Laporkan Masalah

Penentuan prioritas pendataan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dengan menggunakan metode ANalytical Hierarchy Process (AHP) dan Concordance Matrix :: Studi kasus di Kabupaten Sidoarjo

BASRAH, Darwan, Ir. Subaryono, MA.,Ph.D

2006 | Tesis | S2 Teknik Geomatika

Di dalam upaya untuk mengamankan penerimaan negara dan mencapai tertib administrasi di sektor perpajakan, Kantor Pelayanan Pajak dan Bangunan (KPPBB) harus menerapkan strategi dalam berbagai kegiatan yang dilakukan. Salah satu strategi yang dilakukan ialah mengintensifkan pendataan subyek dan obyek PBB. Kegiatan pendataan juga memerlukan waktu dan sumber daya yang banyak yang membutuhkan perencanaan yang baik untuk mendapatkan hasil yang optimal. Tahap penting pertama dalam pendataan ialah menentukan wilayah kegiatan pendataan. Tetapi, dalam kenyataannya, penentuan prioritas wilayah pendataan tersebut dilakukan hanya berdasarkan intuisi dan pengalaman pimpinan, sehingga seringkali keputusan yang diambil kurang mengenai sasaran. Penelitian ini meningkatkan upaya untuk menentukan prioritas wilayah pendataan dengan menerapkan dua metode, yaitu Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Concordance Matrix yang dipadukan dengan SIG. Ada 5 tahap yang dilakukan dalam penelitian, yaitu identifikasi kriteria, penentuan bobot kriteria, standarisasi nilai wilayah dan pembuatan peta tematik, penentuan prioritas wilayah pendataan dan analisis terhadap hasil. Berdasarkan identifikasi terhadap kriteria didapatkan 3 kriteria utama, yaitu Potensi Penerimaan, Potensi Wilayah dan Kualitas Data. Masing-masing kriteria dijabarkan dalam beberapa subkriteria yang dapat diukur. Standarisasi nilai wilayah dan Penyetaraan skala peta subkriteria dilakukan melalui transformasi skala linier dengan prosedur jarak skor. Penentuan prioritas wilayah pendataan menggunakan metode AHP dan Concordance Matrix, sedangkan analisis perbandingan dilakukan untuk mendapatkan model yang paling sesuai. SIG digunakan untuk membuat berbagai peta subkriteria, melakukan analisis spasial operasi union dan penentuan jarak jaringan jalan terdekat. Hasil penentuan prioritas wilayah pendataan dengan kedua metode tersebut menunjukkan bahwa prioritas tertinggi ialah kecamatan Gedangan. Analisis perbandingan menunjukkan bahwa hasil dari kedua metode tidak ada perbedaan. Struktur yang berhirarkhi dan perbandingan berpasangan dengan skala numerik 1-9 yang digunakan pada AHP, menyebabkan AHP lebih sesuai untuk untuk digunakan menjadi model penentuan prioritas wilayah pendataan dibandingkan Concordance Matrix yang strukturnya tidak berhirarkhi dan perbandingan berpasangan yang dilakukan hanya menggunakan skala kualitatif (menang, kalah dan seri). Analisis Sensitivitas dilakukan terhadap model AHP untuk mengetahui seberapa besar ketahanan model dan kecenderungan nilai rating wilayah terhadap perubahan bobot kriteria.

In order to secure national revenue and obtaining good administration in taxation sector, The Land and Building Tax has to apply strategies in many activity. One of the strategies is done by collecting the data of subject and object of Land and Building Tax more intensively. This activity needs so many times and resources that it has to be planned well in order to get optimum result. The first important step in data collection is determining data collection area. But, as a matter of fact, determination of data collection priority area is only based on intuition and experience of the manager, so that many times the yielded decision less exactly to the goal. This research was performed in order to determine the priority of data collection area by implementing two methods i.e. Analytical Hierarchy Process (AHP) and Concordance Matrix which were combined with Geographic Information System (GIS). The research had five phases to do i.e. criteria identification, criterion weigh determination, value standardization and thematic map development, priority area determination and result analysis. Pursuant to criteria identification, it had 3 (three) prime criteria: revenue potential, area potential, and data quality. Each criterion was explained in some measured sub criteria. The Area value standardization and sub criteria map commensuration were done by transforming linier scale with score range procedure. Priority determination of data collection area used AHP method and concordance matrix, whereas comparison analysis was performed to get the most appropriate model. GIS was used to make various maps of sub criteria, performing spatial analysis for union and determination of the closest distance of street network. The result of the research indicates the highest priority of data collection area by using two methods is Gedangan sub district. Comparison Analysis shows that the result of two methods has no differences. Hierarchical structure and pair wise comparison with numeric scale of 1-9 which used in AHP was more suitable to be used in data collection area determination model compared to concordance matrix which had no hierarchical structure and pair wise comparison. Pair wise comparison which is performed in concordance matrix only use three qualitative scales: win, lose or draw. Sensitivity analysis is performed to AHP model in order to know model reliability and area rating value trend on weight criteria change.

Kata Kunci : SIG,Pendataan PBB,Metode AHP, Priority of Data Collection Area, GIS, Concordance Matrix and AHP


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.