Analisis kelayakan kredit BRI pada usahatani tebu rakyat lahan sawah dan lahan kering di Kecamatan Geneng Kabupaten Ngawi
MARWANTO, Ir. Ken Suratiyah, MS
2006 | Tesis | Magister Manajemen AgribisnisIndonesia semula terkenal sebagai negara pengekspor gula yang cukup besar dan diperhitungkan di dunia, tetapi saat ini justru berubah menjadi negara pengimpor gula dalam jumlah cukup besar. Hal ini terjadi karena produksi gula dalam negeri tidak dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri dan mengalami penurunan. Keadaan ini dipicu oleh beberapa hal yang sangat komplek antara lain adalah, harga gula impor lebih murah dari harga dalam negeri, kurangnya modal petani dan sering terlambatnya pencairan kredit semakin menambah rendahnya mutu penerapan teknologi tebu sehingga menyebabkan rendahnya efisiensi teknis dan ekonomis produksi gula. BRI Kantor Cabang Ngawi saat ini telah melayani pemberian Kredit Ketahanan Pangan Tebu Rakyat Pola Kemitraan (KKP-TR) musim tanam 2005/2006 kepada Kelompok tani melalui Koperasi Primer Tebu Manis yang berkedudukan di Kecamatan Geneng Kabupaten Ngawi dan pabrik Gula Soedhono yang berkedudukan di Kecamatan Geneng Ngawi sebagai avalis. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kebutuhan modal usahatani tebu rakyat lahan sawah dan lahan kering, mengetahui kelayakan usahatani tebu rakyat lahan sawah dan lahan kering, mengetahui kontribusi kredit KKP-TR yang disalurkan BRI Kantor Cabang Ngawi dan mengetahui jangka waktu dan cara pengembalian kredit KKP-TR yang disalurkan BRI Kantor Cabang Ngawi. Hasil penelitian kasus ini menunjukkan bahwa Usahatani tebu rakyat lahan sawah dan lahan kering yang tergabung dalam Koperasi Petani Tebu “Tebu Manis†layak untuk dikembangkan. Kebutuhan modal untuk usahatani tebu rakyat lahan sawah dan lahan kering yang tergabung dalam Koperasi Petani Tebu “Tebu Manis†MTT. 2005/2006 sebesar Rp. 14.978.759.600,-. Sehingga kontribusi kredit KKP-TR yang disalurkan BRI Kantor Cabang Ngawi masih sangat kecil dibandingkan dengan kebutuhan modal usahatani keseluruhan. Kredit KKP-TR yang disalurkan oleh BRI Kantor Cabang Ngawi bisa kembali dalam jangka waktu 12 bulan dengan cara memotong sebagian biaya sewa lahan atau memotong sebagian biaya garap tebu rakyat lahan sawah dan lahan kering. Selain itu diketahui juga bahwa usahatani tebu rakyat lahan sawah dan lahan kering yang tergabung dalam Kopersi Petani Tebu “Tebu Manis†sensitif terhadap perubahan harga pada tingkat harga Rp. 5.200,-/kg gula
Indonesia that previously well-known as the country of sugar exporter in the world now has turned to the large importer on the contrary. Mostly because Indonesia produces sugar in decreasing scale so that it gives an impact to the lack of sugar’s stock. The various matters stand within that condition could be mentioned as: the price of imported sugar is cheaper than the origin sugar, farmers are difficult of having capitals especially when they are on contract with Banks, and a quite low quality of sugar’s technological rapprochement. Further they have created an inefficiency of producing sugar both technically and economically. The branch office of BRI Ngawi District recently has provided KKP-TR (Kredit Ketahanan Pangan-Tebu Rakyat) in the year of cultivation 2005/2006. Through Koperasi “Tebu Manisâ€, its fund goes to the group of sugar farmers which located on Geneng sub-district and Sugar Factory: Soedhono of Ngawi District as the avails. Based on such conditions, this research was conducted to analyze the capitals need for dried and wet land sugar farmers as well as its feasibility, to know the contribution of KKPTR allocated by BRI, moreover analyzing the effort of sugar farmers in term of returning their debt. The results of this research shows that the dried and wet land sugar cultivation grouped in Koperasi “Tebu Manis†are deserved to be developed. It describes that in the year of cultivation 2005/2006 the amount of capitals need of Rp 14,978,759,600.00. It means the contribution of KKP-TR still does not cover the capitals need in a whole. The average time farmers could return their debt is 12 months. The way the farmers to return their debt are by cutting off a part of the cost of a land’s lending or processing the sugar cultivation. In fact the dried and wet land sugar cultivation grouped in Koperasi “Tebu Manis†are quite sensitive to the change of sugar price on scale of Rp 5,200.00/kg.
Kata Kunci : Usahatani Tebu Rakyat,Kredit,Kelayakan Kredit,Usahatani Tebu Rakyat, sugar farming cultivation, feasibility, price sensitivity, contribution, KKPTR credit.