogot city was caused by several factors that made the city grew fast namely economy factor that was influenced by the fulfillment of secondary and tertiary needs, agriculture and capital use; social factor influenced by visit number and visit length of stay that showed the highest visit frequency was done by the closest town; service interaction factor such as education and health services at higher level still focused on Tanah Grogot; physical factor influenced by accessibility that was supported by transportation infrastructure availability that made inter-city interaction easier. Transportation infrastructure development at regional and local scale needs attention in order to improve the access to Tanah Grogot city as the center of regional services and to improve the accessibility of Tanah Grogot city with the surrounding towns of which interaction by far is still limited. The allocation of service center to surrounding towns needs considering in order to lessen the burden of Tanah Grogot city as the service center. This can be done by providing sufficient facilities according to the role of the surrounding towns.

Kata Kunci : Pengembangan Wilayah,Interaksi Antar Kota, inter-city interaction, urbanity level


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.