Laporkan Masalah

Fungsi dan makna rumah Bugi' yang ada di dalam lingkungan permukiman Adat Toraja

TIMBANG, Gator, Dr.Ir. Arya Ronald

2005 | Tesis | S2 Teknik Arsitektur

Penelitian ini bertujuan memahami pergeseran fungsi dan makna rumah tinggal yang prinsipil bagi masyarakat adat Toraja hubungannya dengan perkembangan yang terjadi dalam kehidupannya saat ini sehingga dapat dijadikan acuan untuk menjawab kebutuhan rumah dan fasilitasnya bagi masyarakat adat Toraja di masa mendatang. Penelitian terhadap 19 rumah bugi’ yang ada di dalam lingkungan permukiman adat Toraja di 3 lokasi (desa Ke’te’ Kesu’, Sangkombong dan Palawa) menggunakan pendekatan/paradigma rasionalistik dan metode kualitatif. Kajian didasarkan pada teori Habraken (1978) yang mempromosikan teori spatial system, physical system, dan stylistic system. Teori tentang aspek ekonomi, sosial, dan budaya (Rapoport, 1969) diangkat sebagai teori untuk menelusuri faktor- faktor yang melatar belakangi penggunaan rumah bugi’ dan perkembangan kepribadian (Ronald, 1990). Penelitian menghasilkan kesimpulan bahwa rumah bugi’ berfungsi sebagai tempat tinggal, wadah sosial, wadah aktivitas religius, wadah aktivitas perekonomian, dan wadah akomodasi pada pelaksanaan upacara adat. Rumah bugi’ merupakan cermin pergeseran nilai-nilai budaya, sosial, dan ekonomi serta cermin perkembangan kepribadian masyarakat adat Toraja. Faktor ekonomi, sosial, dan budaya merupakan penyebab digunakannya rumah bugi’ oleh masyarakat adat Toraja. Rumah bugi’ berada dalam permukiman adat Toraja karena dapat menjawab kebutuhan ruangruang yang lebih luas dan lebih banyak daripada Tongkonan, sebagai wadah pelaksanaan kegiatan spiritual dan religius, dan biaya yang relatif kecil.

The objective of this research was to understand an essential changing of function and meaning of Toraja’s house especially by the development in their dayli life so that it can be based on problem solving of house and its facilities for the Toraja society in the future. This research was to explore nineteen bugi’ houses in the tree locations (four in Ke’te’ Kesu’, five in Sangkombong, and ten houses in Palawa’) by rasionalistic paradigm and qualitative research method. The study based on Habraken’s theory of spatial, physical and stylistic systems, Rapoport’s theory of economy, social and culture aspects and Ronald’s theory of personality development. These theories were used to study about the background of using bugi’ house. In research location, the data were collected with naturalistic method and interview of inhabitant, culture and society figures to identify tacit knowledge of the function and meaning bugi’ house. The result of this research that the function of bugi’ house needed as a place of dwelling, social interaction, religion, economy activities, and accommodating of tradition ceremony. Bugi’ house expressed the changing of culture, social, economy values, and personality of Toraja traditional society. Economy, social, and culture aspects are some causal factors according to the using of bugi’ house by Toraja traditional society. The bugi’ house have been existing within Toraja traditional housing environment because first, it can be accommodating activities; second, its spaces are larger and much more than Tongkonan house type and the third, the building development cost of bugi’ house is relative cheaper than its Tongkonan.

Kata Kunci : Permukiman Adat,Fungsi dan Makna, function, meaning, bugi’ house


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.