Strategi korporat PT Angkasa Pura II dalam menghadapi Traffic Booming dan deregulasi angkutan udara
PRANOWO, Sumiyat Tulus, Hani Handoko, Dr.,MBA
2005 | Tesis | Magister ManajemenAdanya deregulasi Pemerintah di bidang penerbangan dan munculnya fenomena penerbangan dengan biaya rendah (Low Cost Carrier) menimbulkan traffic booming angkutan udara di Indonesia. Hal ini berdampak kepada PT (Persero) Angkasa Pura II sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang pengendalian lalu lintas udara dan pengelolaan bandara, yang merupakan salah satu simpul industri transportasi udara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa jauh strategi korporat PT (Persero) Angkasa Pura II dalam merespon perubahan ini. Di samping hal tersebut, dengan adanya rencana Pemerintah untuk mengambil alih pengendalian lalu lintas udara (Air Traffic Services/ATS) dan membentuk BUMN tersendiri, pada penelitian kedua akan diamati seberapa jauh implikasinya terhadap kelangsungan usaha PT (Persero) Angkasa Pura II. Penelitian (ketiga) juga mengamati seberapa jauh pengaruh non market strategy berperan pada perusahaan ini. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, dengan data kualitatif. Kerangka analisis yang digunakan adalah corporate portofolio (Davis, 1992; Johnson dan Scholes, 2002), analisis lingkungan eksternal, lingkungan industri (Porter,1980) dan kapabilitas internal perusahaan (Rowe et al, 1994). Berdasarkan evaluasi kondisi eksternal dan lingkungan industri, disimpulkan bahwa industri transportasi udara sangat prospektif. Berdasarkan analisis internal, PT (Persero) Angkasa Pura II masih mempunyai prospek yang baik, pada posisi rapid growth. Berdasarkan hasil pemetaan melalui parenting matrix (Johnson and Scholes, 2002; Cambell, Goold and Alexander 1995), bisnis ATS dan bandara merupakan bisnis unggulan (heartland) sehingga sebenarnya layak untuk dipertahankan dan dikembangkan. Namun untuk mengantisipasi perubahan di masa datang, disarankan untuk melakukan related diversification melalui pengembangan bisnis kargo dan properti. Bisnis properti diperlukan guna mewujudkan konsep baru dalam pengelolaan bandara, yaitu airport city. Dalam konsep ini bandara bukan hanya sekedar tempat untuk naik dan turunnya pesawat, namun lebih dari itu, bandara merupakan kawasan bisnis dengan berbagai fasilitas dan kemudahannya. Hasil analisis terhadap rencana Pemerintah untuk mengambil bisnis ATS menunjukkan bahwa, walaupun kinerja keuangan turun namun perusahaan masih survive. Untuk mengantisipasi rencana pemisahan ini, perlu diusulkan kepada Pemerintah agar membentuk holding company dengan anak perusahaan pengelola bandara dan penyelenggara ATS, sehingga secara keseluruhan tidak menimbulkan pengaruh yang berarti terhadap kelangsungan usaha PT (Persero) Angkasa Pura II. Berdasarkan hasil stakeholders mapping (Johnson and Sholes, 2002) diketahui bahwa posisi Pemerintah, yaitu Kementerian BUMN, Departemen Perhubungan dan Departemen Keuangan sangat kuat dalam menentukan kelangsungan usaha perusahaan ini. Dengan demikian maka non market strategy menjadi penting dan harus dilakukan di perusahaan ini melalui lobi-lobi yang benar dan tepat.
The existence of Government deregulation in aviation sector and the emerging of low cost carrier generate an air transport traffic booming in Indonesia. These conditions have an impact to PT (Persero) Angkasa Pura II, as a State Owned Enterprise who plays in airport and air traffic services. This study is to examine the corporate strategy of PT (Persero) Angkasa Pura II in responding the rapid change of external condition. Beside that, the Government plan to take over air traffic services from Angkasa Pura II business, by establishing new business entity. So, the 2nd observation is to examine the implication Government plan to this company if it is happen. Because PT (Persero) Angkasa Pura II can be categorized as a regulated company, the 3rd study is to observes the implication of non market strategy to this company. This paper is a descriptive study and use qualitative data. The analysis framework is using corporate portfolio (Davis, 1992; Johnson and Scholes, 2002), external analysis, industry analysis (Porter, 1980) and internal corporate capability (Rowe et al, 1994). Base on external and industry scanning, it can be concluded that air transport industry in Indonesia is still prospective. Base on internal company assessment, PT (Persero) Angkasa Pura II is still having good prospect, in a rapid growth position. According to parenting matrix (Johnson and Scholes, 2002; Cambell, Goold and Alexander 1995) the ATS and airport business are prominent businesses (heartland) so these are viable to be maintained and developed. But to anticipate the future change, it is suggested to make a related diversification via cargo business and property development. Property business is needed to realize the airport city concept. In this concept, the airport is not just only the place where airplane take-off and landing, but more, airport is a business complex with facilities and many premium services. The result of analysis of the Government plan to take over the ATS business, shown that, whether the financial performance of PT (Persero) Angkasa Pura II become weaker, but it still survive. To anticipate to this plan, it is suggested to propose a holding company to the Government, and ATS and airport are being sister companies. Base on a stakeholders mapping (Johnson and Sholes, 2002), it is identified that Ministry of State Owned Enterprise (MSOE), Ministry of Transport (MOT) and Ministry of Finance (MOF) are being Key Players, those can determine the existence and sustainability of company. Thus, non market strategy is importance to the regulated company like PT (Persero) Angkasa Pura II. This company should manage them well and performs excellence lobbies to those institutions.
Kata Kunci : Strategi Korporat,Traffic Booming,Deregulasi Angkutan Udara,Traffic Booming, Corporate Strategy, Airport, Air Traffic Services, Corporate Portfolio Parenting Matrix, Stakeholders Mapping, Non Market Strategy, PT Angkasa Pura II