Kultur rumput Benggala (Panicum maximum) dengan zat pengatur tumbuh 2,4-D (2,4-dichlorophenoxyacetic acid), NAA (1-naphtaleneacetic acid) dan kinetin
WIDYANINGGAR, Sekar, Prof.Ir. R. Djoko Soetrisno, M.Sc.,Ph.D
2006 | Tesis | S2 Ilmu PeternakanPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecepatan terbentuknya kalus pada eksplan daun rumput Benggala dengan berbagai konsentrasi zat pengatur tumbuh 2,4-dichlorophenoxyacetic acid (2,4-D) dan pada induksi organogenesis kalus rumput Benggala dengan berbagai kombinasi zat pengatur tumbuh kinetin dan 1-naphthaleneacetic acid (NAA). Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah primordia daun rumput Benggala dan medium MS (Murashige dan Skoog) dengan zat pengatur tumbuh 2,4-D dengan konsentrasi (2, 4, 6, 8) mg/l untuk induksi kalus. Untuk organogenesis digunakan medium MS ditambah zat pengatur tumbuh kombinasi kinetin dengan konsentrasi (0; 0,2; 1) mg/l dan NAA dengan konsentrasi (0; 0,03; 0,16; 3,0) mg/l. Hasil penelitian menunjukkan kecepatan induksi kalus yang paling tinggi dicapai pada perlakuan dengan pemberian 2,4-D konsentrasi 8 mg/l (15,61±0,96) hari setelah subkultur, meskipun kalus bertekstur kompak. Kombinasi konsentrasi kinetin dan NAA menyebabkan pertumbuhan akar, tanpa tunas walaupun telah diinduksi dengan perlakuan kinetin 0,2 mg/l dan 1 mg/l untuk pembentukan tunas, namun sebagian kalus dihasilkan berwarna hijau.
The objectives of this study were to evaluate the rate of callus formation of Benggala grass due to the effect of various concentration of plant growth regulator 2,4-dichlorophenoxyacetic acid (2,4-D) and the organogenesis of Benggala grass callus with kinetin and 1-naphthaleneacetic acid (NAA). Materials used for callus induction were: leaf primordia of Benggala grass and Murashige and Skoog (MS) medium. For callus induction various, concentrations of 2,4D were used (2 , 4, 6, 8) mg/l. For induction of organogenesis various consentrations of kinetin were applied (0; 0,2; 1) mg/l, with various concentrations of NAA (0; 0.03; 0.16; 3) mg/l. Results of the study showed that the highest callus induction was obtained (15.61±0.96) days at 8 mg/l of 2,4D, although callus was not friable. On the other hand, all of combination of kinetin and NAA resulting in root formation without any shoot. Green callus were obtained using (0.2 and 1) mg/l kinetin.
Kata Kunci : Pakan Ternak,Rumput Benggala,Kultur Jaringan,Kinetin,Callus, 2,4-D, NAA, Kinetin,Root, Benggala grass (Panicum maximum)