Dampak desentralisasi terhadap pengadaan obat di Kabupaten Bantul
DJULIANI, Hardiah, dr. Iwan Dwiprahasto, M.Med.Sc,PhD
2006 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kebijakan dan Manaj.Latar belakang : Obat merupakan komponen yang penting dalam upaya pelayanan kesehatan baik di Pusat Pelayanan Kesehatan primer maupun di tingkat pelayanan kesehatan yang lebih tinggi. Ketersediaan obat pada unit pelayanan kesehatan sangat mempengaruhi mutu pelayanan kesehatan. Banyak faktor yang mempengaruhi pengelolaan obat, yaitu tahap perencanaan, tahap pengadaan, tahap penyimpanan, tahap distribusi dan tahap penggunaan. Pengadaan obat adalah salah satu aspek penting dan menentukan dalam pengelolaan obat.Dengan adanya penerapan otonomi daerah secara penuh pada 1 Januari 2001 dimana pengelolaan obat dilakukan secara penuh oleh Kabupaten/Kota maka dipandang perlu diadakan penelitian untuk membandingkan pengadaan obat sebelum dan setelah desentralisasi di Kabupaten Bantul. Metode penelitian: Penelitian ini bersifat eksperimen semu (quasi experiment).Penelitian ini membandingkan proses pengadaan obat sebelum dan setelah desentralisasi. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif, menggunakan data kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian : Alokasi anggaran untuk sektor kesehatan dan dana anggaran pengadaan obat di Kabupaten Bantul mengalami kenaikan saat desentralisasi dan setelah desentralisasi, namun prosentase dana pengadaan obat terhadap dana kesehatan di Kabupaten Bantul mengalami penurunan setelah desentralisasi dari 16,0 % menjadi 8,5 %,juga kesesuaian item obat dengan DOEN mengalami penurunan setelah desentralisasi dari 100 % menjadi 82,26 % pada tahun 2002. Kesimpulan: Setelah desentralisasi metode pengadaan obat di Kabupaten Bantul masih mengacu aturan Pemerintah Pusat yaitu memakai Kepres, untuk indikator persentase dana pengadaan obat terhadap dana kesehatan dan kesesuaian obat dengan DOEN mengalami penurunan. Faktor yang mempengaruhi pengadaan obat di Kabupaten Bantul adalah kebijakan Pejabat dan kualitas perencanaan obat. Saran: Dalam pengadaan obat perlu menerapkan konsep obat generik esensial sesuai dalam daftar DOEN. Selain anggaran obat digunakan untuk pengadaan fisik obat, perlu dipikirkan anggaran untuk sarana penyimpanannya.
Background : Drugs is an important component in the effort of health services either in the primary health care centre or even in a higher level of health services. Factors affecting drugs management are planning, drugs procurement, storing, distribution of drugs, and using drugs phases. Availability of drugs in the health care unit is often considered the most important element of drugs management. Indonesia began implementation of decentralization in 1 January 2001. The decentralization of health services administration to district level was intended to improve the quality of health services, including drugs management, was also done fully by district /sub province level. Therefore, it is necessary to study how decentralization affected drugs management especially in the procurement of drugs. The study was conducted in Bantul District, comparing the procurement of drugs before and within decentralization era. Research Method: This Research is a quasi experiment. This research compare the drugs procurement process before and after decentralization. Data were collected retrospectively, using quantitative data and qualitative. Result of research : The decentralization policy led to increased budget allocation for health sector and increasing of fund on the budget for the drugs procurement in Bantul District. However, the percentage of the fund for the drugs procurement was decreased within decentralization from 16% to 8.5%. This decrease was also happened to the percentage of the drugs item by DOEN from 100 % becoming 82,26 % in the year of 2002. Conclusion: After decentralization of drugs procurement method in Bantul District still relate the government ordinance Center that is hence Kepres, for the indicator of percentage of the fund for the drugs procurement and percentage of the drugs item by DOEN was decrease. Factor influencing drugs procurement in Bantul District is Functionary Policy and quality of drug planning. Suggestion: In drugs procurement it is necessary to apply the concept of drugs essential generic according to DOEN list. Despite of giving budget allocation for drugs procurement, it is necessary also think about giving budget for drugs storage.
Kata Kunci : Layanan Kesehatan,Pengadaan Obat,Desentralisasi, Decentralization and drugs procurement.