Perubahan pemanfaatan ruang terbuka hijau :: Studi kasus Kota Palangkaraya
RAMADHANA, Rizky, Ir. Bakti Setiawan, MA.,Ph.D
2005 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan DaerahPembangunan yang sporadis di kota Palangka Raya banyak menyimpang dari rencana tata ruang di Kota Palangka Raya. Hal ini menyebabkan banyaknya ruang terbuka hijau yang digunakan untuk pemenuhan kebutuhan pembangunan kota yang lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan penyimpangan pemanfaatan ruang terbuka hijau di Kota Palangka Raya dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penyimpangan pemanfaatan ruang tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriftif evaluatif. Untuk menggambarkan dan menjelaskan penyimpangan ruang terbuka hijau menggunakan teknik content analysis yaitu kajian terhadap materi rencana induk kota (RIK), khususnya terkait dengan arahan ruang terbuka hijau (RTH), yang selanjutnya di komparasikan dengan kondisi lapangan untuk dapat diketahui penyimpangan yang terjadi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat 12 lokasi yang mengalami perubahan dan penyimpangan berdasarkan aspek fungsi maupun dimensi. Pertama, dari sisi fungsi RTH tersebut digunakan untuk kantor pemerintah dan fungsi sosial lainya. Kedua separo dari penyimpangan ini juga melanggar ketentuan batas maksimal koefesien dasar bangunan. Ketiga proses penyimpangan ini terjadi tanpa ada gejolak dan protes dari masyarakat. Adapun faktor yang berpengaruh terhadap penyimpangan ini terutama disebabkan oleh karena tidak ada konsistensi dari pemerintah. Hal ini juga dipicu oleh interverensi dari pejabat publik yang menentukkan kegunaan ruang tersebut tidak sesuai dari rencana kota yang ada. Penelitian ini merekomendasikan pengkajian kembali tata ruang yang ada khususnya untuk lebih memantapkan RTH
The fast changing of designated open-green space in the city of Palangka Raya has given strong pressures to the realization of a healthy and sustainable city development. There are many deviations in the spatial arrangement in the development of Palangka Raya city. They lead to the increasing use of many opengreen spaces for other purposes. This research aims to describe the deviation of the uses of the open-green spaces in the city of Palangka Raya and to identify factors influencing such deviations. The research employed qualitative analysis method. To describe and explain the deviation of the open-green space, content analysis technique was chosen. The technique refers to evaluate the city master plan, especially the ones related to direction of the open-green space which is then compared with the condition in the field to evaluate the deviation. The research shows that there are 12 locations undergoing changes and deviations in terms of function and intensity. First, in terms of function, those 12 locations have been changed into office use (6 locations) and social uses (6 locations). There is no open-green space used for commercial purposes. Second, in terms of intensity, 6 locations can be considered as major deviations since the building basis is more than maximum allowed which is 25%. Third, such deviations did not result in open conflict as the land for the development of Palangka Raya city is still sufficient in suburban areas. The research found that the main factors caused such deviations was the inconsistency of the government in applying the city master plan. The top-decision maker intervene the use of the land not according to the city master plan. This research recommends the evaluation on the existing spatial arrangement, especially for the purpose of determining the open green spaces.
Kata Kunci : Ruang Terbuka Hijau,Perencanaan dan Pengelolaan, Open Green Space, The Spatial Use Deviation, Land Control.