Tradisi dan budaya Siri masyarakat Bugis-Makassar dalam novel Pulau karya Aspar :: Tinjauan sosiologi
WILDAN, Prof.Dr. Rachmat Djoko Pradopo
2006 | Tesis | S2 SastraPenelitian ini bertujuan untuk melihat reaksi pengarang terhadap suatu latar belakang sosial yang direfleksikan dalam suatu karya sastra, melalui budaya dan tradisi masyarakat, yaitu masyarakat Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan. Masyarakat Bugis Makassar hidup bersama budaya dan tradisi yang sangat dijungjung tinggi, yaitu budaya siri. Siri dianggap memiliki suatu nilai yang dapat memanusiakan mereka, yaitu nilai martabat dan harga diri. Sebab itu, ia menjadi pribadi yang teraplikasi melalui prilaku dan tingkah laku dalam interaksi antara sesamanya, agar mereka berharkat dan bermartabat sebagai manusia. Akan tetapi, dengan penegakan siri-nya itu pula, masyarakat hidup terpecah dan saling bermusuhan, yang menyebabkan kembali meruntuhkan kedudukannya sebagai manusia yang bermartabat. Aspar sebagai pengarang yang juga hidup di tengah lingkungan sosial masyarakat, merefleksikan budaya siri dalam novel Pulau, sebagai suatu reaksi terhadap budaya siri. Dalam novel Pulau, Aspar menggambarkan budaya siri, sebagai jalan memanusiakan diri melalui tumbuhnya etos kerja, suatu kemandirian dalam berbagai aspek kehidupan, yeng lebih humanis dalam memanusiakan diri tampa harus melalui pertumpahan darah. Perwujudan ini digambarkan melalui tokoh sentral Sunu Lompo yang dipertentangkan dengan penegakan siri dua tokoh sentral yang saling bermusuhan Salasa Bora dan Saneng Karang dalam menegakkan siri keluarganya. Teori sosiologi sastra digunakan sebagai alat analisis dalam penelitan ini untuk meninjau gambaran tradisi dan budaya siri dalam masyarakat Bugis-Makassar. Hasil penelitian menunjukkan gambaran tradisi dan budaya siri dalam masyarakat Bugis-Makassar, yang direfleksikan dalam novel Pulau, mengindikasikan masyarakat sudah tidak mengamalkan siri sebagaimana leluhur mereka mengamalkannya dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, pengarang memberikan solusi dalam memberdayakan siri, yaitu mengaplikasikan siri sebagai usaha memanusiakan diri melalui pertumbuhan kesadaran moral dan etos kerja dalam berbagai lapangan kehidupan.
Thish research aims to see the authors reaction toward a social bakground which is reflected in piece of literature, through culture and tradition of society, that is Buginese- Makassarese society in south Sulawesi Buginese-Makassarese society live together with their nighest culture and tradition of siri. Siri was supposed to have some value which can humanize them, that was their human value and self respect. Because of that, it became an applied identity through their trait and behaviour when they interacted each other in order to have human values as human being. However, by then forcement of siri, the society also lived separately and compete against each other, it would let them loss their human values. As an auther who lived among the social environment of Aspar reflected siri in his novel “Pulau†as a reactiton toward “siri†culture in the novel “Pulau†he descri bed siri as a way of self-humanizing by growing work ethic, an autonomy in all aspects of life which was more in humanizing without bloodshed. The manifestation was described through the main character Sunu Lompo which was contrasted with the enforcement of siri by two main characters who completed against each other. The theory of sociology literature was used in analyzing data in order to know the description of tradition and siri culture of Buginese-Makasarese. The result of the research indicated the description of siri culture and tradition in Buginese-Makasarese who didn’t siri any more as their ancestor do in their society of life. The author, however, give a solution in applying siri. It tried to self-humanize through the growth of moral realitation and work ethic in all aspects of life.
Kata Kunci : Siri, Pertikaian, Solusi, Conflict, Solution