Persepsi masyarakat terhadap malaria daerah endemis di Kabupaten Banjarnegara dan Jepara
SUHARJO, Prof.Dr.dr. Rusdi Lamsudin, MMed.Sc.,SpSK
2004 | Tesis | S2 Ilmu Kedokteran KlinikMalaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat terutama di daerah endemis Jawa Tengah, karena banyak menyerang usia produktif yang mengakibatkan menurunnya produktifitas kerja. Beberapa daerah yang termasuk endemis malaria diantaranya adalah Banjarnegara dan Jepara. Malaria di Banjarnegara pada tahun 2001 terutama di Desa Pagelak mempunyai API (annual parasite incidence) cukup tinggi, yaitu 143,8‰, sedangkan di Jepara tahun 2001 kasus tertinggi terjadi di Desa Bandung API sebesar 34,8‰. Berbagai upaya penanggulangan malaria telah dilakukan di daerah tersebut, tetapi hasilnya belum sesuai yang diharapkan. Sehingga perlu dilakukan penelitian sosial budaya tentang persepsi masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi masyarakat terhadap ancaman malaria. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Banjarnegara dan Jepara dengan menggunakan sampel sebanyak 200 responden yang dipilih secara sistimatik acak, dengan menggunakan rancangan potong lintang. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara kepada masyarakat dengan menggunakan kuesioner. Di samping itu juga dilakukan wawancara mendalam kepada sejumlah tokoh masyarakat dan tenaga kesehatan. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariate. Sedangkan analisis data kualitatif melalui analisis isi dengan cara membandingkan antar informan. Selanjutnya data dibuat dalam bentuk tabulasi silang dan disajikan secara deskriptif dan naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, proporsi persepsi responden yang baik terhadap ancaman malaria di Kabupaten Banjarnegara sebesar 63,0% sedikit lebih rendah dibanding dengan di Kabupaten Jepara yaitu sebesar 64,0%. Faktor sosiodemografi yang berhubungan dengan persepsi ancaman malaria di Kabupaten Banjarnegara dan Jepara adalah variabel umur (p=0,044). Pengetahuan responden di Kabupaten Banjarnegara dan Jepara tidak berhubungan dengan persepsi ancaman malaria (p=0,050). Persepsi kerentanan responden di Kabupaten Banjarnegara dan Jepara berhubungan bermakna dengan persepsi ancaman malaria (p=0,004). Persepsi keseriusan responden di Kabupaten Banjarnegara dan Jepara berhubungan bermakna dengan persepsi ancaman malaria (p=0,015). Faktor pemicu responden di Kabupaten Banjarnegara dan Jepara tidak berhubungan dengan persepsi ancaman malaria (p=0,418). Faktor yang paling berhubungan/mempengaruhi persepsi ancaman malaria di Kabupaten Banjarnegara dan Jepara adalah variabel umur dan persepsi kerentanan, tetapi yang paling dominan adalah variabel persepsi kerentanan (p=0,004). Disimpulkan bahwa pengetahuan dan persepsi responden terhadap ancaman malaria di kedua daerah penelitian belum memadai. Perencanaan program perlu memperhatikan persepsi masyarakat tentang malaria melalui penyuluhan. Penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk melihat perilaku masyarakat dengan membuat model penyuluhan yang tepat.
Malaria is still a major health problem to community in endemic areas of Central Java, which mostly attacking productive age and causing low working-productivity. Some areas which included malaria endemic are Banjarnegara and Jepara. In 2001, malaria at Pagelak Village, Banjarnegara, the annual parasite incidence (API) was as high as 143.8‰, and in the same year, in Jepara at Bandung Village the API was about 34.8‰. Many efforts had been done in the areas, yet the result was not as expected. Thus, a study on the sosio-cultural perception among community members is needed. The aim of this study was to understand some factors that have correlation with community perception about the threat of malaria. The study was done in Banjarnegara and Jepara District with 200 samples which were randomly selected. The design of this study was cross sectional using quantitative and qualitative approaches. Data were collected by interviewing the community using questionnaire, also by in-depth interview to some community leaders and health staffs. Data was analyzed by univariate, bivariate and multivariate. Qualitative data was compared between informants. Then, data was made to 2x2 table into descriptive, narrative form. The result of this study showed that proportion of respondent perception toward malaria threat in Banjarnegara District is 63.0% but lower compared to Jepara District that is 64.0%. The must significant socio demographic factors in relation with the perception of malaria threat in Banjarnegara and Jepara Districts is age variable (p=0.044). In Banjarnegara and Jepara Districts, knowledge of respondents was not correlated with perception of malaria threat (p=0.050). Perception about susceptibility, in Banjarnegara and Jepara District, has significant correlation with perception of malaria threat (p=0.004). In Banjarnegara and Jepara Districts, perception of respondent seriousness has significant correlation with perception of malaria threat (p=0.015). The trigger factor of respondents in Banjarnegara and Jepara District was not correlated with perception of malaria threat (p=0.418). The most related factors due to perception of malaria threat in Banjarnegara and Jepara Districts is age variable and susceptibility perception, but susceptibility perception variable is dominan (p=0.004). In conclusion, generally knowledge and perception of respondent to malaria threat was not good enough, so health promotion about malaria is needed. Further study should be done to see community behaviour and developing an appropriate counseling.
Kata Kunci : Epidemi Malaria,Persepsi Masyarakat, perception, community, malaria, endemic