Laporkan Masalah

Peran kompetensi emosi dan integritas moral Jawa dalam budaya organisasi terhadap kinerja yang dirasakan pegawai di Organisasi Pemerintah Daerah Yogyakarta

SIWI, Y. FR. Ari Aria Catur, Dr. Marcham Darokah, MA

2005 | Tesis | S2 Psikologi (Psikologi Industri Organisasi)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran integritas moral Jawa dalam budaya organisasi di organisasi Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta terhadap kinerja yang dirasakan pegawai dan kompetensi emosi pegawai. Subyek penelitian berjumlah 140 pegawai yang terdiri dari 88 pegawai staf di Departemen Pendidikan Propinsi dan 52 staf di Biro Umum Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Skala kompetensi emosi, skala integritas moral jawa dalam budaya organisasi dan skala kinerja yang dirasakan pegawai digunakan untuk mengukur level kompetensi emosi individual, integritas moral jawa dalam budaya organisasi dan kinerja yang dirasakan. Data ketiga skala tersebut dianalisis dengan menggunakan teknik analisis faktor. Hasil menunjukkan bahwa: (1) ada sepuluh faktor kompetensi emosi yang signifikan yaitu kompetensi orientasi pelayanan, kepemimpinan, kewaspadaan, kesadaran organisasional, adaptabilitas, manajemen konflik, katalisator perubahan, komunikasi, pengaruh, dan mengembangkan kelompok. (2) Ada delapan faktor integritas moral Jawa dalam budaya organisasi yaitu kaidah kekeluargaan, musyawarah untuk mufakat, ana bapang sumimpang, rukun agawe santosa, sepi ing pamrih rame ing gawe, hamemayu hayuning bawana, saiyeg saeko praya, dan basuki mawa bea. (3) Ada tiga faktor kinerja yang dirasakan pegawai yaitu kinerja kontekstual, kinerja tugas teknis -administratif, dan kinerja counter-produktif. (4) Semua faktor kompetensi emosi baik secara sendiri maupun bersama -sama merupakan prediktor signifikan bagi kinerja kontekstual yang dirasakan pegawai. (5)Semua faktor kompetensi emosi baik secara sendiri maupun bersama-sama merupakan prediktor signifikan bagi kinerja tugas teknis-administratif yang dirasakan pegawai. (6) Semua faktor kompetensi emosi baik secara sendiri maupun bersama -sama merupakan prediktor signifikan bagi kinerja counter-produktif yang dirasakan pegawai. (7) Semua faktor integritas moral Jawa dalam budaya organisasi baik secara sendiri maupun bersama-sama bukan merupakan prediktor signifikan bagi kiner ja kontekstual yang dirasakan pegawai. (8) Semua faktor integritas moral Jawa dalam budaya organisasi baik secara sendiri maupun bersama-sama bukan merupakan prediktor signifikan bagi kinerja tugas teknis-administratif yang dirasakan pegawai. (9) Semua faktor integritas moral Jawa dalam budaya organisasi baik secara sendiri maupun bersama-sama merupakan prediktor signifikan bagi kinerja counter-produktif yang dirasakan pegawai. (10) Tidak ada perbedaan yang signifikan antara tingkat kompetensi emosi dan tingkat kinerja yang dirasakan pegawai diantara Departemen Pendidikan Propinsi dan Biro Umum. (11) Ada perbedaan yang signifikan dalam hal kaidah kekeluargaan, ana bapang sumpimpang dan saiyeg saeko praya diantara Departemen Pendidikan Propinsi dan Biro Umum.

The purpose of this research was to recognize role of the javanese moral integrity on corporate culture at local governmental organization-Daerah Istimewa Yogyakarta for employee perceived performance. This research also was to recognize role of the emotional competence for employee perceived employee. Subject were 140 employee, consisted 88 staff in Provincial Education Department and 52 staff in Biro Umum of local governmental organization- Daerah Istimewa Yogyakarta. Emotional competence scale, javanese moral integrity on corporate culture scale and employee perceived performance was used to measured the level of individual emotional competence, javanese moral integrity on corporate culture and perceived performance. Each three scale was statisticaly analyzed to their own factors. 1. The result showed that (a) there was ten factors of emotional competence were service orientation, leadership, conscientiousness, organizational awareness, adaptability, conflict management, change catalyst, communication, influence, and developing others competence. (b) there was eight factors of javanese moral integrity on corporate culture were kekeluargaan, musyawarah untuk mufakat, ana bapang sumimpang, rukun agawe santosa, sepi ing pamrih rame ing gawe, hamemayu hayuning bawana, saiyeg saeko praya, and jer basuki mawa bea rules.(c). There was three factors of employee perceived performance were contextual, administrative -technical task, and counter-produktif perceived performance. (d).All emotional competence factors together were significant predictor for contextual perceived performance. (e). All emotional competence factors together were significant predictor for administrative-technical task perceived performance. (f). All emotional competence factors together were significant predictor for counter-produktif perceived performance. (g) All javanese moral integrity on corporate culture together weren’t significant predictor for contextual perceived performance. (h) All javanese moral integrity on corporate culture together weren’t significant predictor for administrative-technical task perceived performance. (h) All javanese moral integrity on corporate culture together were significant predictor for counter-produktif perceived performance. (i). There was no significant differentiation level of emotional competence and employee perceived performance both Provincial Education Department and Biro Umum. (j). There was significant differentiation level of kekeluargaan, ana bapang sumimpang and saiyeg saeko praya rules between Provincial Education Department and Biro Umum.

Kata Kunci : Kompetensi Emosi,Budaya Organisasi,Kinerja Karyawan, Factor Analysis – Emotional Competence – Javanese Moral – Indegenous Psychology – Corporate Culture


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.