Laporkan Masalah

Teknologi proses penyulingan dan pemurnian minyak kenanga (Canangium odoratum BAILL

SETIAWAN, Bambang, Ir. PC. Sumardi, SU

2005 | Tesis | S2 Teknik Mesin (Mag. Sistem Teknik-Tek. Industri

Studi pada teknologi proses penyulingan dengan water batch distillation dan pemurnian minyak kenanga dilakukan dengan rancangan percobaan acak lengkap (RAL). Tujuannya adalah mempelajari kondisi optimum pada penyulingan yang berdasar rendemen dan bilangan ester pada minyak. Minyak kenanga kasar (crude cananga oil) diproduksi dengan penyulingan air sitem batch, dari bunga kenanga. Ratio bunga / air divariasi dan destilat dikumpulkan untuk tujuh waktu penyulingan yang berbeda. Rendemen dihitung untuk semua sample yang dikumpulkan, dianalisis bilangan esternya dan dilakukan bleaching dengan kaolin dan arang aktif, dikeringkan dengan natrium sulphat anhidrat. Minyak hasil sulingan dianalisis kadar air, komponen aktif dan warna. Hasil menunjukkan bahwa rendemen dan bilangan ester dari minyak kenanga meningkat dengan meningkatnya waktu penyulingan. Dimana peningkatannya tidak linier. Peningkatan dari rendemen minyak cenderung mencapai maksimum pada waktu penyulingan lima jam dan pada ratio bunga /air 1:1,5, sedang peningkatan bilangan ester sampai menuju tetap pada waktu lama penyulingan tujuh jam dan ratio bunga / air 1:1,75. Atas dasar bilangan ester crude cananga oil pada kondisi optimum dari proses dihitung dengan metode response surface, adalah 2,77 jam penyulingan dengan water batch distillation dan ratio bunga / air 1:1.09, sedang atas dasar pada rendemen adalah 9,39 jam penyulingan dan ratio bunga air 1:1,49. Meskipun demikian waktu penyulingan 4 jam dan ratio bunga / air 1:1.25 adalah kondisi nyata yang diterapkan untuk memproduksi minyak kenanga. Pada kondisi ini rendemen minyak adalah 0,52% dan bilangan ester 20,88, jika suhu kondensor adalah 26-29°C, laju aliran air pada kondensor 1,8-2.0 l/jam, dan penggunaan energi adalah 9818 Kcal menggunakan liquid petroleum gas (LPG). Pemurnian crude cananga oil berpengaruh pada berat. Pengeringan minyak dengan penambahan natrium sulfat anhidrat berkurang 8,30% dari berat minyak, sedang bleaching dengan kaolin dan arang aktif berkurang 5,61%, tetapi dengan perlakuan keduanya secara bersama-sama berkurang 6,47% dari berat minyak. Pengujian menggunakan gas chromatography terdapat komponen aktif pada crude cananga oil 27 peak, sedang refined cananga oil ditemukan 19 peak. Caryophylene adalah komponen yang paling aktif pada crude cananga oil dan diikuti oleh linalool, germacrene, humulenene dan anisol. Linalool adalah komponen paling aktif dari refined cananga oil, diikuti oleh humulene, anisol, caryophylene dan germacrene.

Study on water batch distillation process technology and purification of cananga oils was conducted using completely randomized experiment design. The aims were to study optimum condition for distillation base on yield and ester number of oils. The crude cananga oils were produced by water batch distillation of cananga flower. The ratio of raw material and water was varied and the distillates were colected for seven different time of distillation. Yield of oils were calculated for all collected samples and analized of their ester number, and bleached with kaolin and activated carbon, drying using anhydrate dissodium sulphate. The refined oils were analyzed of their water content, active compounds and color. The results showed that yield and ester number of cananga oils were increased by increasing of distillation time. However, the increases were not linear. The increase of yield of oil was tended into level off at the time of five hours of distillation and at 1:1.25 raw material-water ratio, while the increase of ester number was tended into stationary at the time of seven hours of distillation and at 1:1.75 raw material-water ratio. Base on ester number of crude oils the optimum condition of processing calculated by response surface methods was at 2.77 hours of water batch distillation and at 1:1.49 ratio respectively. However, distillation of four hours and ratio of 1:1.25 was an apparent condition for producing cananga oils. At this condition, yield of oil was 0.52% and ester number was 20.88 if the temperature of condenser was 26-29°C, the rate of water for condenser was 1.8-2.0 l/hr, and energy supply was 9818 Kcal using liquid petroleum gas. Refining of crude cananga oils effected of their weight, drying of oils by addition of anhydrate disodium sulphate reduced 8.30% of oil weight, while bleaching by kaolin and activated carbon reduced 5.61%, but both together reduced 6.47% of oil weight. These use of refining agent affected oil color from yellow pale transparent. Evaluation using gas chromatography of active compounds of crude oils found 27 peaks while those of refined oils found 19 peaks. Caryophylene was the most active compounds in crude oils followed by linalool, germacrene, humulene and anisol. The linalool was the most active compounds found in refined oils followed by humulenene, anisol, caryophylenene, and germacrene.

Kata Kunci : Teknologi Penyulingan,Pemurnian,Minyak Kenanga, cananga oil, water batch distillation, refining method


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.