Neokonservatisme dalam kebijakan politik Luar Negeri Amerika pasca perang dingin
NUSWANTORO, Prof.Dr. Djuhertati Imam Muhni, MA
2006 | Tesis | S2 Pengkajian AmerikaPenelitian ini bertujuan untuk mengungkap posisi dan pengaruh neokonservatisme dalam peta pemikiran politik Amerika pasca Perang Dingin dan menelusuri pengaruh pemikiran neokonservatisme yang termanifestasi dalam kebijakan politik luar negeri Amerika pasca Perang Dingin. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan yang dilaksanakan dengan mengaplikasikan pendekatan American Studies yang diperkenalkan Tremaine McDowell yang menyebut American Studies sebagai reconciliation of disciplines dan reconciliation of tenses. Reconciliation of disciplines adalah kajian yang menggabungkan antar beberapa disiplin sehingga membentuk penjelasan yang utuh. Sedangkan reconciliation of tenses adalah analisa masalah yang dilihat menurut urutan waktu secara berkesinambungan. Selain itu penelitian ini juga meminjam gagasan Sklar mengenai high cultural history yang mengkaji masalah humaniora, intelektual dan pemikirannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada dua arus pemikiran utama dalam politik Amerika, yaitu liberalisme dan konservatisme. Kedua aliran memiliki beberapa titik singgung dan saling melengkapi, menghasilkan arus pemikiran baru yang disebut neokonservatisme. Pasca Perang Dingin aliran neokonservatif mempengaruhi kebijakan pemerintahan George Bush, Bill Clinton, dan George W. Bush. Namun tampak menguat pada era Clinton dan Bush yunior. Khusus pada masa Ronald Reagan neokonservatisme dianggap ikut mempercepat kejatuhan Uni Sovyet. Neokonservatisme memiliki agenda membangun pertahanan yang kuat, dominasi Amerika dalam pergaulan internasional, menyebarkan demokrasi dan mewujudkan Pax Americana. Dalam kebijakan politik luar negeri, Amerika cenderung intervensionis, unilateralis, menjadikan terorisme sebagai musuh baru, dan tidak segan-segan melenyapkan rezim otoriter yang tidak disukai Amerika. Pilihan intervensionis ini tampak dalam masalah invasi Iraq atas Kuwait (1990), krisis Bosnia (1992), Somalia (1993), Haiti (1993), Sudan (1998), Kosovo (1999), Taliban di Afghanistan (2001), dan penggulingan kekuasaan Saddam Husein di Iraq (2002). Sikap unilateralis Amerika terlihat dalam menangani terorisme dengan menginvasi Afghanistan dan Iraq tanpa mandat PBB. Dengan menggunakan doktrin preemptive strikes Amerika berdalih bisa menyerang lebih dulu. Sementara keterlibatan Amerika di Balkan, Amerika tengah, dan Afrika menggunakan alasan misi kemanusiaan multilateral namun tetap dalam kerangka menjaga kepentingan Amerika di wilayah tersebut. Sikap unilateral juga ditunjukkan lewat mundurnya Amerika dari kesepakatan yang dirintis sebelumnya oleh Amerika sendiri. Namun saat kesepakatan akhir cenderung merugikan, Amerika menarik diri secara sepihak.
This research mainly intends to depict the position and influence of neoconservatism in polarization American political ideology during the post Cold War. Further, this research also aims to describe the influence of neoconservatism manifested in post Cold War American foreign policy. This study is library research that applies American Studies approach introduced by Tremaine McDowell. He suggests that American Studies is reconciliation of disciplines and reconciliation of tenses. Reconciliation of disciplines is a study that holds together some disciplines to assemble holistic description. While reconciliation of tenses is a problem dissolved by chronological approach. This research also applies Sklar idea about high cultural history to reveal humanity study, intellectual and their thought. The result of the study shows that there are two main American political ideologies namely liberalism and conservatism. This two main political ideology has several correlations and inspire each other. They also shape a new kind of thought identified as neoconservatism. In the post Cold War, neoconservatism colours the foreign policy in the administration of George Bush, Bill Clinton, and George W. Bush, especially in Clinton and Bush junior era. In Ronald Reagan administration neoconservatism is assumed as catalyst of the collapse of Uni Sovyet power. There are some agenda of neoconservatism, for example building strong defense, creating American domination in international relationship, spreading democracy to the world and preserving Pax Americana. In foreign policy, America tends to be interventionist, be unilateralist, demonized the terrorism as new opponent, and vanish authoritarian regime hatred by American. Interventionist policies are obviously seen in Iraq invasion to Kuwait (1990), Bosnia crisis (1992), Somalia (1993), Haiti (1993), Sudan (1998), Kosovo (1999), Taliban in Afghanistan (2001), and overthrowing Saddam Husein from his power in Iraq (2002). Unilateralist action is revealed when America overcomes terrorism by making invasions in Afghanistan and Iraq without UN approval. With preemptive strikes doctrine, America argues could strike any nation that hate America. While American intervention in Balkan, Central America, and Africa employs argumend as multilateral humanitarian mission but still protect American interest in that region. The unilateralist actions also disclose when America decides to join some agreement. Unfortunately when it is close to final draft, America overturns the agreement. The reason is that America considers the agreement will lead to the disadvantage for the American’s interest.
Kata Kunci : Kebijakan Politik Luar Negeri Amerika Serikat, Program Neokonservatisme, Intervention, unilateralist, terrorism, preemptive strikes, Pax Americana.