Dinamika tata kelola pemanfaatan hasil hutan :: Studi kasus tata kelola Kayu Ulin di Kalimantan Selatan
SRIYONO, Agung, Drs. Haryanto, MA
2006 | Tesis | S2 Ilmu Politik (Politik Lokal dan Otonomi Daerah)Wilayah Kalimantan Selatan mempunyai luas 3.737.743 ha, lebih dari 40 % wilayahnya merupakan daerah berawa. Di daerah ini, masyarakatnya cenderung membangun rumah kayu. Kayu ulin (Eusideroxylon swageri, Teijsm et Binn), salah satu kayu andalan dan telah dipergunakan turun-temurun oleh masyarakat. Seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, maka permintaan terhadap kayu ulin pun meningkat pula. Ironisnya, sebagian besar pemenuhan kebutuhan kayu ulin itu berasal dari kegiatan “penebangan terselubungâ€. Sebagai akibatnya, jumlah kayu ulin di kawasan hutan semakin langka, bahkan menuju kepunahan. Dari permasalahan ini menimbulkan pertanyaan, bagaimana tata kelola kayu ulin di tingkat lokal selama ini ? Adapun jenis penelitian dalam tesis ini adalah mengunakan metode deskriptifstruktural, dengan pendekatan penelitian yang dipakai adalah kualitatif. Hasil analisis diharapkan dapat memberikan gambaran tentang fenomena sosial secara lengkap. Unit analisis penelitian ini mengambil 3 (tiga) locus penelitian, yaitu kota Banjarmasin, Banjarbaru, dan kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan. Teknik pengambilan informan kunci secara purposif. Informan kunci yang diambil adalah mereka yang mengetahui tentang tata kelola kayu ulin di tingkat lokal. Berdasarkan penelitian terjadi dua hal, yaitu : Pertama, tata kelola formal kayu ulin tidak dapat diimplementasikan secara optimal. Selain itu, segelintir aparat dan pelaku usaha telah memanipulasi kebijakan demi keuntungan mereka sendiri; dan Kedua, untuk memenuhi kebutuhan kayu ulin, masyarakat memilih cara-cara yang informal. Pilihan ini sebagai jawaban atas ketidakmampuan pemerintah dalam meperhatikan hak masyarakat lokal atas sumberdaya hutan. Alternatif solusi yang perlu diambil adalah sedapat mungkin mengakomodir kepentingan masing- masing pihak, serta mencari kebijakan yang dapat melindungi dan mengelola hutan secara berkelanjutan, khususnya jenis ulin. Fokusnya adalah menyediakan Peraturan Daerah disesuaikan dengan karakteristik daerah dan pengelolaannya berbasis masyarakat.
Region of South Kalimantan have wide of 3.737.743 ha, more than 40 % of its area is the swamp. In here, its people tend to wooden house. Ulin (Eusideroxylon swageri, Teijsm Et Binn) is one of pledge wood and have been utilized over generations. Along the growth of resident, demand to ulin to increase. Ironically, most accomplishment of ulin of “illegal loggingâ€. As a result, amount of ulin in forest to limitted, even to destruction. This question is : “How arrangement system of ulin in local level during the time ?†The research applied discriptive-structural method with qualitative approach. Result of analysis expected can give view of social phenomenon completely. Analyse unit of the reseach was Banjarmasin, Banjarbaru, and Tanah Laut regency, South Kalimantan Province. To take informants, the research applied purposive technique. Key informants are people knowing arrangement system of ulin. Based on the research there are two indicates, that is: First, formal arrangement system of ulin could not implementation to optimacally. Also, a small government officer and economic elite have manipulated policy for their own benefit; And second, to create demand of ulin, community to choose the informal ways. It is is the answered of unability of government to regard for local peoples’right to forest resources. Solution alterntive should be taken is solution that can accommodate interest of each parties, and to discover policies that might protect and sustainably manage remaining forest resources, specially of ulin. The focus herein is to constructs of the Regional Regulations is according to characteristics of region and community based management.
Kata Kunci : Kebijakan Kehutanan,Kayu Ulin,Pengelolaan Berbasis Masyarakat,wood of ulin, arrangement system, community based management