Transformasi pluralisme dalam organisasi civil society keagamaan :: Studi kasus Muhammadiyah era pimpinan Syafii Maarif
TOAN, Nguyen Canh, Dr. I Ketut Putra Erawan, MA
2005 | Tesis | S2 Ilmu PolitikPenelitian ini bertujuan untuk memahami paham pluralisme, khususnya transformasi dan manifestasi pluralisme dalam Muhammadiyah. Berdasar latar belakang dan perumusan masalah, penelitian ini lebih bersifat deskriptif/eksploratif. Secara singkat, penulisan ini akan menggunakan metode trianggulasi dalam menganalisa data. Fokus dan locus penelitian adalah sebagian elit pimpinan pusat Muhammadiyah yang banyak memahami pluralisme, manifestasinya, serta transformasi paham pluralisme pada masa kepemimpinan Ahmad Syafii Maarif selaku Ketua PP Muhammadiyah (1998-2005). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah pada periode Ahmad Syafii Maarif, pluralisme memang berkembang. Bahwa transformasi pluralisme internal Muhammadiyah jelas ada. Dari pluralisme politik menjadi pluralisme agama-budaya. Sehingga muncul orang-orang pluralis di Muhammadiyah. Tafsir Tematik Al-Qur’an tentang Hubungan Sosial Antar Umat Beragama dan Dakwah Kultural merupakan cermin yang paling menonjol bagaimana perkembangan paham pluralisme dan transformasi paham tersebut di dalam Muhammadiyah. Dalam penelitian ini, dapat dilihat bahwa peran pemimpin dalam organisasi-organisasi Isla m sangat menentukan arah perkembangan organisasi yang dipimpinnya. Muhammadiyah pada era Syafii Maarif cenderung dibawa ke arah organisasi civil society keagamaan dengan jalur utamanya, yaitu dakwah civil society. Dakwah pada era Syafii Maarif dipahami lebih luas sebagai bagian dari civil society. Tidak hanya terbatas dalam kapasitas sebagai organisasi dakwah Islam yang melayani kepentingan agama (umat Islam). Muhammadiyah pada era Syafii Maarif dijadikan sebagai bagian dari civil society, yakni organisasi civil society keagamaan yang mengabdi kepentingan bangsa dan masyarakat secara keseluruhan. Civil Society yang dimaksud dan dikembangkan Muhammadiyah pada era Syafii Maarif mengarahkan perkembangan Muhammadiyah ke arah religious civil society organization bersikap kritis tapi sekaligus konstruktif terhadap kebijakankebijakan negara, tergantung sekaligus mandiri dalam peranan mengimbangi kekuasaan negara.
This research is intended to analyze perception on pluralism, especially on the transformation and manifestation of pluralism in Muhammadiyah. The key methods of this study which is based on the background and formulation of questions are descriptive and explorative analysis. In short, method of triangulation in analysing data was used in this study. The focus and locus of this study is the elites of Muhammadiyah’s central board who understand pluralism, its manifestation and transformation in Muhammadiyah on the period of Syafii Maarif’s reign as the head of Muhammadiyah’s central board (1998-2005). The result of this study indicated that during the reign of Ahmad Syafii Maarif in Muhammadiyah pluralism has indeed been developing. The fact that internal transformation of pluralism in Muhammadiyah exists, is evident in the shift from pluralism in politics to religion. Thus leading to the emergence of pluralist figures in Muhammadiyah. The Thematic Hermeneutics of passages from the Koran on Social Relation Interreligious Communities (Tafsir Tematik Al- Qur’an tentang Hubungan Sosial Antar Umat Beragama) and Cultural Missionary (Dakwah Kultural) is a shining example of how pluralism has developed and transformed in Muhammadiyah. In this study, the role of religious leaders in Islamic organizations is evidently very important. Because these leaders could decide the direction of developmental orientation in their organization. The role of Muhammadiyah during the era of Syafii Maarif was extended to a religious civil society organization with its prime channel being the Missionary of Civil Society (Dakwah Civil Society); which means that the missionary be understood as a part of civil society. The missionary is not only limited within the Islamic organizations which only serve the religious interest of Islamic communities, but now also serve the interest of the nation and society as a whole. The role of Muhammadiyah during the era of Syafii Maarif was extended to a religious civil society organization which brings together both critical and constructive demeanor to the state’s policies (government’s policies). The role of Muhammadiyah is both dependent and independent to keep its strength equal to that of the state.
Kata Kunci : Transformasi, Pluralisme, Muhammadiyah, Syafii Maarif, Masyarakat Utama, Transformation, Pluralism, Muhammadiyah, Syafii Maarif, Civil Society