Kajian neraca air :: Studi kasus di Daerah Aliran Sungai Winongo dan gajahwong Daerah Istimewa Yogyakarta
DESPENSARY, Arief, Ir. Joko Sujono, M.Eng.,Ph.D
2006 | Tesis | S2 Teknik Sipil (MPSA)Air merupakan suatu kebutuhan penting bagi kehidupan manusia di bumi. Perkembangan penggunaan lahan untuk berbagai kegiatan di DAS Winongo dan Gajahwong, menyebabkan terjadinya pemadatan sehingga lahan menjadi kedap air , aliran permukaan meningkat dan menurunnya kemampuan lahan meresapkan air ke dalam tanah. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji dan menyusun perencanaan pengelolaan kedua DAS berdasarkan hasil analisa neraca air dengan mengetahui aliran permukaan, dan indeks kekeringan. Perhitungan neraca air dilakukan menggunakan metode Thornthwaite dan Mather (1957). Data masukan yang digunakan berupa data bulanan curah hujan, temperatur udara dan water holding capacity daerah. Dengan data tersebut diketahui besaran evapotranspirasi, defisit, surplus, aliran permuka an, dan indeks kekeringan, kemudian dilakukan uji ketelitian model terhadap parameter koefisien korelasi dan kesalahan volume antara debit terhitung dengan debit terukur. Berdasarkan hasil tersebut, dilakukan skenario pengelolaan DAS untuk mengurangi indeks kekeringan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa koefisien cekungan DAS Winongo di Padokan 0,875, DAS Gajahwong di Papringan dan Wonokromo berturut -turut 0,851, 0,465. Indeks kekeringan DAS Winongo antara 24,56 % hingga 36,87% dan DAS Gajahwong 20,30% hingga 37,34% termasuk kategori kekeringan sedang sampai berat. Aliran permukaan DAS Winongo di Padokan 1466,55 mm/tahun dan DAS Gajahwong di Papringan 1304,09 mm/tahun, di Wonokromo 527 mm/tahun. DAS Winongo dan Gajahwong mengalami defisit air 274 mm/tahun hingga 608 mm/tahun, surplus air dari 682 mm/tahun hingga 1758 mm/tahun. Dari skenario perubahan penggunaan lahan belum menunjukan hasil maksimal mengurangi indeks kekeringan, diperlukan upaya lain seperti melakukan pemanenan air, kegiatan konservasi tanah dan air.
Water is the most important goods for human life in this world. Land use change for many purposes at catchment s may increase impervious surface. It causes surface water flow rapidly, infiltration decreases and water balance condition changes. This research will study water balance analysis knowing surface run off and heat index at Winongo and Gajahwong cathcment. In this study, water ba lance is calculated by Thornthwaite and Mather method (1957). Data used are monthly rainfall, air temperature and local water holding capacity. Potential evapotranspiration is calculated by combination of air temperature and latitude, then calculation of water deficit and surplus, surface run off prediction, heat index are carried out. Statistical criteria i.e correlation coefficient (R) and volume error (VE) will be used for testing the model accuracy. Based on this result, catchment development scenarios will be conducted to know their effect on heat index. Result of the study indicates that detention coefficient of river Winongo at Padokan is 0,875, where Gajahwong catchment area at Papringan and Wonokromo are 0,851 and 0,465, respectively. Soil Heat index (Ia) at Winongo varies from 24,56% to 36,87% and at Gajahwong varies from 20,30% to 37,34%, that could be concluded as intermediate to heavy dry. Surface run off of Winongo at Padokan is 1466,55 mm/year and Gajahwong at Papringan is 1304,09 mm/year, and at Wonokromo is 527 mm/year. Water deficit both at Winongo and Gajahwong cathcment varies for 274 mm/year to 608 mm/year, while water surplus varies from 682 mm/year to 1758 mm/year. Land use development scenario does not give significant effect an heat index number. So another action such as water harvesting, water and soil conservation should be undertaken.
Kata Kunci : Sumberdaya Air,Pengelolaan DAS, water balance, water holding capacity, evapotranspiration, run off, heat index