Laporkan Masalah

Hubungan status gizi awal pasien anak balita yang diukur dengan metode Subjective Global Nutrition Assesment (SGNA) dengan lama rawat inap, status pulang dan kejadian malnutrisi di RSUD Pekanbaru

WAHYUNI, Sri, dr. Madarina Julia, Sp.A(K).,MPH

2005 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Gizi dan Kesehatan)

Latar Belakang : Data malnutrisi di rumah sakit menunjukkan 40-55% pasien yang dirawat inap mengalami malnutrisi atau memiliki resiko malnutrisi, 12% diantaranya malnutrisi berat. Rata-rata 48% pasien baru masuk dan dirawat inap menderita kurang gizi, setelah dirawat inap dua minggu akan meningkat menjadi 69%. Malnutrisi di rumah sakit ini mengakibatkan masa rawat pasien 90% lebih lama dibandingkan dengan pasien berstatus gizi baik. Kerugian lainnya adalah terjadinya komplikasi, angka mortalitas lebih tinggi, daya guna rumah sakit rendah serta kerugian non material lainnya. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui pengaruh status gizi awal pasien anak balita yang diukur dengan metode Subjective Global Nutrition Assessment (SGNA) terhadap lama rawat inap, status pulang, dan kejadian malnutrisi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pekanbaru. Metode Penelitian : Jenis penelitian adalah penelitian observasional, dengan rancangan penelitian studi cohort prospektif. Sampel penelitian adalah pasien anak balita yang dirawat inap di bangsal anak di Rumah Sakit Umum Pekanbaru, berusia 6-60 bulan, pasien dalam keadaan sadar, pasien baru dirawat inap dan tidak pulang atas permintaan sendiri. Data yang dikumpulkan adalah data asupan zat gizi pasien selama dirawat dengan menggunakan metode visual comstock dan food recall. Penilaian status gizi awal berdasarkan form SGNA, sedangkan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antara variabel independen dengan variabel dependen dilakukan analisis statistik bivariat uji chi square (X2), dan stratifikasi, dengan CI 95%, p<0,05 menggunakan program SPSS versi 10 for Windows. Hasil Penelitian : Status gizi awal pasien anak balita yang diukur dengan metode SGNA dapat mempengaruhi lama rawat inap di rumah sakit, status gizi awal sedang RR 2,52 sedangkan status gizi awal buruk RR 3,24. Status gizi awal buruk pasien anak balita yang diukur dengan metode SGNA dapat mempengaruhi status pulang di rumah sakit, status gizi awal buruk RR 3,34. Sedangkan status gizi awal sedang tidak mempengaruhi status pulang (nilai p > 0,05). Status gizi awal pasien anak balita yang diukur dengan metode SGNA dapat mempengaruhi kejadian malnutrisi rumah sakit, status gizi awal buruk RR 2,75, sedangkan status gizi awal sedang tidak mempengaruhi kejadian malnutrisi rumah sakit (nilai p > 0,05). Kesimpulan : Ada hubungan status gizi awal pasien anak yang diukur dengan metode SGNA terhadap lama rawat inap, status pulang, dan kejadian malnutrisi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pekanbaru.

Backgroud: Data of malnutrition in hospitals show that 40 – 55% of inpatients are undernourished or have risk of malnutrition, 12% of which belong to serious malnutrition. Average 48% of new arrival inpatients are undernourished, and after being hospitalized for two weeks the percentage increases to 69%. Malnutrition in hospital causes length of inpatient stay 90% longer than inpatients who have good nutrition status. Other disadvantages are occurrences of complication, high mortality rate, low hospital efficiency and other non material disadvantages. Objectives: To identify effect of preliminary nutrition status of children under five patients measured with Subjective Global Nutrition Assessment (SGNA) method to length of inpatient stay, discharge status and malnutrition occurrence at Pekanbaru Hospital. Methods: This was an observational research which used prospective study design. Samples were children under five patients hospitalized at children ward of Pekanbaru Hospital, aged between 6 to 60 months, conscious, new arrival inpatients, staying in hospital on their own request. Data collected were nutrient intake of patients during hospitalization using visual comstock and food recall methods. Assessment on preliminary nutrition status was based on SGNA form, whereas to identify whether there was effect between independent and dependent variables two analyses were conducted, i,e. chi square (x2) test bivariate statistical analysis and stratificasi with Cl 95%, p<0.05 using SPSS program version 10 for Windows. Results: Preliminary nutrition status of children under five patients measured with SGNA method could affect length of inpatient stay in hospital, medium preliminary nutrition status RR 2,52 whereas bad preliminary nutrition status RR 3,24. Bad preliminary nutrition status of children under five patients measured with SGNA method could affect discharge status, bad preliminary nutrition status RR 3,34. Meanwhile medium preliminary nutrition status did not affect discharge status (p>0.05). Preliminary nutrition status of children under five patients measured with SGNA method could affect malnutrition occurrence in hospital, bad preliminary nutrition status RR 2.75. Meanwhile medium preliminary nutrition status did not affect malnutrition (p>0.05). Conclusion: Preliminary nutrition status of patients measured with SGNA method affected length of stay in hospital, discharge status and malnutrition occurrence at Pekanbaru Hospital.

Kata Kunci : Gizi Anak,Pengukuran,Metode SGNA,Rawat Inap, nutrition status, SGNA method, children under five


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.