Hubungan stres kerja, suhu di ruang kerja, dan kadar Hb terhadap kelelahan kerja pegawai di Instalasi Binatu RS Dr. Sardjito Yogyakarta
RULIATI, Luh Putu, Dr.dr. Lientje Setyawati, MS.,Sp.Ok
2006 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Kerja (Kesehatan Kerja)Peranan Instalasi Binatu di Rumah Sakit sangat penting artinya di dalam menunjang pelayanan terhadap pasien. Bahaya lingkungan kerja di Instalasi Binatu dapat berupa bahaya psikososial yaitu stres kerja. Suhu yang tinggi di ruang kerja dapat mengakibatkan pegawai merasa panas dan lemas yang mempercepat timbulnya kelelahan, disamping itu pengaruh kadar hemoglobin terhadap kesehatan sangat merugikan karena dapat menurunkan produktivitas kerja dan menimbulkan kelelahan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stres kerja dengan kelelahan kerja; hubungan suhu di ruang kerja dengan kelelahan kerja; hubungan kadar hemoglobin dengan kelelahan kerja; hubungan stres kerja, suhu di ruang kerja, dan kadar hemoglobin terhadap kelelahan kerja pegawai di Instalasi Binatu Rumah Sakit Dr. Sardjito Yogayakarta. Penelitian ini bersifat observasional dengan menggunakan rancangan cross sectional. Subyek penelitian adalah pegawai di Istalasi Binatu yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 31 orang. Variabel bebas penelitian adalah stres kerja, suhu di ruang kerja, dan kadar hemoglobin, variabel terikat adalah kelelahan kerja. Analisis data menggunakan analisis regresi dengan menggunakan bantuan program SPS 2000, dengan tingkat kemaknaan (α) = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan pada analisis regresi ada hubungan yang sangat signifikan stres kerja dengan kelelahan kerja baik dengan pengukuran KAUPK2 dimana p: 0,006 maupun dengan pengukuran WRC dimana p: 0,005. Hasil analisis regresi tidak terdapat hubungan antara suhu di ruang kerja dengan kelelahan kerja baik dengan pengukuran KAUPK2 dimana p: 0,778, maupun dengan pengukuran WRC dimana p:0,713. Hasil analisis regresi tidak terdapat hubungan antara kadar hemoglobin dengan kelelahan kerja baik dengan pengukuran KAUPK2 dimana p: 0,635, maupun dengan pengukuran WRC dimana p:0,844. Terdapat hubungan yang signifikan antara stres kerja, suhu di ruang kerja, dan kadar hemoglobin secara bersama sama terhadap kelelahan kerja baik dengan pengukuran KAUPK2 dimana p: 0,049, maupun dengan pengukuran WRC dimana p: 0,032.
Role of laundry unit at hospital is very important mean in supporting service to patient. Environmental danger work in laundry unit can be in the form of the psychosocial danger that is work stress. High temperature in workroom can result the employees feel hot and weaken quickening incidence of fatigue, despitefully level of haemoglobin influence to health very harming because it can decreasing of work productivity and generate the work fatigue. This research is am at to know the relation between work stress and work fatigue; temperature in workroom and work fatigue ; level of haemoglobin and work fatigue ; work stress, temperature in workroom, level of haemoglobin relationship with work fatigue employees in laundry unit Dr. Sardjito hospital Yogyakarta. The research is an observational study with a cross sectional approach by applying at once observation. The subject on this research is that the laundry unit employees are known based on inclusion of 31 people. Independent variable on this research is work stress, temperature in workroom, and level of haemoglobin dependent variable is work fatigue. The data analysis uses regression analysis uses SPS 2000 with the defined meaning level ( α) = 0,05. The result of the research shows that at regression analysis has a very significant relation between work stress and work fatigue as a result of KAUPK2 measurement where p: 0,006 and also a result of WRC measurement where p: 0,005. The result of the regression analysis has no relation between temperature in workroom and work fatigue as a result of KAUPK2 measurement where p: 0,778, and also a result of WRC measurement where p: 0,713. The result of the regression analysis has no relation between level of haemoglobin and work fatigue as a result of KAUPK2 measurement where p: 0,635, and also a result of WRC measurement where p: 0,844. The result of the regression analysis between work stress, temperature in workroom, level of haemoglobin with work fatigue shows that there has significant relationshionship as a result of KAUPK2 measurement where p: 0,049, and also a result WRC measurement where p: 0,032.
Kata Kunci : Kelelahan Kerja,Stress dan Suhu,Kadar Hb, Work Stress, Temperature in Workroom, Level of Hemoglobin, Work Fatigue