Laporkan Masalah

Dampak insentif terhadap kinerja Program Penanggulangan TB Paru di Kabupaten Kerinci

RAFLIZAR, dr. Yodi Mahendradhata, MSc

2006 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kebijakan dan Manaj.

Latar belakang : Program pemberantasan penyakit tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Kerinci adalah merupakan salah satu program prioritas. Namun demikian hasil pencapaian program terutama hasil penemuan penderita baru mencapai 23,6% hal ini masih rendah bila dibandingkan dengan target yang harus dicapai yaitu 70%, masalah ini berkaitan dengan kinerja. Ada beberapa faktor yang kemungkinan dapat meningkatkan kinerja program penanngulangan TBC salah satunya adalah dengan pemberiaan insentif. Mulai pada tahun 2004 Kabupaten Kerinci telah mendapat bantuan dana dari The Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria (GFATM) berupa insentif. Tujuan penelitian : Mengetahui dampak keberhasilan program pemberantasan penyakit TB paru setelah adanya intervensi insentif dengan bantuan dana dari Global Fund di Kabupaten Kerinci. Metode penelitian : Rancangan penelitian adalah Quasi- Experimental Non Equal Two Group Posttes Only Design, untuk mengevaluasi pelaksanaan program yang telah dilaksanakan. Populasi penelitian adalah puskesmas di Kabupaten Kerinci yang berjumlah 54 dan Tanjung Jabung Timur sebanyak 42 puskesmas. Analisis data menggunakan teknik analisis statistik deskriptif dan kuantitatif. Uji statistik menggunakan uji beda mean (Mann-Whitney Test), dan Chi square. Hasil penelitian : Kinerja program pemberantasan TB paru puskesmas terutama angka penemuan penderita TB paru pada kelompok perlakuan lebih baik dari kelompok kontrol hasil analisis menunjukkan perbedaan yang bermakna (p = 0,000). Angka konversi pada puskesmas yang mendapat insentif juga lebih tinggi dari pada kelompok yang tidak mendapat insentif. Hasil uji statistik menunjukkan perbedaan yang bermakana (p<0,05). Demikian juga dengan angka kesembuhan yang mana pada analisis statistik terdapat perbedaan angka kesembuhan antara kelompok perlakuan dan kontrol (p<0,05). Faktor lain yang dianalisis dan mempunyai perbedaan yang bermakna antara perlakuan dan kontrol adalah kepuasan petugas laboratorium dan motivasi petugas pengelola program TB paru puskesmas. Sedangka kepuasan petugas TB paru dan kepuasan dokter tidak terdapat perbedaan antara perlakuan dan kontrol (p>0,05) Kesimpulan : Belum cukup bukti untuk menyatakan bahwa insentif berpengaruh terhada peningkatkan kinerja program pemberantasan TB paru puskesmas di Kabupaten Kerinci.

Background: Tuberculosis disease control program at Kerinci District is one of priority health programs. However, program achievement particularly in case detection is only as much as 23.6%. This is relatively low compared to target that has to be achieved, i.e. 70%. This problem is related to performance. There are factors that may improve performance of tuberculosis control program, one of which is the provision of incentives. Since 2004 Kerinci District has received donation from the Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria (GFATM) in the form of incentives. Objective: To identify performance of pulmonary tuberculosis disease control program after intervention of incentives from the Global Fund at Kerinci District. Method: Research design used was Quasi-Experimental Non Equal Two Group Posttest Only, to evaluate implementation of the program. Population consisted of all health center, at districts of Kerinci and east Tanjung Jabung. Data analysis used descriptive and quantitative statistical analysis techniques. Statistical test used mean difference test (Mann- Whitney Test) and chi square. Result: Performance of pulmonary tuberculosis program especially case detection of experiment group was better than that of non experiment. Result of bivariable analysis showed significant difference (p<0.05). Conversion rate at helth center have incentives was better than that of non incentives. Resulth of statistical analysis showed significant difference (p<0,05). Treatment success rate showed difference of statistical significant (p<0,05). Other factor that analysis and had significant difference of experiment group and non experiment was laboratory officer’s satisfaction and pulmonary tuberculosis program officer’s motivation of helth center. Pulmonary tuberculosis officer’s satisfaction did not have significant difference of experiment group and non experiment (p>0,05). Conclusion: There is not enough evidence that incentives have an impact on the performance of pulmonary tuberculosis control program in Kerinci district.

Kata Kunci : Layanan Kesehatan,Insentif,Kinerja Program P2TB Paru


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.