Analisis Digital Citra ERS-2 dan Landsat-ETM untuk kajian dampak tumpahan minyak di kawasan Pesisir Selat Singapore
JAYA, Yales Veva, Dr. Prapto Suharsono, M.Sc
2005 | Tesis | S2 Penginderaan JauhCitra penginderaan jauh memenuhi kriteria yang dibutuhkan dalam menganalisis dan memetakan dampak tumpahan minyak karena adanya perbedaan karakter spektral antara minyak dan air. Untuk kegiatan kontrol dan monitoring komprehensif dalam lingkup spasial yang lebih luas, maka analisis citra penginderaan jauh membantu menentukan langkah-langkah yang akan diambil dalam penanganan tumpahan minyak melalui pola keruangan yang lebih jelas. Penelitian ini bertujuan untuk memaksimalkan pengekstraksian informasi citra penginderaan jauh untuk pemetaan tumpahan minyak dan ekosistem pesisir dan menyusun peta tingkat dampak tumpahan minyak. Dampak tumpahan minyak terhadap pesisir pantai sangat signifikan bergantung pada tipe pantai, sumberdaya biologi dan utilitas pesisir. Penilaian peringkat untuk masing-masing tipe habitat ditentukan atas dasar pertimbangan tingkat risiko kerusakan yang diterima oleh setiap tipe dan jenis sumberdaya. Penentuan klasifikasi tingkat dampak tumpahan minyak didasarkan pada kontaminasi minyak pada indek kepekaan pesisir. Selanjutnya pengelompokan zona dampak tumpahan minyak dibagi menjadi empat tingkat. Zona 1 menyatakan tidak terdapat resiko kerusakkan yang akan ditanggung oleh pesisir, zona 2 menyatakan tingkat dampak terrendah yang diterima oleh pesisir sedangkan zona 3 menyatakan tingkat dampak sedang dan zona 4 untuk tingkat dampak tinggi Citra ERS-2 menunjukkan bahwa setelah delapan hari tumpah, minyak telah menyebar merata dan menutupi hampir seluruh pantai utara pulau Batam dan pulau-pulau sekitarnya. Peringkat kepekaan pesisir pada sepanjang garis pantai kemudian dipetakan. Hasilnya ialah IKP 1 memenuhi pantai sepanjang 6.428 m, sedangkan IKP 2 sepanjang 1.117 m, IKP 3 sepanjang 12.924 m, IKP sepanjang 6 8.655 m, IKP 8 sepanjang 16.267 m, IKP 9 sepanjang 2.316 m dan IKP 10 sepanjang 84.026 m. Tidak ditemukan pantai dengan peringkat kepekaan pesisir 4, 5 dan 7. Sebesar 3.1% dari panjang pantai IKP 1 terkontaminasi minyak, sedangkan IKP 2 0.8%, IKP 3 8.4%, IKP 6 6.3%, IKP 8 9.6%, IKP 9 0.9% dan 36.1% panjang pantai IKP 10. Analisis akhir dari peta tingkat dampak tumpahan minyak terhadap kawasan pesisir di lokasi studi menunjukkan bahwa 65.417 m dari total panjang garis pantai, diklasifikasikan kedalam zona tanpa dampak, sedangkan 14.167 m berdampak rendah, 19.780 m berdampak sedang dan 45.055 m berdampak tinggi. Mengingat probabilitas terjadinya tumpahan minyak di Selat Malaka sangat tinggi sebagai akibat padatnya lalu lintas pelayaran internasional, maka respon terhadap peristiwa ini harus dilakukan secepat mungkin. Oleh karena itu rekomendasi yang diajukan ialah perlu suatu otoritas perencanaan penanggulangan tumpahan minyak regional (regional contingency plan).
Remote sensing image fulfill the criteria needed in analyzing and mapping the impact of oil spill because of differences spectral character between oil and water. For a comprehensive control and monitoring in a wider spatial scope, remote sensing image will help to determine the further steps to be taken to handle the oil spill through a clearest space pattern. This research objectives are to maximize remote sensing image information extraction for mapping of oil spill and coastal ecosystem and to arrange an oil spill impact stage map. The impact of an oil spill to the coast significantly depends on the type of the beach, biological resources and human resources utility. The rating judgment for each habitat type was determined base upon the grade of damage risk received by each type and resources. The classification determination of oil spill impact stage map was based upon the oil contamination on the coastal sensitivity index. The grouping of oil spill impact zone was divided to four stages. Zone 1 declared that there is no impact risk to the coast, Zone 2 declared the lowest impact accepted by the coast, Zone 3 declared the moderate impact and Zone 4 declared the highest impact. ERS-2 image showed that often eight days of spills, oil have spread over the place evenly and have covered almost all northern beach of Batam island and surrounding islands. The coastal sensitivity index along of the shore line was then mapped down. The result were IKP 1 full filled the beach for 6.428 m, while IKP 2 for 1.117 m, IKP 3 for 12.924 m, IKP for 6 8.655 m, IKP 8 for 16.267 m, IKP 9 for 2.316 m and IKP 10 for 84.026 m. There was no beach with coastal sensitivity index 4, 5 and 7. Oil was contaminating 3.1% of the shore length of IKP 1 while IKP 2 for 0.8%, IKP 3 for 8.4%, IKP 6 for 6.3%, IKP 8 for 9.6%, IKP 9 for 0.9% and 36.1% for IKP 10. The final analysis of oil spill impact stage map on coast at study location showed that 65.417 m of total shore line length was classified into no impact zone, while 14.167 m have low impact, 19.780 m have moderate impact and 45.055 m of high impact. Considering the high probability of an oil spill at Malacca Straits as a result of the crowded international sailing traffic, therefore the response to this event has to be done immediately the recommendation being proposed was the need of an authority of oil spill regional contingency plan.
Kata Kunci : Citra Radar,Citra ERS 2 dan Landsat ETM, Tumpatan Minyak dan Ekosistem Pesisir