The Alignment between six-sigma initiative and business strategy of PT Trakindo Utama
SARI, Teresita Listyani Indah, Hani Handoko, Dr.,MBA
2006 | Tesis | Magister ManajemenSejak diciptakan oleh Motorola di tahun 1980, Six Sigma telah berkembang menjadi salah satu konsep yang paling berhasil untuk meningkatkan proses operasional perusahaan. Menurut Smith (2002), Organisasi yang telah terbukti mampu mencapai hasil yang optimal dari pengimplementasian Six Sigma adalah organisasi-organisasi yang telah berhasil menggunakan Six Sigma tidak hanya untuk mengubah praktik bisnisnya dalam level transaksional (dalam level proses, praktik manajemen, sistim dan teknologi untuk operasional sehari-hari) namun juga pada cakupan yang lebih besar, yaitu pada level transformasional (yaitu level kepemimpinan, budaya perusahaan, misi dan visi). Karena itu, implementasi Six Sigma haruslah sejalan dengan strategi bisnis perusahaan. Peneliti mengambil PT Trakindo Utama sebagai obyek penelitian – sebuah perusahaan yang telah mendeklarasikan diri sebagai perusahaan yang berfokus kepada konsumen dan menggunakan Six Sigma sebagai alat stratejik untuk melengkapi transformasi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan mengetahui strategi bisnis, sistim Six Sigma dan penerapannya di PT Trakindo Utama. Penelitian ini juga bertujuan untuk menilai kesejalanan inistiatif Six Sigma dengan strategi bisnis PT Trakindo Utama, utamanya yang tercantum pada peta strategi (strategy map) perusahaan, sehingga dapat mengidentifikasi kelemahan-kelemahan yang ada pada penerapan Six Sigma saat ini. Peneliti menemukan bahwa sistim Six Sigma yang digunakan pada PT Trakindo Utama adalah sistim yang diadopsi dari Caterpillar. Sistim ini terbukti berhasil diterapkan pada Caterpillar, dan PT Trakindo Utama sebagai distributor resmi Caterpillar di Indonesia berusaha untuk mengadopsi sistim tersebut untuk peningkatan proses bisnisnya. Dengan menggunakan in-depth interview dan penyebaran kuesioner, penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa kesenjangan dalam implementasi Six Sigma adalah disebabkan oleh kurangnya komitmen kepemimpinan dan fokus pada pasar dan konsumen. Pada praktiknya saat ini, Six Sigma lebih berfokus pada pengurangan biaya daripada untuk meningkatkan customers’ value. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan Six Sigma belum secara optimal sejalan dengan strategi bisnis perusahaan, utamanya dalam menciptkan value bagi konsumennya.
Since Motorola had invented Six Sigma in 1980, the concept has developed to become one of the most powerful tools in improving operational activities within a company. Organizations that achieve the greatest results of Six Sigma over time are those that ultimately drive change not just at a transactional level inside companies or in other words the level of “processes, management practices, systems, and technology where normal, everyday work gets done,†but also at a larger-gauge transformational level the level of leadership, culture, strategy, mission, and vision (Smith et al., 2002). Thus, the implementation of Six Sigma should be strongly aligned with company’s business strategy. The researcher took PT Trakindo Utama as object of research – a company which had declared itself as Customer Focused Company and utilize Six Sigma as strategic tool to equip the transformation. Objectives of this research are to study and understand the business strategy, the Six Sigma system and its implementation in PT Trakindo Utama. This research also aimed to assess the alignment of Six Sigma initiative to the strategy and business process at PT Trakindo Utama, particularly which were depicted in the strategy map and to identify weaknesses of the current Six Sigma system, particularly related to its alignment to PT Trakindo Utama business strategy The researcher found that Six Sigma system, being utilized in PT Trakindo Utama was adopted from Caterpillar. This system has proven to be successful for Caterpillar, and PT Trakindo Utama as the authorized Caterpillar dealer in Indonesia is trying to adopt it for their business process. Using in-depth interview and questionnaire to assess Six Sigma alignment with business strategy, this research discovered that the lags occurred in Six Sigma implementation are due to the lack of committed leadership and focus on market and customers. The current practice of Six Sigma has mainly been focused to cost reduction than to improve customers’ value. These findings exemplify that the utilization of Six Sigma has not been optimally aligned with business strategy, particularly to create value for customers.
Kata Kunci : Kesejalanan, Six Sigma, Strategi Bisnis, Strategy Map, Customers Value, Alignment, Business Strategy