Konflik politik dalam tubuh elite Kaomu Kamboru-mboru Talu Palena di Kesultanan Buton 1906-1960
ASLIM, Prof.Dr. Teuku Ibrahim Alfian, MA
2006 | Tesis | S2 SejarahAdapun tujuan penelitian ini adalah: a) untuk mengungkapkan faktor-faktor penyebab terjadinya konflik antara elite Kaomu Kamborumboru Talu Palena pada masa suksesi kepemimpinan enam orang sultan periode 1906 – 1960, b) untuk menjelaskan latar belakang terjadinya krisis kepercayaan yang melanda institusi Mahkama Sara Kesultanan Buton sebagai lembaga pemangku undang-undang Kesultanan, c) untuk menggambarkan pengaruh campur tangan Belanda terhadap konflik antara elite tradisional pada suksesi kepemimpinan Kesultanan Buton, d) untuk menjelaskan pengaruh konflik antar-elite tradisional bagi kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat Buton. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah dengan menempuh tahapan-tahapan kerja seperti mengusut semua evidensi (bukti) yang relevan dengan topik, membuat catatan hasil temuan penelitian dan meng-evaluasinya secara kritis. Sumber-sumber itu diperoleh dari bebe-rapa lembaga pemerintah atau swasta dan perorangan yang berada di Jakarta, Yogyakarta, dan Sulawesi Tenggara. Berdasarkan hasil analisis data penelitian dapat disimpul-kan bahwa faktor yang memicu terjadinya konflik ada dua kategori, yakni yang bersifat tak langsung dan yang bersifat langsung. Faktor yang disebut pertama mencakup: a) tindakan Hindia Belanda membentuk daerah distrik yang disertai penciptaan pajak baru dan kerja paksa (heerendiensten). Di samping itu penghapusan beberapa jabatan pangka yang memicu persaingan yang ketat antar-kaomu untuk memperoleh jabatan yang masih tersedia, b) lemahnya tasawuf pada periode ini sehingga merenggangkan hubungan antara aliran kaomu, c) adanya tindakan Dewan Siolimbona yang keluar dari koridor tradisi adat/ketatanegaraan dalam penentuan figur pejabat sehingga menimbulkan kekecewaan diantara kaomu. Sementara itu, sebab langsung terjadinya konflik antarelite tradisional Buton dipicu karena ambisi masing-masing Kaomu Kamborumboru Talu Palena untuk menduduki jabatan pangka terutama jabatan sultan. Karena nafsu ingin menguasai tampuk kekuasaan itu, maka persaingan untuk mencapai cita-cita itu tidak dapat dielakkan, sehingga konflik yang berbentuk violent dan non-violent pun mewarnai periode tesis ini. Berlarut-larutnya konflik itu telah menyebabkan kehidupan sosial budaya, dan ekonomi masyarakat setempat terpuruk. Bahkan keberadaan kesultanan pun tidak dapat dipertahankan setelah mangkatnya Sultan Muhammad Falihi Kaimuddin pada tahun 1960.
The objectives of the study are: a) to find out the causal factors of the conflict among Kaomu Kamboru-mboru Talu Palena elites in the leadership succession of six sultans in the period of 1906-1960, b) to describe the background of the trust crisis facing the institution of Mahkama Sara of Buton Sultanate, c) to describe the impact of the interference of Dutch on the conflict among the traditional elites in the leadership succession of Buton Sultanate, and d) to describe the impact of the conflict among the traditional elites on the social, cultural, and economic life of Buton people. The method employed in the study is of historical one by following the working stages such as investigating all of the existing evidences relevant to the topic, taking notes of the findings of the study and critically evaluating them. The sources of the evidences are some private or public institutions and the individuals living in Jakarta, Yogyakarta, and South East Sulawesi. Based on the results of the data analysis it can be concluded that the triggering factor of the conflict is categorized into two, which are directly and indirectly. The factor includes: a) the act of Dutch in establishing districts with tax collection and forced labor (heerendiensten) in addition to the abolition of some pangka position that results in the fierce competition among kaomu for the remaining positions, b) the weak tasawuf in the period that results in the lose relationship between the existing sects of the kaomu, c) the act by Dewan Siolimbona that is out of the traditional guidance of state affairs in determining the officer figure causes the disappointment among the kaomu. Meanwhile, the direct causal factor of the conflict among the traditional elites of Buton is the ambition of each of the Kaomu Kamboru-mboru Talu Palena to get the pangka position, especially the position of Sultan. The ambition to get the powerful position causes the fierce competition and hence results in both violent and nonviolent conflicts in the period of the thesis. The prolonging conflict has resulted in the deficient social, cultural and economic life of the people. Even, the presence of the sultanate can not be maintained after the death of Sultan Muhammad Falihi Kaimuddin in 1960.
Kata Kunci : Kasultanan Buton 1906,1960,Konflik Politik