Local Community Social Cultural Capital sebagai dasar pengembangan ekowisata di Taman Nasional Tanjung Puting Kalimantan Tengah
SETIAWAN, Rio, Ir. Haryadi, M.Arch.,Ph.D
2006 | Tesis | S2 Teknik Arsitektur (Arsitektur dan Perencanaan PPenelitian ini dilakukan terhadap masyarakat asli sub suku bangsa Dayak Pasir Panjang yang tinggal di sekitar Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), kabupaten Kotawaringin Barat propinsi Kalimantan Tengah. Tujuan penelitian ini untuk menemukan arahan pengembangan ekowisata TNTP melalui pengembangan elemen-elemen ekowisata yang didasarkan atas modal sosial dan modal budaya komunitas lokal. Metode pengambilan data dilakukan dengan wawancara langsung secara semi terstruktur terhadap beberapa informan berdasarkan telaah budaya etnografi. Narasumber informan kunci sebanyak empat orang dan informan pelengkap sebanyak empat orang yang kesemuanya adalah warga asli setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk pengetahuan (modal budaya) masyarakat Pasir Panjang sangat tergantung pada sistem kepercayaan Kaharingan dan keberadaan ekosistem hutan untuk mengelola dan memanfaatkan hutan yang diwujudkan pada perladangan berpindah maupun pengetahuan terhadap berbagai satwa dan flora endemik, keunikan karakteristik site ekosistem setempat, keterlibatan pengelolaan bersama dan bentuk kerjasama (modal sosial) antar golongan masyarakat mempengaruhi pengembangan elemen konservasi alam dan budaya. Hal-hal yang sangat mempengaruhi elemen penghargaan atas komunitas lokal adalah bentuk kerjasama (modal sosial) antara masyarakat Pasir Panjang dengan non goverment organization Orangutan Foundation International (NGO OFI) dalam kapasitas ikatan kerja yang sifatnya simbiosis mutualisme dan bentuk kerjasama antara masyarakat dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT/Pemda). Diketahui pula bahwa bentuk pengetahuan (modal budaya) mengenai keterbukaan masyarakat bagi penerimaan atas orang asing (luar) dan kuatnya daya tarik utama primata orang utan dengan daya tarik ekosistem alam yang beragam memperkuat kepuasan perjalanan wisatawan.
This study was conducted in Tanjung Puting National Park, West Kotawaringin District, Central Kalimantan Province and it involved the local community of Dayak Pasir Panjang who lived around there. The aim of this study is to find the the guidelines for ecoturism development in TNTP through the development of ecotourism elements based on the local social and cultural capital. The collection method: 1) interviewing four native key informants and four complementary native informants by semi structural interview according to cultural ethnography review; 2) doing ny field survey to set primary data on ecotourism activities. The result of this study shows that the cultural capital as the forms of knowledge of the community of Pasir Panjang are depended on the believe system of Kaharingan and the existency of forest ecosystem. For instance in managing and utilizing the forest by shifted cultivation and knowledge of the endemic flora and fauna, the local unique characteristic ecosystem site; the involvement of community management and cooperation as part of social capital that will influence the development of natural and cultural conservation. The mutualism symbiosis of the cooperation as part of social capital between the community of Pasir Panjang and non-government organization Orangutan Foundation International (NGO OFI) and the cooperation between the community and UPT of local government have affected the appreciation of the local community. Cultural capital of the openness of the community to foreigners, the strength of attractive primates (orangutan), and the nature ecosystem attraction support the satisfaction of tourist travelling.
Kata Kunci : Ekowisata,Taman Nasional,Konservasi, ecotourism, social capital, cultural capital