Laporkan Masalah

Penggunaan data status gizi untuk pengalokasian anggaran program gizi Departemen Kesehatan RI. di era desentralisasi

HAYATINUR, Elly, Prof.dr. Laksono Trisnantoro, MSc.PhD

2006 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kebijakan dan Manaj.

Latar belakang: Status gizi dan morbiditas masih merupakan penyebab utama kematian balita di Indonesia. Status gizi dan morbiditas terutama penyakit infeksi mempunyai hubungan timbal balik. Sosio demografi juga potensi untuk mempengaruhi status gizi. Tiap daerah mempunyai permasalah gizi yang berbeda-beda, demikian pula pengalokasian anggaran program gizi untuk penanggulangannya. Desentralisasi akan berimplikasi pada jalannya program perbaikan gizi masyarakat khususnya penganggaran program gizi yang sangat bergantung atas kemampuan daerah. Tujuan Penelitian: Mengetahui penggunaan data status gizi untuk pengalokasian anggaran program gizi Departemen Kesehatan R.I di era desentralisasi. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional dengan rancangan cross sectional pendekatan kuantitatif dan penelitian deskriptif pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilakukan di 13 propinsi dan di Direktorat Gizi Masyarakat serta Biro perencanaan dan Anggaran Depkes RI. Unit analisis adalah status gizi usia 0-59 bulan hasil pendataan IFLS3 tahun 2000 dan alokasi anggaran program gizi Depkes RI. Instrumen penelitian berupa kuesioner, alat untuk antropometri, panduan wawancara mendalam dan tape recorder. Analisa data menggunakan uji statistik Ordinal Respons Regression dan analisis isi (content analysis). Hasil Penelitian: Sesak nafas, demam, batuk, muntah dan penyakit lain berhubungan dengan status gizi balita. Umur balita, jenis kelamin, tempat tinggal, regional, status ekonomi, pekerjaan dan pendidikan mempunyai hubungan dengan kejadian status gizi (p<0,05). Daerah yang ekonomi masyarakatnya lemah mempunyai riwayat proporsi balita kurang gizi yang tinggi. Alokasi anggaran pembangunan kesehatan ke program gizi dan anggaran program gizi pusat ke daerah menggunakan hystorical budget tidak berdasarkan formula. Rata-rata balita mendapat subsidi sebesar Rp. 2.820,- dan rata-rata subsidi untuk balita yang kekurangan gizi adalah sebesar Rp. 10.221,- Kesimpulan: Morbiditas balita dan sosio demografi mempunyai hubungan bermakna dengan status gizi. Daerah kuadran IV mempunyai riwayat proporsi balita kurang gizi yang tinggi. Data status gizi, morbiditas dan sosial ekonomi merupakan data dasar (evidence base) bersifat insidental untuk pengalokasian anggaran program gizi. Teknik alokasi anggaran program gizi berdasarkan lobby, negosiasi, diskusi dan argumentasi.

Background: Nutritional status and morbidity are the causes of children under five-child mortality in Indonesia. Nutritional status and morbidity especially infection disease has interrelationship. Socio demography influence nutritional status potentially. Each region has different problem of nutrition as well as nutrition program budgeting allocation to its ward off. Decentralization has implication to society nutrition recovery especially nutrition program budgeting that depend on its region. Objective: to find out nutritional status data for nutrition program budgeting allocation at Health Departmen of RI in decentralization era. The Research Method: This research type is observational research with cross sectional design, quantitative approach and descriptive research with qualitative approach. This research was done in 13 provinces and society nutrition directorate and planning and budgeting bureau of Health Departmen of RI. Analysis units are nutrition status 0-59 months recorded from IFLS3 in 2000 and nutrition program budgeting at Health Department of R.I. Research instrument are anthropometrics tools, interview guided and tape recorder. Data analysis use Ordinal Response Regressions and content analysis. Result: Dyspneu, fever, a cough, vomit and the other disease have relationship with nutrition status of children under 5 years of age. The age of child, sex status, regional, economic status, job and education has relationship with nutrition status. The weak economic society has high historical proportion of malnutrition. Budgeting allocation of health development for nutrition program and nutrition program budgeting for regional are used historical budget. Average subsidies for less than five children are Rp.2.820 and Rp.10.221 for malnutrition children under 5 years of age. Conclusion: Morbidity and socio demography has relationship to nutritional status of children under 5 years of age. The region of quadrant IV has high historical proportion of malnutrition of children under 5 years of age. Data of nutritional status, morbidity, and social economic are evidence base data for nutrition program budgeting allocation. Nutrition program budgeting allocation technique based on lobby, negotiation, discuss and argumentation.

Kata Kunci : Kebijakan Kesehatan,Anggaran Program Gizi,Data


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.