Portrait and significance of "Philanthropy" and Piety :: A Study on Stowe's Uncle Tom's Cabin
NURIADI, Prof.Dr. Djuhertati Imam Muhni, MA
2006 | Tesis | S2 Pengkajian AmerikaTesis ini membahas dua hal menarik dengan pendekatan interdisipliner, yakni tentang pilantropfi dan kesalehan. Keberadaan dua hal ini sebagaimana yang tercermin dalam novel karya Stowe yang berjudul Uncle Tom’s Cabin benar-benar berkaitan dengan fenomena social dan budaya Amerika Serikat pada masa sebelum Perang Sipil abad sembilan belas. Pilantrofi didorong karena adanya semangat dan gerakan penghapusan budak yang dilancarkan oleh sejumlah kaum kulit putih, sementara itu kesalehan dalam agama Kristen dikondisikan khususnya di bagian Amerika Selatan tempat Methodist dan Baptist menjadi dua denominasi yang mayoritas dianut oleh orang-orang selatan, termasuk kaum kulit hitam. Uncle Tom’s Cabin, dalam kaitannya sebagai mental evidence dari fenomena social dan budaya Amerika, benar-benar memposisikan kedua hal di atas dalam suatu penekanan yang jelas, yakni dengan penggunaan alur ganda, kedua-duanya ditampilkan secara terpisah di setiap alurnya. Pertama, pilantrofi adalah suatu bentuk simpati dan empati dari kaum kulit putih Amerika tertentu, termasuk kelompok Quakers, yang secara suka rela bersedia membantu dan bisa merasakan penderitaan yang dialami oleh kaum budak, khususnya para budak pelarian, sehingga mereka pun bersedia memfasilitasi mereka dalam proses pelariannya dengan membangun sistem Underground Railroad dan gerakan pembebasan budak. Fakta ini bisa ditelusuri di dalam novel tersebut khususnya mengenai proses pelarian Eliza dan George ke Kanada yang dibantu oleh sejumlah orang kulit putih. Kedua, kesalehan adalah suatu kondisi diri orang tertentu yang senantiasa memandang dan menjalani hidupnya sepenuhnya berserah pada kekuatan Tuhan. Dalam hal ini, keberadaan kesalehan dan/atau keyakinan kuat terhadap ajaran-ajaran Kristen bagi budak kulit hitam bisa mengarahkan pandangannya terhadap kehidupan yang tidak menentu menjadi lebih optimis, dewasa, arif, dan sabar sebagaimana yang digambarkan oleh tokoh Uncle Tom. Bahkan dengan kesalehan yang dimilikinya, sebagai contoh, Uncle Tom menjadi lebih kuat menghadapi kekejian tuannya yang ketiga. Lebih lanjut, di bagian lain analisis tesis ini, dibahas juga signifikansi dari dua hal di atas. Menarik sekali, dengan menggunakan alur ganda, Stowe nampaknya ingin menunjukkan bahwa ada dua cara memperoleh kebebasan bagi budak, yakni dengan melarikan diri dan mati. Kebebasan dengan melarikan diri melibatkan pertolongan orang kulit putih tertentu, sementara kedua membutuhkan kesale han. Hal ini menimbulkan adanya dua arti kebebasan, yaitu fisik dan spritual. Dalam arti fisik, kebebasan cenderung dialami oleh tubuh fisik manusia, yang sebelumnya mengalami penghinaan dan pengabaian hak- hak sipilnya. Sementara itu, dalam arti spiritual, kebebasan dialami oleh roh manusia, dalam hal ini orang kulit hitam. Roh inilah yang akan hidup selamanya di alam yang kekal, sebagaimana yang diajarkan dalam Al- Kitab, tanpa adanya perbudakan lagi.
This thesis deals with two challenging issues to be figured out in interdisciplinary approach; that is philanthropy and piety. The existence of both issues depicted in Stowe’s Uncle Tom’s Cabin is vividly related to the real social and cultural phenomena in the United States in the antebellum era. The philanthropy was stimulated by the presence of abolitionist spirit and movement, whereas the piety in Christianity was conditioned specifically in the South where Methodist and Baptist were mostly embraced by the Southerners, including the black slaves. Uncle Tom’s Cabin, serving as mental evidence of the social and cultural phenomena, positions both issues in a prominent stress; that is, along with its double plot, both philanthropy and piety are presented in different plots. Firstly, philanthropy is a form of sympathy and empathy of certain white people, including the Quakers, to willingly help and understand the suppressed conditions of the black slaves, particularly the fugitives, so that they facilitated them to run away by handling the Underground Railroad and the abolitionist movement. This fact can be seen in the work by looking at how certain white people help Eliza and George to run away to Canada. Secondly, piety is a condition of certain people to always face and undergo the life wholly on the power of God. In this regard, the presence of piety and/or the strong conviction to Christian beliefs for the black slaves can lead them to face the ups and downs of their lives to be more optimistic, matured, considerate, and patient, as depicted through Uncle Tom. Even due to his piety, for instance, Uncle Tom remains stronger in coping with his third master’s cruelty. Moreover, in other part of the analysis, it is also presented the significance of both philanthropy and piety. Interestingly, using double plot in her work, Stowe was prone to show her proposition that there are two ways of deriving freedom for the black slaves; that is, through running away and through death. The freedom due to running away involves the white’s philanthropy, and the freedom due to death requires piety. In the sense of these facts, freedom has then two meanings; that is physical and spiritual. In regards to physical meaning, freedom tends to be ultimately felt the whole body or the life of the black people, in which they were no lo nger degraded and violated their civil rights, but they could determine their lives by themselves. Meanwhile, in regard to spiritual meaning, the freedom is somewhat experienced by the soul or the spirit of human beings, or the black people, since it becomes a everlasting “creature†living in eternal life after death, as taught in the Bible. Along with piety, the soul of black people in the life after death is believed to have freedom and salvation; there are no longer enslavement and oppression within such life.
Kata Kunci : pilantrofi, kesalehan, budak pelarian, gerakan pembebasan budak, kebebasan, philanthropy, piety, fugitives, abolitionist movement, freedom