Laporkan Masalah

Biaya kesejahteraan inflasi di Indonesia selama 1986.1-2004.4

GUODONG, Li, Prof.Dr. Insukindro

2006 | Tesis | S2 Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung Indonesian Welfare Costs of Inflation (Biaya Kesejahteraan Inflasi di Indonesia: BKI) yang nilainya diperoleh dari kalibrasi berdasarkan penggunaan model yang berbeda. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk memperbaiki metoda perhitungan BKI dengan menggunakan parameter yang nilainya diperoleh dari estimasi terhadap perekonomian Indonesia. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kwartalan tahun 1986:1 – 2004:2. Adapun variabel-variabel yang digunakan adalah uang kartal, suku bunga SBI 1 bulan, indeks harga konsumen, produk domestik bruto. Alat analisis yang digunakan adalah Model Koreksi kesalahan (ECM) Baku dan alat Kalibrasi. Kelebihan dari Model Koreksi Kesalahan Baku adalah terdapat: (1) ECM yang berguna untuk melakukan estimasi secara konsisten dan tidak bias terhadap parameter dalam model linier dinamik; (ii) ECM Baku yang berguna untuk menyelesaikan masalah terjadinya variabel-variabel dalam persamaan regresi OLS tidak memiliki derajat integrasi yang sama. Sedangkan alat kalibrasi berguna untuk melakukan simulasi terhadap model perhitungan BKI yang telah dibangun dalam penelitian ini. Hasil kalibrasi menunjukkan bahwa, (1) berdasarkan hasil estimasi fungsi permintaan uang, diketahui masyarakat Indonesia berhasrat tinggi dibandingkan negara maju dalam keinginan memegang uang kas (currency real balance). (2) BKI di Indonesia adalah sekitar 4,377 ~ 4,965% PDB (sebesar 18,3 ~ 19,6 triliun) ketika apabila inflasi kwartalan 2,5% di atas tingkat inflasi ekspektasi (2%) bagi masyarakat. Hasil penelitian yang menarik adalah bahwa perilaku permintaan uang masyarakat Indonesia kemungkinan merupakan faktor yang membedakan nilai BKI di Indonesia dengan negara-negara lain.

The objective of this study is to measure the welfare costs of inflation in Indonesia, which specifically are calibrated based upon the distinctive models. Compared with early similar studies, the execution of calibrations in this study applies the differentiating parameters that are obtained from estimation over Indonesia economic data, which would be expected to simulate calibration much precisely and concisely. The data sample used in this study are quarterly time series data from 1986.1 – 2004.2. Those data are currency in circulation, 1 month SBI interest rate, consumer price index, gross domestic product. A method of analysis in this study is Standard Error Correction Model (S-ECM) and any necessary calibrating tools. The advantages of S-ECM are because it has: (i) ECM that enable to estimate the consistent and unbiased parameters in linear dynamic models; (ii) S-ECM that facilitate to solve econometric problems when variables used in OLS regression do not integrate at the same degree. The result of calibration shows that (1) according to output of estimation of the demand for money, known that Indonesian people demonstrate strong willingness to hold real balance in currency, different to people in developed countries. (2) The welfare costs of inflation in Indonesia are 4.377 ~ 4.695% GDP for actual quarterly inflation rate 2.5% above the expected quarterly inflation rate 2%. The interesting finding is that the behavior of demand for money is an important factor in differentiating welfare costs of inflation in Indonesia with that in other countries.

Kata Kunci : Inflasi,Indonesia,Permintaan Uang,welfare costs of inflation, demand for money


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.