Analysis on the comparison of Capital Assets Pricing Model (CAPM) and Downside Capital Assets Pricing Model (DCAPM) on Jakarta Stock Exchange during 2000-2004
KUSUMASTATI, Widyahayu Warmmeswara, Prof.Dr. Jogiyanto HM., MBA
2006 | Tesis | S2 AkuntansiKusumastati, Widyahayu W (2006). Analysis on the Comparison of Capital Asset Pricing Model (CAPM) and Downside Capital Asset Pricing Model on Jakarta Stock Exchange (DCAPM) during 2000-2004. Jogjakarta. Faculty Ekonomi. Universitas Gadjah Mada. Banyak pihak yang meragukan kemampuan Capital Asset Pricing Model dalam memprediksi return. Hal ini dikarenakan beta sebagai satu-satunya faktor yang mengukur resiko sistematis dari sekuritas. Beta, mengukur resiko dari seluruh return yang melenceng dari garis pasar sekuritas, baik yang berada di atas garis pasar sekuritas maupun yang berada di bawah garis pasar sekuritas. Dalam kenyataannya, investor lebih menyukai return yang melenceng di atas garis pasar sekuritas daripada yang melenceng di bawah garis pasar sekuritas. Berdasarkan hal ini, apakah resiko yang diukur berdasarkan return yang melenceng di atas garis pasar sekuritas menjadi relevan? Karena itulah downside beta mencoba memberikan pencerehan dengan hanya mengukur resiko dari seluruh return yang melenceng di bawah garis pasar modal. Penelitian ini mencoba membuktikan apakah downside beta memiliki pengaruh yang lebih kuat pada rata-rata return daripada pengaruh beta pada rata-rata return. Selanjutnya penelitian ini juga mencoba membuktikan kemampuan Capital Asset Pricing Model dengan menggunakan downside beta (atau yang disebut dengan Downside Capital Asset Pricing Model) dalam memprediksi return. Penelitian dilakukan pada 50 perusahaan yang terdaftar pada Bursa Efek Jakarta selama 5 tahun. Hasil menunjukkan bahwa downside beta tidak memiliki pengaruh pada rata-rata return. Sementara itu, Downside Capital Asset Pricing Model juga tidak dapat memprediksi return lebih baik daripada Capital Asset Pricing Model.
Kusumastati, Widyahayu W (2006). Analysis on the Comparison of Capital Asset Pricing Model (CAPM) and Downside Capital Asset Pricing Model on Jakarta Stock Exchange (DCAPM) during 2000-2004. Jogjakarta. Faculty of Economics. Gadjah Mada University. Many parties are doubtful the ability of Capital Asset Pricing Model in predicting return. It is because of beta as the only variable that measure systematic risk of securities. Beta gives weight to upside and downside volatility of return to security market line. Actually, investors like upside volatility and dislike downside uplatility. Based on this reality, is beta still relevant as the risk measurer of return? Meanwhile, downside beta tries to measure risk below the security market line. This research tried to prove whether downside beta has more influence to mean return than beta does, Furthermore, it also tried to prove the ability of downside Capital Market Pricing Model in predicting return of the stocks. This research was done to 50 companies listed on Jakarta Stock Exchange during 2000-2004. It was resulted that downside beta did not has significance influence to mean return and Downside Capital Asset Pricing Model can not predict return better than Capital Asset Pricing Model does.
Kata Kunci : Return Saham,Downside Beta, Beta, Downside Beta, Capital Pricing Model, and Downside Capital Asset Pricing Model