Evaluasi proses pembelajaran keterampilan konseling bidan di Program Studi Kebidanan Padangsidempuan Politeknik Kesehatan Medan
RAMLAN, dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA
2006 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kebijakan dan Manaj.Latar Belakang: Salah satu kompetensi bidan yang harus dimiliki adalah kemampuan berkomunikasi dalam pelayanan kebidanan yang diberikan dengan pendekatan konseling. Oleh sebab itu, penyelenggaraan proses pembelajaran komunikasi dan konseling yang sesuai dengan rencana pembelajaran yang ditetapkan akan terkait dengan keterampilan konseling bidan sebagai peserta didik. Rendahnya persentase pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan (370), dan tingginya pertolongan persalinan melalui tenaga non kesehatan (465) mengindikasikan masih rendahnya keterampilan konseling bidan di Kecamatan Batang Angkola sebagai daerah penelitian. Tujuan: Untuk mengevaluasi proses pembelajaran keterampilan konseling bidan di Program Studi Kebidanan Padangsidempuan Polikteknik Kesehatan Medan. Metode: Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif eksploratif. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan informan bidan desa Puskesmas Pintu Padang sebanyak 4 orang. Kasubdin Kesga, Bidan Koordinator dan Ketua PC. IBI Kabupaten Tapanuli Selatan serta Dosen Prodi Kebidanan Padangsidempuan dan ibu hamil di Kecamatan Batang Angkola Hasil: Pelaksanaan proses pembelajaran di Program Studi Kebidanan Padangsidempuan belum sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan Depkes yang mengakibatkan rendahnya keterampilan konseling bidan. Hal ini didukung dengan kurangnya pelaksanaan pembinaan pendidikan yang dilakukan Politeknik Kesehatan Medan melalui kegiatan pengelolaan, penilaian supervisi dan pengawasan kepada Program studi Kebidanan Padangsidempuan. Dinas Kesehatan sebagai pembina dan pengawas program kesehatan serta PC. IBI sebagai organisasi profesi di Kabupaten Tapanuli Selatan belum pernah menyelenggarakan pelatihan keterampilan teknik konseling. Pengalaman kerja lebih banyak memberikan bekal dalam memperoleh pengetahuan dan keterampilan teknik konseling bagi bidan desa. Kesimpulan: Secara umum dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran mata kuliah konseling ternyata lebih banyak menekankan pada teori dari pada praktek sehingga keterkaitan proses pembelajaran yang benar akan berpengaruh terhadap keterampilan konseling yang dimiliki bidan. Sementara pelatihan keterampilan konseling dan kesempatan untuk mengikuti pengembangan jarang dilakukan oleh Dinkes selain keterampilan APN (Asuhan Persalinan Normal). Dalam meningkatkan keterampilan konseling, bidan lebih banyak belajar dari pengalaman sendiri dan orang lain maupun bidan koordinator.
Background: One of competences that midwives have to master is communication skill in providing midwifery services through counseling approach. Therefore, the implementation of communication and counseling learning process according to the established learning plan will affect midwives' counseling skills. Low percentage of birth assisstance by the health staff (370) and high percentage of birth assistance by non health staff (465) indicate low counseling skills of midwives of Subdistrict of Batang Angkola as location of the study. Objective: To evaluate counseling skill learning process of midwives at Midwifery Program of Padangsidempuan Health Polytechnic, Medan. Method: The study was explorative qualitative with purposive sampling technique. Samples consisted of 4 midwives of Pintu Padang Community Health Center, Head of Family Welfare Sub Office, Coordinating Midwives, Head of Indonesian Midwife association Branch Office of Tapanuli Selatan District, lecturers of Padangsidempuan Midwifery Program and pregnant mothers at Batang Angkola Subdistrict. Result: The implementation of learning process at Padangsidempuan Midwifery Program was not yet based on the curriculum established by the Ministry of Health so that counseling skills of midwives were low. This was worsened by lack of education supervision from Medan Health Polytechnic through management, supervision assessment and monitoring to Padangsidempuan Midwifery Program. The Health Office as the founder and supervisor of health program and Branch Office of Indonesian Midwife Association as professional association at Tapanuli Selatan District had never held counseling technique skill training. Counseling technique skills and knowledge of midwives were more often obtained from work experience instead. Conclusion: In general the learning process of counseling course was emphasized more on theory than practice. Meanwhile training on counseling skills and opportunities for development, except for normal birth care skills, were rarely held by the Health Office. Midwives more often gained their counseling skills from their own experience and other people as well as from coordinating midwives.
Kata Kunci : Manajemen Layanan Kesehatan,Pembelajaran Ketrampilan Konseling