Laporkan Masalah

Isolasi dan identifikasi senyawa antimikroba dari daun Elaeocarpus grandiflorus J.E. Smith

RAHMAN, Abdul, Dr. Subagus Wahyuono, Apt

1997 | Tesis | S2 Ilmu Farmasi

Di Indonesia banyak terdapat tumbuhan yang secara tradisional digunakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas antimikroba seperti pengobatan panu, kadas, disentri, obat luka dan borok. Di antara tumbuhan-tumbuhan yang dapat digunakan untuk tujuan tersebut ialah : Achyranthes bidentata Linn. (Amaranthaceae), Ardissia humilis Vahl. (Myrsinaceae), Borreria articularis (L.f.) F. N. Will. (Rubiaceae), Elaeocarpus grandiflorus J.E. Smith (Elaeocarpaceae), Euphorbia thymifolia Linn. (Euphorbiaceae), Hyptis capitata Jack. (Lamiaceae) dan Vitex negundo Linn. (Verbenaceae). Uji pendahuluan terhadap sari kloroform-metanol (1:1 v/v) dari tumbuhan-tumbuhan di atas dengan metode dilusi agar pada konsentrasi 1000 ?g sari/ml menunjukkan hanya sari daun Elaeocarpus grandiflorus yang memiliki aktivitas antimikroba terhadap Staphylococcus aureus dan Candida albicans namun tidak menunjukkan aktivitas terhadap E. coli (Wahyuono dan Rahman, 1995). Oleh karena itu diduga bahwa daun Elaeocarpus grandiflorus mengandung senyawa yang mempunyai aktivitas antimikroba sehingga dipandang perlu untuk melakukan isolasi, identifikasi dan penetapan potensi senyawa aktif tersebut.. Dengan diketahuinya struktur zat aktif maka dapat diprakirakan kemungkinan tahap lanjut untuk pemanfaatan zat aktif tersebut baik untuk penggunaan langsung ataupun untuk dikembangkan menjadi bahan yang lebih potensial sebagai bahan pengobatan terhadap infeksi. Serbuk kering daun (200 g) disari dengan cara maserasi selama 24 jam disertai pengadukan menggunakan 800 ml campuran kloroform : metanol (1:1 v/v). Ampas disari sekali lagi dengan cara yang sama kemudian filtrat digabung dan diuapkan dengan pengurangan tekanan dan dihasilkan 25 gram sari kental. Fraksinasi 10 g sari kental dengan n-heksana menghasilkan 2,754 g fraksi larut nheksana dan 7,198 g fraksi tak larut n-heksana.yang selanjutnya dilakukan uji aktivitas antimikroba dengan metode dilusi agar pada konsentrasi 1000 ?g /ml terhadap S. aureus dan C. albicans. Sebagai zat pembantu dispersi digunakan 0,1 ml campuran kloroform metanol (1:1 v/v) dan 0,4 ml DMSO per 19,5 ml media. Hasil uji menunjukkan bahwa fraksi tak larut n-heksana aktif terhadap S. aureus dan C. albicans sedangkan fraksi larut n-heksana tidak menunjukkan aktivitas antimikroba. Fraksi tak larut n-heksana (5 g) dipisahkan dengan metode kromatografi kolom menggunakan fasa diam 100 g silikagel 60 dan fasa gerak berturut-turut n-heksana; n-heksana : etil asetat (1:1 v/v); etil asetat; etil asetat : metanol (1:1 v/v) masing-masing 500 ml dan terakhir metanol. Eluat digabung berdasarkan kesamaan bercak kromatogram lapis tipis menjadi 7 fraksi (F1 sampai dengan F7) dan dilakukan uji aktivitas antimikroba dengan metode dilusi agar dengan konsentrasi 1000 ?g/ml dan didapatkan fraksi aktif adalah F3 (1,069 g) dan F5 (0,347 g). Uji aktifitas antimikroba terhadap F3 dan F5 menggunakan metode bioautografik kontak dengan penotolan masing-masing 100 ?g per spot menunjukkan terdapat bercak aktif pada kromatogram F3 dengan harga Rf=0,5 sedangkan pada kromatogram F5 tidak terdeteksi adanya bercak aktif. Satu gram F3 (2 x @ 0,5g) selanjutnya dipisahkan dengan metode kromatografi filtrasi gel menggunakan 30 g sephadex LH-20 dengan fasa gerak metanol menjadi 7 fraksi (F3.1 sampai dengan F3.7). Berdasarkan harga Rf bercak aktif diketahui bahwa senyawa aktif terdapat pada F3.5 (0,206 gram). F3.5 dimurnikan dengan metode kromatografi filtrasi gel menggunakan 30 g sephadex LH-20 dengan fasa gerak campuran kloroform :metanol (1:1) dan diperoleh isolat aktif 0,132 gram. Penetapan konsentrasi hambat minimum (MIC) isolat aktif terhadap S. aureus dan C. albicans dengan metode dilusi agar menghasilkan MIC terhadap S. aureus adalah 62,5 ?g/ml dan terhadap C. albicans adalah 125 ?g/ml. Isolat aktif memberikan bercak tunggal pada KLT dua arah menggunakan fasa diam silika gel dengan fasa gerak pertama campuran etil asetat : metanol : air (20:2,8:2 v/v + 1 tetes asam asetat 15%) dengan Rf = 0.5. Eluasi kedua menggunakan fasa gerak campuran etil asetat : metanol : air (10:2:1 v/v) dan menghasilkan bercak tunggal pada Rf = 0,9. Reaksi isolat aktif dengan FeCl3 menghasilkan warna biru kehijauan dan larutan isolat aktif dalam etanol menunjukkan serapan maksimum pada ? = 282 nm. Spektrum massa isolat aktif menggunakan metode (?)FAB menunjukkan adanya 4 ion molekul atau ion fragmen dengan massa dan intensitas relatif berturut-turut : 994 (60%), 951 (25%), 934 (14%) dan 918 (5%). Spektrum infra merah (pellet KBr) menunjukkan adanya gugus-gugus : -OH (3428 cm-1 , 1213 cm-1 ), -C=O ester (1717 cm-1 , 1038 cm-1 ) dan gugus aromatik (1614 cm-1 , 1444 cm-1 , 969 cm-1 dan 763 cm-1 ). Spektrum rmi 1H 500 MHz dalam aseton-d6 menunjukkan puncak-puncak serapan ( ? ppm dari standar TMS ) : gugus glukosa : {4,304 (dd ), 4,42 (m) total 1 H}; 4,792 (m 1 H); 4,944 (dd 1H); {5,42 (br s); 5,497 (dd), 5,522 (d), 5,568 (dd) total 3H}dan{6,554 (br s); gugus galoil : 7,205 (s 2H), gugus HHDP : {6,671 (s); 6,701 (s) total 1H}; {7,084 (s); 7,144 (s) total 1H}, gugus DHHDP : 5,170 (br s 1H ); { 6,247 (d); 6,527 (s) total 1H}; 7,262 (s 1H) dan sinyal gugus metoksi : 3,569 (s). Spektrum rmi 13C, 22,5 MHz dalam CD3OD menunjukkan 50 puncak serapan karbon. Berdasarkan hasil pembandingan spektrum isolat aktif dengan spektrum yang dilaporkan dalam pustaka disimpulkan bahwa isolat aktif mengandung senyawa-senyawa geraniin (C41H28O27, Mr=952) dan geraniin yang termetilasi (C44H34O27 Mr=994). Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun Elaeocarpus grandiflorus J.E.Smith mengandung geraniin senyawa golongan tanin dapat terhidrolisis yang memiliki aktivitas antimikroba cukup potensial untuk digunakan sebagai bahan pengobatan atau sebagai senyawa model untuk memperoleh senyawa antimikroba yang memiliki nilai terapetik lebih tinggi

-

Kata Kunci : Farmasi,Tanaman Obat,Uji Antimikroba,Daun Elaeocarpaceae


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.