Laporkan Masalah

Risiko disfungsi seksual pada perempuan pemakaian kontrasepsi Depo Medroxy Progesterone Acetate di Kabupaten Purworejo

EKARATNI, Maria Juliana Adrijanti, dr. Siswanto Agus Wilopo, SU.,MSc.ScD

2006 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kes. Ibu dan Anak-Ke

Latar Belakang: Sekitar sepertiga perempuan di dunia menderita disfungsi seksual dan hanya sekitar 10 persen saja yang mencari pertolongan serta mendapat pengobatan, padahal disfungsi seksual yang tidak segera ditangani akan berdampak pada kesejahteraan kesehatan reproduksi seorang perempuan. Suntik KB yang mengandung bahan aktif medroxyprogesterone acetate (MPA) diduga dapat meningkatkan risiko mengalami disfungsi seksual. Dengan terus meningkatnya peserta KB suntik dan belum diketahuinya prevalensi disfungsi seksual perempuan di Kabupaten Purworejo, maka perlu kiranya dilakukan penelitian mengenai masalah tersebut. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi disfungsi seksual perempuan, besarnya risiko disfungsi seksual pada klien suntik DMPA dibandingkan dengan perempuan yang tidak memakai kontrasepsi serta pengaruh umur, paritas, IMT, usia perkawinan, pendidikan, pekerjaan dan status ekonomi terhadap disfungsi seksual di Kabupaten Purworejo. Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan kohort retrospektif. Subjek penelitian adalah perempuan klien suntik DMPA sebagai kelompok terpapar dan perempuan yang tidak menggunakan kontrasepsi sebagai kelompok kontrol. Analisa data dilakukan dengan analisis univariabel dengan distribusi frekuensi, bivariabel dengan uji Chi-square dan multivariabel dengan uji regresi logistik dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. Hasil penelitian: Dari seluruh responden penelitian sebanyak 65,6 persen perempuan mengalami hasrat seksual disorder, 33 persen arousal disorder , 38 persen orgasme disorder dan 6,6 persen disfungsi seksual. Dari penelitian ini diketahui bahwa prevalensi klien DMPA dengan disfungsi seksual sebesar 5,7 persen. Pemakaian DMPA diketahui hanya meningkatkan risiko orgasme disorder (OR=1,5, 95 % CI 0,8 – 2,8). Risiko disfungsi seksual pada klien DMPA hampir sama dengan perempuan yang tidak menggunakan kontrasepsi (OR = 0,8, 95 % CI 0,3 – 2,1). Umur, paritas, usia perkawinan, pendidikan dan status ekonomi merupakan faktor risiko yang cukup penting dalam menyebabkan disorder atau disfungsi seksual. Kesimpulan: Pemakaian kontrasepsi DMPA meningkatkan risiko orgasme disorder namun tidak meningkatkan risiko disfungsi seksual. Umur, paritas, usia perkawinan, pendidikan dan status ekonomi merupakan faktor risiko yang penting dalam menyebabkan disorder dan disfungsi seksual pada perempuan usia subur di Kabupaten Purworejo.

Background: About one third of women in the world experience sexual dysfunction and only 10 percent seek care and received treatment. Actually the impact of female sexual dysfunction is not only on their sexual well-being but also on their overall well-being and that of society as well. DMPA injection known as contraceptive method might have increased risk of female sexual dysfunction. In Purworejo District number of women using DMPA is relatively high and increase continually while data on female sexual dysfunction are rare, therefore aim of this study was to investigate this issue. Objectives: The aim of the study was to measure the prevalence of female sexual dysfunction (FSD), to measure the relative risk of sexual dysfunction regarding to use of DMPA and to investigate a possible correlation between age, parity, Body Mass Index (BMI), education level, occupational status, economic status and female sexual function. Methods: A retrospective observational study of 106 women using DMPA and 106 women didn’t use any contraception methods in Purworejo. In order to measure the relative risk regarding the sexual function attributed to use DMPA as contraceptive method a chi square test and a logistic regression test was undertaken with significance rate p<005. Results: Within the total study population, 65.6 percent reported on desire disorder, 33 percent on arousal disorder, 38 percent on orgasm disorder and 6,6 percent on sexual dysfunction. This study found the prevalence of FSD among DMPA clients was 5,7 percent. The use of DMPA increased risk only for orgasmic disorder (OR=1,5, 95 % CI 0,8 – 2,8). The risk of became FSD between women using DMPA and not was almost same (OR = 0,8, 95 % CI 0,3 – 2,1). Age, parity, long of marriage, education and economic status are important risk factor. Conclusion: The use of DMPA increased risk of experience an orgasmic disorder particularly but didn’t increase risk of sexual dysfunction. Age, parity, long of marriage, education and economic status are important risk factor for experience sexual disorder and sexual dysfunction among women in Purworejo District.

Kata Kunci : Kesehatan Ibu,Kontrasepsi,Disfungsi Seksual, Female sexual dysfunction, DMPA, reproductive age


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.