Analisis penerapan Black-Scholes Option Pricing Model dalam penilaian opsi beli saham dan faktor-faktor yang mempengaruhinya: Studi Kasus di Bursa Efek Jakarta Periode Tahun 2004-2005
RIVANO, Ricky, Mamduh M. Hanafi, Dr.,MBA
2006 | Tesis | Magister ManajemenPerdagangan opsi yang terorganisir di Indonesia telah dimulai pertama kali pada tanggal 06 Oktober 2004. Sistem perdagangan opsi di Indonesia ini memiliki kekhususan tersendiri, karena keuntungan maksimal yang dapat diterima pemilik opsi, atau kerugian maksimal yang harus ditanggung penjual opsi, dibatasi hanya sampai sebesar 10 % dari harga penyerahan. Dengan demikian, teori opsi yang menyatakan bahwa secara teoritis keuntungan pemilik opsi atau kerugian penjual opsi tidak terbatas, menjadi tidak berlaku di pasar opsi Indonesia. Kondisi ini diprediksi akan memberikan konsekuensi pada besaran nilai/harga premi yang disepakati antara penjual dan pembeli opsi (nilai opsi aktual). Berkenaan dengan hal tersebut, maka akan diteliti apakah memang terjadi perbedaan yang signifikan antara nilai opsi aktual dan nilai opsi teoritis (nilai opsi yang dihitung berdasarkan formulasi Black Scholes Option Pricing Model), dan akan diteliti juga apakah faktor harga saham, harga penyerahan, suku bunga bebas risiko, jangka waktu, dan volatilitas berpengaruh secara signifikan terhadap perbedaan antara nilai opsi aktual dan nilai opsi teoritis. Hasil penelitian dari 189 tansaksi opsi beli yang diamati, menunjukan adanya perbedaan yang siginifikan antara nilai opsi beli aktual dan nilai opsi beli teoritis. 70,37 % nilai opsi beli aktual undervalue dan 29,63 % nilai opsi beli aktual overvalue. Opsi beli yang undervalue memberikan return rata-rata sebesar 61,00 % dengan signifikansi = 0,009 (α = 0,05), sedangkan opsi beli yang overvalue memberikan return rata-rata sebesar 10,71 % dengan signifikansi = 0,330 (α = 0,05). Selanjutnya, didapat hanya 4 (empat) faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap perbedaan antara nilai opsi aktual dan nilai opsi teoritis, yaitu; harga saham, harga penyerahan, jangka waktu, dan volatilitas, sedangkan suku bunga bebas risiko tidak berpengaruh secara signifikan. Strategi terbaik perdagangan opsi di Indonesia pada saat itu adalah; membeli opsi beli yang undervalue untuk selanjutnya dijual pada 1- 2 minggu berikutnya.
Option trading in Indonesia has been starting since 06 October 2004. Indonesia’s option trading system has unique characteristic because maximal gain or lose that could be received by buyer/seller option was limited up to 10 % from exercise price. As a consequence, this characteristic would be predicted to contribute in determining the price of option that dealt between buyer and seller (actual price option). This thesis would examine whether there was a significant difference between actual price option and theoretical price option (premium price based on Black Scholes Option Pricing Model), and whether stock price, exercise price, interest, time, and volatility were influenced significant to difference between actual price option and theoretical price option. The result found that there was a significant difference between actual price option and theoretical price option. 70,37 % actual price option undervalue and 29,63 % actual price option overvalue. Undervalue’s options received average return 61,00 % (sig. = 0,09, α = 0,05), and overvalue’s options received average return 10,71 % (sig. = 0,330, α = 0,05). Furthermore, only 4 (four) variables which influenced significant to difference between actual price option and theoretical price option. They were; stock price, exercise price, time, and volatility. Interest wasn’t influence significant. The best strategy on option trading in Indonesia at that time was bought undervalue’s options and sold them in the following 1-2 weeks.
Kata Kunci : Black,Scholes Option Pricing Model,Nilai Opsi Aktual dan Nilai Opsi Teoritis,BEJ