Laporkan Masalah

Peran dan kontribusi modal sosial dalam pembangunan perumahan masyarakat miskin :: Studi kasus pembangunan perumahan keluarga miskin non pengungsi di Desa Passo Kecamatan Teluk Ambon Baguala Kota Ambon

SAIMIMA, Donald, Ir. Sudaryono, M.Eng.,Ph.D

2006 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan Daerah

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan peran dan kontribusi modal sosial dalam pembangunan perumahan keluarga miskin yang mendapat bantuan perumahan dari Pemerintah Kota Ambon melalui program bantuan perumahan keluarga miskin non pengungsi. Desa Passo yang dijadikan sebagai lokasi penelitian, merupakan salah satu Desa dari 19 (sembilan belas) Desa di Kecamatan Teluk Ambon Baguala Kota Ambon, yang mendapat bantuan perumahan terbanyak tahun 2003, sekaligus juga merupakan desa dengan penduduk miskin terbanyak di Kecamatan Teluk Ambon Baguala. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode induktif kualitatif dengan paradigma fenomenologi. Analisia data sangat ditentukan oleh data primer hasil temuan melalui wawancara dengan keluarga miskin di lapangan selama penelitian, disamping ditunjang dengan data sekunder lainnya yang dibutuhkan untuk kepentingan penulisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 (tiga) konsep dalam pembangunan perumahan keluarga miskin di Desa Passo, yaitu : (1) modal sosial, (2) perumahan, dan (3) kemiskinan. Modal sosial memainkan peran yang cukup besar dan memberikan kontribusi yang berarti dalam pembanguan rumah – rumah keluarga miskin di Desa Passo. Modal sosial yang ada dan berkembang dalam masyarakat khususnya keluarga miskin di Desa Passo yang berperan dan berkontribusi selama proses pembangunan rumah mereka adalah : (a) kepercayaan masyarakat, (b) hubungan sosial, (c) kepekaan sosial, (d) kearifan lokal, (e) proses dan harapan, (f) kontribusi masyarakat, (g) bantuan bahan tambahan, dan (h) bantuan tenaga kerja. Peran dan kontribusi modal sosial dalam pembangunan perumahan keluarga miskin di Desa Passo, memberikan hasil yang lebih rasional, inovatif, dan lebih dapat diterima, dibandingkan dengan ketentuan pembangunan rumah yang ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini disebabkan karena semua rumah yang dibangun oleh keluarga miskin di Desa Passo (khususnya tahun 2003) tidak dalam bentuk tipe 21, yang hanya memiliki kamar 1 (satu), namun semuanya memiliki lebih dari satu kamar, dan hal ini sangat memungkinkan karena keadaan keluarga miskin dengan jumlah anak lebih dari satu orang tidak mungkin mereka dapat hidup secara layak di rumah dengan ukuran tersebut. Adanya penambahan kamar dan perluasan rumah oleh keluarga miskin di Desa Passo tidak terlepas dari keseluruhan proses pembangunan dan pengembangan rumah mereka yang di dalamnya peran dan kontribusi modal sosial memberikan andil yang sangat besar. Dengan demikian, dalam merancang bangun suatu program penanggulangan kemiskinan, khususunya perumahan kepada keluarga miskin di Desa Passo, Pemerintah maupun lembaga – lembaga lainnya harus dapat memperhatikan ketersediaan dan keterlibatan modal sosial yang ada dan berkembang dalam masyarakat, termasuk konsep – konsep perumahan dan kemiskinan oleh keluarga miskin di Desa Passo, karena hal tersebut dapat membantu dan memperlancar proses pelaksanaan pembangunan, disamping hasilnya lebih memuaskan bagi keluarga miskin itu sendiri.

The research aims to describe the role and contribution of social capital in housing development for poor families subsidized by the government of Ambon City through non-refugee poor family housing scheme. It located in Passo village, one of the 19 villages in Teluk Ambon Baguala sub-district Ambon city receiving the biggest subsidy for poor family housing program in 2003. The village has also the biggest poor population in this sub-district. The research uses inductive qualitative method based on the phenomenology paradigm. It uses primary data from interview with poor families to determine the analysis but it also uses secondary data for support. The research results reveal 3 concepts of housing development program for poor families in Passo village, namely (1) social capital, (2) housing, and (3) poverty. Social capital plays a relatively big role and gives significant contribution to the program. The social capital existing and developing in the society, particularly among poor families in Passo village, that is contributed to the housing development includes: (a) public trust, (b) social relation, (c) social sensitivity, (d) local wisdom, (e) process and expectation, (f) people’s contribution, (g) additional material support, and (h) labour support. The role and contribution of social capital in this program bring a more rational, innovative, and acceptable outcome than the program originally designed by the government. There are several arguments for this: all houses built by poor families in Passo village (especially in 2003) were not in the original design which was supposed to be of type 21 with only one bedroom. Instead, they build larger size and more rooms for the house, which are more liveable for a family with more than 1 children. Building houses with additional rooms and larger size for the poor families in Passo village is inseparable from the entire process of construction and development in which poor families give their social capital contribution and participation. Thus, to design a poverty alleviation program, particularly housing for poor families in Passo village, the government or other institutions should consider the availability and participation of the social capital existing and developing in the society, such as the concepts of housing and poverty the poor families hold. These concepts are important to help and accellerate the development process and to improve poor families’ satisfaction.

Kata Kunci : Pembangunan Perumahan,Kemiskinan,Modal Sosial


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.