Laporkan Masalah

Evaluasi terhadap proses donasi kesehatan di Kota Banda Aceh pasca bencana Tsunami

ADRIANI, Efi, Prof.dr. Laksono Trisnantoro

2006 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kebijakan Pembiayaan

Latar Belakang: Bencana tsunami yang melanda Propinsi NAD termasuk Kota Banda Aceh berdampak kebutuhan akan pelayanan kesehatan. Masalah pelaksanaan bantuan kemanusian adalah kurangnya koordinasi untuk menangani bantuan dan relawan yang berdatangan, obat-obatan yang kadarluarsa,rusak dan labelnya tidak jelas, posko kesehatan tidak mencukupi, bantuan tidak merata dan tidak tepat sasaran. Masalah dalam penanggulangan bencana adalah masalah kesiapan, yang hanya bisa diatasi dengan adanya suatu manajemen bencana yaitu sistem penanganan bencana yang baik . Alokasi APBN dan APBD yang tidak banyak berubah akan berdampak minimnya dana untuk program rehabilitasi dan rekontruksi pembangunan NAD. Oleh sebab itu pengoptimalan bantuan asing perlu mendapat perhatian serius. Tujuan Penelitian ini bertujuan mengetahui profil donasi, proses penyaluran dan peran pemerintah pusat dan daerah dalam penyaluran donasi kesehatan di Kota Banda Aceh fase tanggap darurat dan rehabilitasi. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian studi kasus yang bersifat deskriptif eksploratif, menjelaskan fenomena kontemporer (masa kini ) dalam konteks kehidupan nyata yaitu menafsirkan fenomena yang terjadi dengan menggunakan metode wawancara, pengamatan dan pemanfaatan dokumen. Hasil. Jenis donasi diberikan pada fase tanggap darurat bersifat kuratif dan darurat berupa obat-obatan dan jasa medis yang bertujuan menyelamatkan masyarakat yang masih hidup, mampu bertahan dan segera terpenuhinya kebutuhan dasar yang paling minimal sedangkan pada fase rehabilitatif bantuan yang diberikan bersifat pemulihan jangka panjang. Proses penyaluran bantuan fase tanggap darurat bantuan langsung kepada sasaran yaitu unit-unit pelayanan yang masih berfungsi dan masyarakat, sedangkan fase rehabilitasi sudah diberikan melalui Dinas Kesehatan. Peran yang dilakukan pemerintah pada fase tanggap darurat tidak terlihat karena pemerintah daerah yang lumpuh pada saat itu, sedangkan pada pada fase rehabilitasi pendonor yang memberikan bantuan sudah melibatkan Dinas kesehatan Kota Banda Aceh. Pemerintah pusat juga sudah membentuk Badan Rehablitasi dan Rekontruksi (BRR) yang mengkoordinir bantuan yang diberikan. Kesimpulan. Donasi pada fase tanggap darurat bersifat kuratif dan darurat dan disalurkan langsung ke sarana pelayanan kesehatan. Fase rehabilitatif bersifat jangka panjang dan sudah melibatkan Dinas Kesehatan

Background: Tsunami calamity that violently attacked Province of Nanggroe Aceh Darussalam, including Banda Aceh Municipality brought about increasing needs of health service. There are problems of aid delivery such as lack of coordination in handling donation and incoming volunteers; expired, damaged and unclearly labelled medicines; limited number of health posts; sporadic, and inappropriate aid distribution. The problem of disaster prevention is a matter of preparedness, which can only be done through disaster management, i.e. good disaster management system. Allocation of national as well as regional revenue and expenditure budgets which has not changed significantly may bring impact to limited fund rehabilitation and development reconstruction program of Nanggroe Aceh Darussalam. Therefore optimizing foreign donation should be given serious attention. Objective: The objective of the study was to identify donation profile, distribution process, and role of central and local government in the distribution of health donation at Banda Aceh Municipality during emergency and rehabilitative phases. Method: The study was explorative descriptive with a case study approach. It described contemporary (current) phenomena in the context of real life by interpreting phenomena that happened using interview, observation, and documentation methods. Result: Types of donation given during emergency phase were curative and consisted of medicines and medical services to save communities who were still alive, able to survive and fulfilment of least minimum basic necessities, whereas during rehabilitative phase the donation given was for long term recovery purposes. In terms of distribution process during emergency responsive phase the donation was distributed directly to the target, i.e. service units and the community, whereas during rehabilitative phase the donation was given through the Health Office. During emergency phase the local government did not take much role due to total destruction occurred whereas during rehabilitative phase the donor involved the Health Office of Banda Aceh. Central government had also established Rehabilitation and Reconstruction Council which coordinated the donation. Conclusion: The donation given during emergency phase was curative and distributed directly to health service units. During rehabilitative phase the donation was for long-term recovery and had involved the Health Office.

Kata Kunci : Kebijakan Kesehatan,Pembiayaan,Bencana Tsunami,Donasi Kesehatan, donation, disaster management, role of government


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.