Pengujian standar CAPM di Bursa Efek Jakarta
SOEHARSANTO, Albert Revy, Eduardus Tandelilin, Prof.Dr.,MBA
2005 | Tesis | Magister ManajemenInvestor merupakan pihak yang mempunyai kelebihan dana. Dalam usahanya meningkatkan nilai dari asetnya tersebut seorang investor dapat melakukan investasi pada aset finansial atau sekuritas. Pada dasarnya investor akan melakukan investasi pada suatu aset dengan pertimbangan bahwa investasi itu akan mendapatkan tingkat keuntungan yang sesuai dengan harapannya. Oleh karena itu, para investor akan melakukan analisis terhadap investasi yang akan dilakukannya. Salah satu cara untuk menganalisis tingkat keuntungan yang akan diperoleh dari investasinya adalah dengan menggunakan metode Capital Assets Pricing Model (CAPM). Penelitian ini memfokuskan pada pembahasan tentang penerapan CAPM di pasar modal Indonesia. Dasar dari penelitian ini adalah terdapat penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh beberapa ahli menganalisis kondisi di pasar modal Amerika Serikat dan menghasilkan kesimpulan bahwa zero beta CAPM lebih konsisten jika diterapkan daripada standard CAPM karena nilai intercept yang dihasilkan lebih tinggi dari bunga bebas risiko yang terjadi. Sedangkan hasil penelitian pada pasar modal Indonesia menunjukkan bahwa standard CAPM lebih konsisten diterapkan. Dengan dasar dua pendapat tersebut, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah di pasar modal Indonesia berlaku standard CAPM ataukah zero beta CAPM untuk menganalisis investasi. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data saham 2002-2004 dan berdasarkan pada persamaan yang digunakan oleh Fama dan MacBeth (1973) di dalam penelitian mereka. Dalam menganalisis data dibentuk portofolio- portofolio untuk mengurangi kesalahan akibat adanya perubahan tingkat beta dari tahun sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara risiko dengan tingkat pengembalian sahamnya tidak bersifat positif dan linier. Selain itu, beta bukan faktor dominan yang mempengaruhi tingkat pengembalian saham. Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa di pasar modal Indonesia pada tahun 2002- 2004 tidak berlaku CAPM untuk menganalisis investasi.
Investors are parties who have more funds to invest. There are many ways to increase its funds; one of the ways is investing in financial assets or securities. The reason investor conduct this activity is expecting the reasonable return from their investments base on the risk of its investment. In order to meet their expected return, investors should conduct investment analysis. Capital Assets Pricing Model (CAPM) is one of many ways to analyze the possibility of investment. This research focuses on implementation of CAPM in Indonesian Capital Market. The basic opinion of this research bases on the results of previous researches which were conducted by some experts from USA. The point of their research’s results was pointed on the consistency of zero beta CAPM is better than standard CAPM. Meanwhile, the result of the same researches in Indonesian Capital Market contradicts with the result in US capital market researches which stated standard CAPM fits in Indonesian Capital Market. Base on these two opinions, the researcher wants to know whether standard CAPM or zero beta CAPM which fits for Indonesian Capital Market in order to analyze the possibility of investment. The result of this research which is using 2002-2004 stocks data and using the same equation of Fama and MacBeth (1973) shows there is no positive and linier relationship between the risks and its expected returns. The results also show beta is not the dominant factor which affects the expected return. Base on these three results, it can say that CAPM is not exists in investment analysis at Indonesian capital market.
Kata Kunci : Capital Assets Pricing Model,Standar CAPM,Zero Beta CAPM,Tingkat Pengembalian Saham, capital pricing assets model, standard CAPM, zero beta CAPM, risks, expected returns, positive, linier