Pengaruh tradisi minum teh terhadap tingkat konsumsi teh pada masyarakat Kota Yogyakarta
ANDRIANTO, Christian Budi, Dr.Ir. Murdijati Gardjito
2006 | Tesis | S2 Ilmu dan Teknologi PanganPenelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui tingkat konsumsi teh dan faktor yang berpengaruh pada keputusan untuk mengkonsumsi teh dari masyarakat Kota Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan di Kota Yogyakarta dengan jumlah sampel yang diambil 200 sampel yang terdiri dari 40 sampel dari Kecamatan Kraton, 40 sampel Kecamatan Gondomanan, 40 sampel Kecamatan Jetis, 40 sampel Kecamatan Kotagede dan 40 sampel abdi dalem Kraton Yogyakarta. Teknik yang dilakukan untuk melakukan pengumpulan data dari responden adalah dengan menggunakan teknik wawancara dan metode pengambilan sample yang digunakan adalah metode Quota Sampling yaitu cara pengambilan sampel yang dilakukan dengan memberikan jatah tertentu pada tiap-tiap kelompok dan pengumpulan data dilakukan dengan cara langsung mengumpulkan data dari unit sample yang ditemui, setelah jumlahnya mencukupi maka pengumpulan data dihentikan. Dari penelitian didapatkan hasil bahwa untuk responden dari Kraton mempunyai tradisi minum teh karena sebanyak 87,5% responden mempunyai kebiasaan minum teh dan faktor utama yang menyebabkan kebiasaan minum teh adalah faktor turun-temurun (62,5% responden). Hal ini menunjukkan bahwa Abdi Dalem Kraton mempunyai tradisi minum teh. Sedangkan untuk responden dari Dalam Benteng dan Luar Benteng tidak mempunyai kebiasaan minum teh sebanyak 55% dan 61,7% responden mempunyai kebiasaan minum teh dengan faktor utama penyebab kebiasaan minum teh adalah faktor kegemaran (52,5% dan 55,9% responden). Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan minum teh yang ada di Dalam Benteng dan di Luar Benteng lebih disebabkan oleh faktor kegemaran dan bukan faktor turun-temurun sehingga kebiasaan minum teh yang ada bukan merupakan suatu tradisi. Tradisi minum teh berpengaruh pada tingkat konsumsi teh. Hal ini ditunjukkan pada tingkat konsumsi teh untuk masyarakat Dalam Benteng yaitu sebanyak 0,744 kg/kapita/tahun, masyarakat Luar Benteng sebanyak 1,057 kg/kapita/tahun, sedangkan tingkat konsumsi untuk Abdi Dalem Kraton sebanyak 2,364 kg/kapita/tahun.
The research aimed to identify tea consumption level and factors influencing on decisions to drink tea among people of Yogyakarta city. The research was conducted in Yogyakarta with 200 respondents involving 40 each taken from Kraton, Gondomanan, Jetis, Kotagede sub-districts and 40 other s from the Yogyakarta Palace servants (Abdi Dalem Kraton). Data collection technique was quota sampling method, namely sample were taken through the use of groups with given quotas and data were directly collected from unit sample observed. After sufficient proportions were achieved data collection were terminated. Results showed that respondents from the Palace indicated tea drinking tradition since 87.5% respondents had tea drinking and main factor leading to tea drinking habit was custom (62.5% respondents). This explains that the Palace servants preserve tea drinking tradition. Respondents from the Dalam and Luar Benteng (Inner and Outer Fortresses) with no tea drinking habit were 55%, while 61.7% respondents had tea drinking habit with hobby as the main causing factor (52.5 and 55.9% respondents). This indicated that existing drinking tea habit among those in Dalam and LuarBenteng were due to hobby rather than tradition. The tea drinking tradition influenced tea consumption level as showed from tea consumption level among those from Dalam Benteng, Luar Benteng and among the Palace servants of 0.744, 1.057, 2,364 kg/capita/year, respectively.
Kata Kunci : Pengolahan Teh,Konsumsi,Tradisi Minum teh,Tea, Tradition, Consumption Level