Laporkan Masalah

Pola spasial permukiman masyarakat Buton :: Studi kasus Kelurahan Binongko Kelurahan Kabir Kelurahan Adang Kabupaten Alor

DURU, Daing, Ir. Leksono Probo Subanu, MURP.,Ph.D

2005 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan Daerah

Secara faktual peran masyarakat Buton dibidang pelayaran niaga tidak dapat disangsikan lagi, misalnya dibeberapa daerah Nusantara ditemukan permukiman kampung Buton di pesisir pantai. Permukiman mereka itu merupakan salah satu indikator kemajuan pelayarannya sejak zaman pra-kolonial dan mengalami kemunduran selama masa kolonial karena adanya pembatasan dalam beberapa dimensi pelayaran. Tingginya dinamika masyarakat Buton untuk mencari nafkah di luar daerahnya ditunjukkan oleh temuan Berlian (1994) yang membagi mereka atas tiga kategori, yaitu pedagang, pelayar dan perantau. Tujuan penelitian ini adalah; pertama menemukan bentuk-bentuk pola spasial permukiman di Kelurahan Binongko, Kelurahan Kabir dan Kelurahan Adang; kedua, menjelaskan alasan pembentukan pola spasial permukiman tersebut. Dalam penelitian ini digunakan proses berpikir deduktif, yaitu proses berpikir yang diawali dari sesuatu yang umum ke khusus atau dengan kata lain diawali dari pendalaman beberapa teori dalam menghasilkan suatu proposisi untuk melihat kenyataan yang terjadi di lapangan (berawal dari aras teoritik/abstrak ke aras empirik). Berdasarkan hasil analisis ditemukan beberapa pola permukiman yaitu pertama, pola spasial permukiman di tiga kelurahan tersebut membentuk open space yang dimanfaatkan sebagai pengikat antar kelompok rumah; kedua, terdapat dua tipe pola spasial kelompok rumah yang terbentuk di tiga kelurahan tersebut yaitu (a) rumah-rumah tumbuh mengelompok membentuk open space dengan komposisi rumah tidak merapat sehingga terbentuk ruang diantara masing-masing bangunan yang dapat dimanfaatkan sebagai akses; (b) rumah-rumah tumbuh berderet (linier) dan merapat antara bangunan yang satu dengan bangunan yang lainnya dan berorientasi ke jalan sebagai akses utama; ketiga, faktor sosial budaya adalah alasan utama yang mempengaruhi pembentukan pola spasial permukiman. Faktor lingkungan adalah faktor pendukung lainnya; keempat, mata pencaharian hidup yang bervariasi dan kondisi infrastruktur di tiga kelurahan tersebut dapat mempengaruhi komposisi rumah yang merapat dari bentuk tradisional rumah panggung menjadi bentuk rumah biasa. Pola permukiman yang berkembang perlu diarahkan untuk tidak membentuk pola secara eksklusif yang dapat menimbulkan konflik dengan masyarakat setempat. Temuan terhadap kajian berbagai pola permukiman lokal masyarakat perlu untuk terus dikaji sebagai dukungan bagi penentuan kebijakan pemerintah agar perkembangan yang terjadi tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat.

The role of Buton society in merchant shipping is significant. We know it from the presence of Buton village along the coastal areas in the Archipelago. It indicates their developed shipping activities since pre-colonial ages. During the colonial time, however, it declines due to the limitation of some shipping dimensions. The Buton society dinamically makes their living outside their areas. It is confirmed by Berlian’s finding (1994) that divides them into three categories, namely merchant, sailor and adventurer. The goals of this research are: first, to find the forms of spatial pattern of the settlement in Binongko sub-district, Kabir sub-district and Adang sub-district; second, to explain the reasons of spatial pattern formation of the settlement. In this research, it is used a deductive thinking process, i.e. a thinking process that is starts from general to special or – in other words – it is starts from intensification of some theories to result in a proposition to see the reality at site (starting from theoretical/abstract to empirical). Based on the result of the analysis, four settlement patterns have been found. first, the settlement spatial pattern in the three sub-districts forms open space to tightly knit the groups of houses. Second, there are two types of spatial patterns of the house groups established in three sub-districts, including (a) the houses growing in groups have formed open space with non-proximate house composition making space in between the buildings that can be functioned as an access; (b) the houses growing linearly with proximate, road oriented buildings making spaces functioned as another access. third, the socio-cultural factors become the most influencing factors for settlement spatial pattern, while the environmental factor is another supporting factor. fourth, different ways of living and the condition of the infrastructure in those three sub-districts may affect the houses composition, which is now approximate, changing from traditional, stage houses to ordinary ones. The growing settlement pattern should lead to form non-exclusive pattern to avoid any conflict with local society. The findings are suggestive for further thorough review, with which government policy making should be supported, so that it prevents development from rising negative implication to local society.

Kata Kunci : Pola Permukiman,Ikatan Kekerabatan,Komposisi Rumahsettlement pattern, kinship, house composition.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.