Evaluasi penggunaan antibiotika pada penderita rawat inap di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode Januari-Desember 2004
WASUGAI, Suwarti, Dr. Imono Argo Donatus, SU.,Apt
2006 | Tesis | Ilmu Farmasi (Magister Farmasi Klinik)Ulkus diabetik merupakan salah satu masalah yang timbul dalam suatu terapi. Pasien diabetes melitus tipe 2 yang disertai dengan ulkus sering kali menimbulkan infeksi, yang berhubungan dengan komplikasi hiperglikemia, neuropati, angiopati, dan penurunan imunitas tubuh. Kuman penyebabnya adalah bakteri aerob Gram-positif berbentuk kokus/koki, bakteri aerob Gram-negatif batang dan bakteri anaerob, yang dalam pengobatannya menggunakan antibiotika. Penelitian ini bertujuan mengetahui pola dan jenis antibiotika serta mengevaluasi penggunaan antibiotika pada pasien rawat inap dengan ulkus diabetik, menggunakan kriteria evaluasi berupa kesesuaian, keefektivan, dan keamanan penggunaan antibiotika. Penelitian non-eksperimental yang berbentuk survei retrospektif dilakukan melalui rekam medik pasien dengan ulkus diabetik yang menjalani rawat inap pada bulan Januari sampai dengan Desember 2004 di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Penggunaan antibiotika dikaji dari data rekam medik tersebut kemudian dianalisis secara diskriftif kuantitatif dinyatakan dengan persentase. Jumlah pasien dengan ulkus diabetik periode Januari sampai dengan Desember 2004 yang diteliti sebanyak 58 pasien terdiri dari 66 kasus. Persentase pasien ulkus diabetik terbesar adalah kelompok umur 15 – 40 tahun (74%), kejadian terbesar pada laki-laki (52%). Penggunaan antibiotika terapi sebesar 100% (25 jenis antibiotika) dan terbanyak adalah seftriakson (21%), sebanyak (58%) pasien diresepkan dengan nama dagang. Penggunaan antibiotika empirik (75%) tidak sesuai guideline dan sebanyak (60%) diberikan secara parenteral. Berdasarkan kultur dan sensitivitas tes (82%) tidak sesuai dengan terapi empirik dan kuman penyebab terbanyak bakteri Gram- negatif aerob yaitu Enterobacter sp dan Proteus mirabilis (26%) dengan antibiotika paling sensitif imipenem 17% dan netilmisin 8%. Sebanyak (79%) regiman sesuai dosis dengan durasi pemakaian antibiotika terbanyak 4 – 7 hari (40%). Terapi antibiotika pada ulkus diabetik memberikan respon klinik turunnya demam (75%), respon klinik WBC normal (62%), menghasilkan kesembuhan sebesar (34%), dan membaik (44%). Terdapat 3 kasus (5%) efek samping obat pada penggunaan golongan aminoglikosida, dan 39% potensial interaksi obat. Dari hasil penelitian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa jenis antibiotika yang digunakan pada pasien dengan ulkus diabetik sudah sesuai dengan beberapa standar yang diacu, yang sering digunakan yaitu seftriakson (21%), metronidasol (19%), gentamisin (10%), siprofloksasin (9%), levofloksasin (5%) dan imipenem (5%). Pada penelitian ditemukan beberapa kasus interaksi yang potensial terjadi yang ternyata tidak berpengaruh dalam efektivitas maupun hasil pengobatan. Untuk menghindari efek samping yang tidak dikehendaki perlu dilakukan monitor serum kreatinin pada penggunaan aminoglikosida.
Background: Diabetic ulcus is one of problems emerging in a therapy. Patients of diabetes mellitus type 2 with ulcus often have infection related to hyperglycaemia complication, neuropathy, angiopathy, and decreasing physical immunity. Germs causing such complication are Gram-positive aerob bacteria of coccus type, Gram- negative aerob bacteria of bacillus type and anaerob bacteria which use antibiotics to cure the patients. Objective: The objective of the study was to identify patterns and types of antibiotics and evaluate use of antibiotics among inpatients with diabetic ulcus using evaluation criteria relevance, effectiveness, and safety of use of antibiotics. Method: The study was non-experimental of retrospective survey type conducted through medical record of patients with diabetic ulcus hospitalized in January to December 2004 at Panti Rapih Hospital, Yogyakarta. Use of antibiotics was observed from the medical record and analyzed quantitatively in descriptive way using percentage. Result: Number of patients with diabetic ulcus in January to December 2004 observed was as many as 58 patients consisting of 66 cases.The greatest percentage of patients with diabetic ulcus was the group aged between 15 – 40 years (74%), with greatest occurence in men (52%). Use of therapeutic antibiotics was as much as 100% (25 types of antibiotics) and the greatest (21%) was ceftriaxon, 58% of patients was prescribed with trade mark. Use of empirical antibiotics was 75% irrelevant with the guideline and as much as 60% was given parenterally. Based on culture and sensitivity of the test as much as 82% was irrelevant with empirical therapy and germ as the greatest cause was Gramnegative aerob bacteria i.e. Enterobacter sp and Proteus mirabilis (26%) with the most sensitive antibiotics were imipenem (17%) and netilmicin (8%). As much as 79% of regiment was relevant with the dosage with duration of antibiotic use the greatest was 4-7 days (40%). Antibiotic therapy in diabetic ulcus gave clinical response of decreasing fever (75%), normal WBC clinical response (62%), giving result in recovery (34%), and getting better (44%). There were 3 cases (5%) of drug side effect in use of aminoglycoside type and 39% potential in drug interaction. Conclusion: Types of antibiotics used in inpatients with diabetic ulcus were already relevant with some standards referred. Antibiotics most often used were ceftriaxon (21%), metronidazole (19%), gentamycin (10%), ciprofloxacin (9%), levofloxacin (5%) and imipenem (5%). There were some cases of interaction potential to occur which in fact did not affect effectiveness or result of medication. To avoid unexpected side effects, creatinin serum monitoring should be conducted in use of aminoglycoside.
Kata Kunci : Farmakologi Klinik,Obat Antibiotika,Evaluasi Penggunaan,infection, diabetic ulcus, use of antibiotics, evaluation of antibiotics