Laporkan Masalah

Pelaksanaan manajemen terpadu Balita sakit dan dukungan manajemen pada Puskesmas yang sudah mengikuti pelatihan di Kabupaten Tanah Datar Propinsi Sumatera Barat

ZEDRIANIS, Yesrita, dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA

2006 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kebijakan dan Manaj.

Latar Belakang: Pendekatan program perawatan balita sakit yang dipakai selama ini adalah program intervensi secara terpisah untuk masing-masing penyakit, sehingga menimbulkan masalah kehilangan peluang dan putus pengobatan pada pasien. Untuk mangatasinya pada tahun 1994 WHO dan UNICEF mengembangkan suatu paket yang memadukan pelayanan terhadap balita sakit satu paket tunggal yang disebut (Integrated Management of Chilhood Illness IMCI). Tahun 1997 IMCI mulai dikembangkan di Indonesia. Monitoring pelaksanaan MTBS bertujuan untuk mengetahui kendala yang timbul selama pelaksanaan MTBS dengan indikator utama petugas,sarana dan prasarana,pelatihan dan supervisi. Mengingat adanya petugas kesehatan untuk pelaksanan MTBS sangat berpengaruh pada pelaksanaan MTBS ,maka penulis ingin mengetahui dan memahami pelaksanaan MTBS dan dukungan manajemen di Kabupaten Tanah Datar, Studi dilaksanakan di Kabupaten Tanah Datar Propinsi Sumatera Barat dan hanya dilakukan pada dukungan manajemen dalam pelaksanaan MTBS. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional atau potong lintang dengan kuesioner, check list dan wawancara mendalam. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November sampai Desember 2005 pada 5 puskesmas yang sudah mengikuti pelatihan di Kabupaten Tanah Datar. Alat penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data validasi dan verifikasi adalah instrument berupa checklist, kuesioner dan wawancara mendalam. Langkah-langkah analisis data adalah sebagai berikut: presentasi data, analisis dan penafsiran data serta verifikasi data. Hasil Penelitian: Analisis kuantitatif menunjukkan bahwa ada hubungan bemakna antara pelatihan yang diikuti petugas dengan pelaksanaan MTBS (p= 0,02). Ketersediaan Sarana dan prasarana memiliki hubungan bermakna dengan pelaksanaan MTBS (p= 0,00). Pelaksanaansupervisi mempunyai hubungan yang bermakna dengan pelaksanaan MTBS (p= 0,00). Kesimpulan dan saran: Ada hubungan yang bermakna antara ketersediaan sarana dan prasarana dengan pelaksanaan MTBS, antara pelatihan yang diikuti petugas dengan pelaksanaan MTBS dan antara supervisi dengan pelaksanaan MTBS. Saran yang bisa diberikan agar puskesmas mempunyai ruangan khusus untuk pelaksanaan MTBS, serta pelaksanaan supervisi dijadwalkan dengan teratur.

Background: The approach for childhood illness care program currently in use is intervention program split for every disease so that it causes problems of losing opportunities and terminated medication for patients. To overcome the problem in 1994 WHO and UNICEF developed a package which integrated services to sick children called Integrated Management of Childhood Illness (IMCI). IMCI has been developed in Indonesia since 1997. Objective: Monitoring of IMCI implementation was meant to find out constraints faced during IMCI implementation with main indicators were health staff, facilities, training and supervision. Health staff greatly influenced implementation of IMCI therefore the researcher wanted to identify and understand the implementation of IMCI and managerial support at District of Tanah Datar. Method: The study used cross sectional design with questionnaire, check list and indepth interview. It was conducted from November to December 2005 at 5 community health centers at District of Tanah Datar. Reseach instruments used to collect validation and verification data were data presentation, analysis, interpretation and verification. Result: The result of quantitative analysis showed that there was significant relationship between training that staff had and implementation of IMCI (p=0.02). Availability of facilities had significant relationship with IMCI implementation (p=0.00). Supervision implementation had significant relationship with IMCI implementation. Conclusion and Suggestion: There was significant relationship between availability of facilities and IMCI implementation, between training followed by health staff and IMCI implementation and between supervision and IMCI implementation. Community health center should have special room for IMCI implementation, and supervision should be done regularly.

Kata Kunci : Manajemen Layanan Kesehatan,Perawatan Balita,Sarana MTBS


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.