Laporkan Masalah

Analisis penentuan lokasi kesesuaian rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) menggunakan metode Spatial Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Spatial Multi Criteria Evaluation (SMCE) :: Studi kasus Kota Surabaya

AJI, Eko Bayu, Ir. Waljiyanto, M.Sc

2006 | Tesis | S2 Teknik Geomatika

Pesatnya perkembangan kota menimbulkan akibat peningkatan aktivitas penduduk dan pertumbuhan penduduk yang tinggi. Pertumbuhan tersebut diikuti dengan permasalahan penyediaan perumahan dan munculnya kawasan kumuh di kota. Alternatif pemecahan masalah tersebut dengan pengembangan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) yang ditujukan bagi masyarakat golongan menengah kebawah.Tujuan penelitian ini untuk menentukan lokasi kesesuaian pembangunan rusunawa di Kota Surabaya. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data atribut berupa data responden ahli rusunawa dan data spasial berupa peta-peta tematik sebagai kriteria dalam pemilihan lokasi kesesuaian rusunawa. Metode analisis yang digunakan adalah metode Spatial AHP dan Spatial Multi Criteria Evaluation (SMCE). Pada metode Spatial AHP pembobotan berdasarkan perbandingan berpasangan tiap elemen hirarki dari pendapat responden ahli dengan mengabaikan pendapat tidak konsisten yang ditunjukkan oleh nilai rasio konsistensi lebih kecil dari 0,01. Pendapat seluruh responden digabungkan dengan menggunakan rata-rata geometrik untuk mendapatkan bobot kepentingan relatif peta. Pada metode SMCE Pembobotan dengan metode rank sum berdasarkan peringkat yang diberikan para ahli. Pengolahan data spasial menggunakan perangkat Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan membuat peta kesesuaian berdasarkan bobot kepentingan reatif. Hasil penelitian menunjukkan kriteria legalitas memiliki tingkat kepentingan paling dominan dibandingkan kriteria lainnya dengan bobot tingkat kepentingan relatif sebesar 0,375 pada hirarki I dan 0,043 pada hirarki II. Hasil dari perbandingan berpasangan menunjukkan kurang dilibatkan peran serta masyarakat dalam pengambilan keputusan, hal ini nampak pada nilai bobot kepentingan relatif kriteria sikap masyarakat sebesar 0,049 (urutan ke delapan dari sembilan kriteria hirarki II) dan budaya hunian masyarakat dengan bobot kepentingan relatif sebesar 0,55 (urutan ketujuh dari sembilan kriteria hirarki II). Pada analisis SMCE lokasi yang dijadikan prioritas adalah lokasi yang mempunyai nilai indeks kesesuaian diantara 0,75 sampai dengan 1. Analisis SMCE menghasilkan nilai standar deviasi sebesar 0,06 atau lebih kecil dari hasil analisis Spatial AHP. Pemilihan lokasi akhir berdasarkan rekonsiliasi kedua metode dengan validasi data di lapangan tepilih daerah Wonokromo dan Tambak Sari, sedangkan lokasi kesesuaian alternatif terpilih daerah pemukiman kumuh Pegirian.

City Development has a strong impact in acceleration of people growth and people activities. The growth is usually followed by a new social problem that is housing supply and the emerges of slump areas. An alternative of the problem solution is by developing leasing simple flats (rusunawa) for those who are proper to have it. The purpose of this research is to determine where the suitanable location for rusunawa development in Surabaya City is. Data used in this research were attribute data of expert’s opinion from local government of Surabaya and spatial data that included thematic maps as criteria of suitability location determination. Analysis methods used in this research were Spatial AHP and Spatial Multi Criteria Evaluation (SMCE). The weighting in Spatial AHP method based on pair wise comparison for each hierarchy element of experts judgment. These judgment disregard inconsistency judgment that indicates by consistency ratio value under 0.01 . All of respondent’s judgment was combined by geometric means to obtain the relative importance weight. The weighting process in SMCE based on rank sum method that rating that rating priority of decision makers. Spatial data was managed by Geographic Information System (GIS) tool to generate map of suitability location based on relative importance weight. The Result of this research indicates legality criteria has the highest relative importance level compared to other criteria with relative importance level value as 0.375 at hierarchy I and 0.043 at hierarchy II. The result of the pair wise comparison indicates lack of people involvement in decision making. It can be seen from result of data processing conducted by experts that shows people behaviour criteria has relative importance level at 0.049 (the eight rank of nine criteria in hierarcy II) and people living culture at seventh rank with relative importance level at 0.55 (the seventh rank of nine criteria in hierarcy II). The priority location in SMCE method was location that have index value 0.75 too 1. The SMCE result has standard deviation at 0.06 or fewer than the Spatial AHP result method. The final result based on reconsiliation two methods with field data validation have chosen Wonokromo and Tambak Sari Area, and the alternative of suitability location has chosen Pegirian slum area.

Kata Kunci : Metode AHP dan SMCE,Lokasi Rumah Susun, GIS, Spatial AHP, SMCE, Suitanable location


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.