Evaluasi efektivitas implementasi Program Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan (Gerdu taskin) di Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur
FANANI, Ahmad Zaenal, Dr. Muhadjir Darwin
2005 | Tesis | S2 Administrasi NegaraDalam rangka merespon reformasi taskin, pemerintah merumuskan program Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan (Gerdu Taskin). Program ini dilaksanakan dengan pola pendekatan tridaya, yaitu pertama, pemberdayaan manusia yang meliputi kegiatan: pelatihan/ketrampilan, pelayanan pendidikan dan kesehatan, penyuluhan dan pembinaan rohani. Kedua, pemberdayaan lingkungan meliputi kegiatan: pembangun MCK, jalan lingkungan, sarana air bersih, pemugaran pemukiman dan sanitasi lingkungan. Dan ketiga, pemberdayaan usaha meliputi bantuan modal usaha kecil, modal usaha bidang pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, dan kehutanan serta bantuan peralatan. Model dan pola pendekatan yang dipakai dalam program Gerdu Taskin di atas menarik untuk dikaji dan diteliti, terutama terkait dengan sejauh mana efektivitas implementasi program di lapangan dalam mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Bojonegoro dan faktorfaktor apa saja yang mempengaruhi efektifitas implemenasi program. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Teknik analisis datanya adalah deskriptif-kualitatif dengan unit analisis program Gerdu Taskin di Desa Cengkir dan Tlogorejo yang menjadi lokasi Gerdu Taskin tahun 2003. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi, wawancara secara mendalam (indept interview), dan observasi. Dalam penelitian ini, penulis membatasi variabel-variabel penelitian menjadi 4 (empat) variabel, yaitu 1 (satu) variabel tergantung (dependent variable), yaitu efektivitas implementasi program Gerdu Taskin dan 3 (tiga) variabel bebas (independent variable), yaitu (1) kualitas program; (2) kelancaran komunikasi; dan (3) ketersediaan sumberdaya. Dari hasil penelitian dapat ditarik beberapa kesimpulan: (1) Implementasi program Gerdu Taskin di Kabupaten Bojonegoro, khususnya kasus Desa Tlogorejo dan Cengkir, kurang efektif dan kurang; (2) Kegiatan pemberdayaan yang ada kurang mengakomodasi dan memberdayakan potensi lokal yang ada; (3) pengawasan, monitoring dan evaluasi terhadap program hanya berjalan efektif pada awal program dimulai, akan tetapi pada saat pelestarian program sesudah program selesai tidak berjalan lagi. (4) Tingkat pendidikan pengelola program Gerdu Taskin berpengaruh terhadap pola pikir dan daya pemahaman terhadap program Gerdu Taskin; dan (5) komunikasi dalam program Gerdu Taskin belum berjalan efektif, hal ini bisa dilihat dari intensitas sosialisasi yang rendah dan minimnya pemahaman Pengelola dan RTM terhadap program Gerdu Taskin.
In order to respond the poverty recovery reform, the government formulate the program Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan (Gerdu Taskin). The program is done by the triangle approach pattern; the first is human usage consist of training/skills, educational and health services, spionages and religious treatment, the second is enviromental usage consists of sanitation, enviromental road, clean water facilities, residental recovery, and enviromental sanitation. The third is business usage consists of small business capital support, argocultural business capital in ranch, fishery, and forestry also equipment support. Models and approach pattern which are used in the program above is interesting to analyze, especially if related with how far the program’s implementation effectivness in field may recover poverty in Bojonegoro and what factors that effects the program’s implementation effectiveness. The research uses qualitative method. The data analysis thechnique is qualitative-descriptive by locating the analysis unit of the program in Cengkir village and Tlogorejo in 2003. The data gathering method is documentation technical, indept interview, and observation. In this research, the writen limit the variables into four, one variable is dependent variable, which is Gardu Taskin implementation effectivness program and three independent variable, which are: (1) program quality, (2) communication smothness and (3) resources avaibility. From the result of this research, it can be concluded: (1) Gardu Taskin program implementation ini Bojonegoro, especially in Tlogorejo and Cengkir, is not very effective; (2) the activity of usages are not wellaccommodate and well-use the available local potention; (3) monitoring and evaluating the program one working effectively only at the beginning of the program, but it would not work after the program is persepved; (4) the educational level of the program’s officers attect the way of thinking and understanding of the program; and (5) the way of thinking and understanding of the program are not effectively work, this can be seen in the low socialization intensity and the officers understanding also the RTM of the program.
Kata Kunci : Kemiskinan,Program Gardutaskin,Implementasi,effectiveness, implementation, and poverty