Strategi peningkatan penerimaan retribusi pasar di Kabupaten Tegal
PUTRA, Imamudin Asa, Prof.Dr. Warsito Utomo
2006 | Tesis | Magister Administrasi PublikPemberian kewenangan kepada pemerintah daerah baik berupa kebijakan otonomi daerah maupun desentralisasi fiskal menuntut pemerintah daerah kabupaten untuk dapat meningkatkan kemampuan dalam membiayai kegiatan pembangunan dengan kapasitas fiskal yang dimiliki daerah. Melalui konsep anggaran kinerja (performance budgeting) daerah dituntut untuk dapat mengoptimalkan penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Salah satu jenis PAD yang memungkinkan untuk ditingkatkan penerimaannya di Kabupaten Tegal adalah retribusi pasar sehingga perlu dikaji dan dihitung dengan seksama potensi penerimaan retribusi pasar yang ada untuk dapat ditingkatkan penerimaannya. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Peneliti mengembangkan konsep dan menghimpun fakta atau data namun tidak melakukan pengujian hipotesis tetapi melakukan analisis terhadap data skunder sementara data primer dilakukan dengan wawancara dan observasi. Beberapa konsep yang terkait dengan upaya peningkatan penerimaan retribusi pasar adalah konsep otonomi daerah, keuangan daerah, manajemen keuangan daerah yang mencakup pentingnya manajemen retribusi daerah dan penyebab rendahnya penerimaan retribusi daerah, konsep manajemen strategis, konsep strategi dan strategi peningkatan penerimaan retribusi daerah. Setelah dilakukan perhitungan terhadap potensi retribusi pasar di Kabupaten Tegal dengan mendasar pada peraturan daerah yang berlaku, masih memungkinkan dilakukannya upaya peningkatan penerimaan mengingat potensi penerimaan yang dapat dipungut dari 7.809 pedagang di pasar kurang lebih Rp 3.231.875.200,- (tiga milyar dua ratus tiga puluh satu juta delapan ratus tujuh puluh lima ribu dua ratus rupiah) sementara rata-rata penerimaan tiap tahun dalam 5 (lima) tahun terakhir adalah Rp 1.806.618.160,- (satu milyard delapan ratus enam juta enam ratus delapan belas ribu seratus enam puluh rupiah) atau sebesar 55,90 %. Dari analisis lingkungan strategis baik eksternal maupun internal dengan analisis SWOT diidentifikasikan peluang (opportunities) dan ancaman (threats) eksternal serta kekuatan (strenghts) dan kelemahan (weaknesses) internal organisasi. Sementara identifikasi terhadap isu strategis meliputi isu strategis SO, ST, WO dan WT. Setelah dilakukan tes litmus terhadap 10 (sepuluh) isu strategis yang ada, diperoleh 4 (empat) isu yang sangat strategis dan digolongkan ke dalam 4 isu strategis mayor yang mencakup isu lainnya. Keempat isu tersebut terkait dengan formulasi strategi yang dirumuskan yaitu (1) Peningkatan kualitas SDM, (2) Perbaikan prosedur manajemen retribusi pasar dan regulasi, (3) Peningkatan sarana dan prasarana pasar, serta (4) Penegakan hukum. Rekomendasi yang dapat diberikan peneliti kepada KPP Kabupaten Tegal adalah hendaknya KPP memiliki profil masing-masing pasar sehingga akan membantu dalam pengambilan keputusan serta penerapan tindakan hukum yang tegas kepada pelanggar peraturan baik terhadap wajib retribusi maupun pegawai sehingga akan berimplikasi terhadap peningkatan kinerja organisasi di masa yang akan datang.
Enlarged range of outhorities – in term of both autonomy policy and fiscal decentralization – given by Central Government of Indonesia to local governments require increasing capability of the local governments to budget development with their fiscal capasity. By using the concept of performance budgeting, the local governments are solicited optimal revenues (Pendapatan Asli Daerah/PAD). One of the revenues potential to be increased in Tegal Regency is Retribusi Pasar. It is important to research promise of the tax for increasing its revenue. Methode employed in the research is descriptive methode with qualitative approach. Within that, researcher develops concepts and compiles fact or data but does not examine hypotheses. Researcher analyses secondary data and primary data resulted from interview and observation. Some concepts related to revenue-increasing effort for Retribusi Pasar are the concept of local government autonomy, local government finance, local government finance management (including importance of retribution management and the causes of underestimate revenue from the retribution), strategic management, strategy and strategy for increasing regential tax revenues. Based on the result of analysis, it is concluded that in Tegal Regency there is Retribusi Pasar potential to increase its revenue. By the time of research, there are 7.809 merchandisers. And the amount of revenue resulted (avarage for last 5 years) is Rp 1.806.618.160,- while its potential is Rp 3.231.875.200,-. It means that the revenue is only 55.90 % of the potential. SWOT analysis is employed on both external and internal strategic environment for identifying external one’s opportunities and threats and internal one’s strenghts and weaknesses. Identifying strategic issues includes yhose of relations among Strenghts and Opportunities (SO), Strenghts and Threats (ST), Weaknesses and Opportunities (WO) and so Weaknesses and Threats (WT). Litmus test on 10 strategic issues results 4 most strategic issues that are categorized into 4 major strategic issues including others. Those are (1) Increasing quality of human resources; (2) Relieving retribution procedure and regulation;(3) Improving market infrastucures; and (4) Law enforcement. Recommendation able to be given to KPP Tegal Regency are KPP shoud be have the profile of each market so that will assist in decisions making and also law action applying to breaking of the rule do well by the retribution obligeds and also the officers so that implication will be make-up organizational performance in the future.
Kata Kunci : Retribusi Pasar,Strategi Penerimaan,Kabupaten Tegal