Kajian pengendalian sedimentasi Waduk Panglima Besar Soedirman dengan teknologi Sabo
ACHMAD, Fauzi Bachtiar, Ir. Joko Sujono, M.Eng.,Ph.D
2006 | Tesis | S2 Teknik Sipil (Mag. Pengelolaan Bencana Alam)Waduk Panglima Besar Soedirman (PB Soedirman) Banjarnegara dibangun tahun 1983 dan mulai beroperasi pada Oktober 1988 dengan luas daerah tangkapan air sebesar 1022 km2. Setelah 16 tahun beroperasi (2004) volume sedimen yang telah terendapkan di waduk mencapai 67,10 juta m3. Proses sedimentasi rata-rata sebesar 4,193 juta m3/th telah menyebabkan umur waduk berkurang menjadi 34 tahun, dari 60 tahun yang direncanakan. Untuk itu perlu dilakukan kajian pengendalian sedimentasi Waduk PB. Soedirman dengan menerapkan teknologi sabo. Penelitian ini menggunakan metode observasi lapangan untuk mengetahui penyebab sedimentasi waduk dan menentukan lokasi dan jumlah bangunan sabo. Selanjutnya dilakukan evaluasi pengaruh teknologi sabo, baik konservasi lahan maupun bangunan sabo terhadap umur layanan waduk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sedimentasi Waduk PB Soedirman antara lain disebabkan oleh erosi tanah dan tanah longsor. Pengendalian erosi tanah dilakukan dengan mengganti teras pola lama ke teras bangku, walaupun tanpa pohon pelindung. Jumlah dan lokasi bangunan sabo berkapasitas besar direncanakan sebanyak 9 buah dengan kapasitas pengendalian sedimen sebesar 4,617 juta m3. Bangunan sabo berkapasitas kecil direncanakan 33 buah, yaitu untuk mendukung upaya konservasi pada lahan kritis dan 1 buah bangunan sabo penahan sedimen hasil longsor. Konservasi lahan dan bangunan sabo yang disertai penambangan galian C masing-masing memperpanjang umur layanan waduk menjadi 39 tahun. Sedangkan kombinasi konservasi lahan dan bangunan sabo dapat memperpanjang umur layanan waduk menjadi 47 tahun.
Panglima Besar Soedirman Reservoir (PB Soedirman) in Banjarnegara Regency was built in 1983 and started to operate in October 1988. Its catchment area covers 1,022 km2. The sediment volume yielded after 16 years operation (2004) is 67.10 million m3. The Annual sedimentation rate of 4.193 million m3 has reduced the reservoir operational life time down to 34 years, from 60 years as it was designed. Therefore, it is needed to conduct study of PB Soedirman Reservoir sedimentation control by applying sabo technology. This research uses field observation method to recognize the causes of reservoir sedimentation and to determine location and number of sabo dams. Furthermore, evaluation of the impact of sabo technology, both land conservation and sabo dams, is conducted to analize reservoir operational lifetime. Research result shows that the sedimentation of PB Soedirman Reservoir is mainly caused by soil erosion and landslide. The soil erosion control is carried out by changing old pattern terrace to bench terrace, without any vegetation or trees along the border of bench terrace. The amounts of 9 big capacity Sabo dams located at Serayu Basin are planned with sediment control capacity of 4.617 million m3. In order to support conservation on the critical land, 33 small capacity Sabo dams are planned to be constructed. One Sabo dam located at Sijeruk Valley is also planned to be constructed in order to control sediment yielded from landslide or slope failure. Land conservation as well as combination of Sabo Dam and sand mining exploration might extend reservoir operational life time to 39 years. Meanwhile, the combination of land conservation and Sabo Dam might extend reservoir operational life time to 47 years.
Kata Kunci : Konservasi lahan, bangunan sabo, umur waduk, Land conservation, Sabo dams, Life time